
Davi dan Blevin hanya terdiam di depan pintu saat kepergian Audrey pagi itu.
"Dia hanya sedang tidak mood pagi ini." Sanggah Blevin menyingkirkan otak Davi yang mulai kriminal.
"Bukan sedang tidak mood dia marah pada mu, karena semalam aku mengajak mu ke club' dan pulang malam." Ucap Davi.
"Aku sudah terbiasa menghadapi Audrey." Mereka pun lanjut menikmati hari terakhir Davi di Indonesia.
Di tempat lain, Audrey bersama sekertaris barunya Gita menyiapkan beberapa berkas penting, Dio dan juga Aris ikut membantu.
"Kalian sudah menyiapkan semuanya kan? jangan sampai ada yang terlewat, kau tau klien kita saat ini adalah orang yang loyal." Ucap Audrey dengan nada tegas yang selalu ia tampilkan dalam setiap kali memimpin sebuah pekerjaan.
Mereka sedang menuju airport, di dalam perjalan Audrey terus saja menggerutu, wajah pucatnya masih terlihat jelas.
"Bapak butuh minyak angin?" tanya Gita yang bersebelahan dengan Audrey.
"Tidak, aku hanya sedikit mual, mungkin kecapekan." ucap Audrey tenang.
Untuk mencairkan suasana Audrey mengajak Gita berbicara tentang masalah pribadi.
"Sudah punya kekasih?" tanya Audrey.
"Belum pak, saya masih fokus dengan karir." Jawab Gita polos.
"Menurut mu seorang pria harusnya bertindak seperti apa jika sudah menjadi suami?" tanya Audrey.
"Kalau menurut saya, seorang suami harus mampu mengayomi dan memberi kenyamanan bagi istrinya, mau bagaimana pun seorang suami adalah seorang pemimpin yang harus memegang kendali dalam rumah tangga."
"Lalu bagaimana jika kamu dihadapkan dalam situasi menjadi istri yang terpaksa."
"Maksud bapak?"
"Terpaksa menjadi istri seseorang?"
__ADS_1
"Jika sudah terlanjur menikah sebaiknya saya menerima, dan melihat bagaimana cara suami saya memimpin dan meyakinkan saya, jika dia adalah pria baik, mungkin perlahan saya akan menerimanya."
"Smart!" Ucap Audrey singkat lalu keduanya sampai di tempat tujuan, Audrey membawa koper dan tas berisi perlengkapannya presentasi, sementara Gita membawa koper miliknya.
Mereka naik taksi untuk sampai ke hotel yang akan mereka tempati 7 hari ini.
"Istirahat saja dulu Gita, nanti pukul 2 kita bertemu kembali di lobby, kita akan bertemu dengan para klien kita."
"Baik pak, selamat beristirahat." ujar Gita polos, bagaimana dia tidak polos jika usianya saja 4 tahun di bawah Blevin, berarti sekitar 22 tahunan.
Audrey melihat layar ponselnya lagi lagi dia tersenyum melihat foto pernikahan yang menjadi layar depan ponselnya.
"Dia masih tidak mengabari ku? dasar tidak peka."
Setelah beristirahat sebentar Audrey dan Gita menemui kliennya, dan dia juga turun langsung ke lapangan tempat pembangunan hotel baru yang akan menjadi tanggung jawab dirinya selama beberapa bulan kedepan.
Di sisi lain Blevin mengantarkan Davi menuju airport, sore ini Davi akan segera pergi ke Bangkok untuk menjalankan operasi transgender.
"Kau harus jaga dirimu baik-baik Davi, selamat sudah menemukan cinta mu yang selama ini kau cari." ucap Blevin saat Davi memeluknya.
"Kau sudah siap menjadi wanita, setelah ku ceritakan semua bagaimana tangguhnya menjadi seorang wanita bukan? kau harus sabar menghadapi semuanya, untungnya keluarga ku sangat memotivasi ku agar semakin kuat menghadapi Audrey."
"Ya... aku tau, nanti ketika kita bertemu, ku harap bayi mu sudah lahir."
"Pasti dia akan senang bertemu dengan mu." ucap Blevin melepas Davi.
Blevin kembali ke kediamannya, sepanjang jalan Blevin tersenyum memandangi jalan tol yang tidak begitu padat.
"Apakah aku menyusul Audrey saja ya?? lagi pula aku kesepian jika harus di rumah sendirian." Gumam Blevin dalam hatinya, kini dia mulai bergantung pada Audrey.
Sesampainya di rumah ia kedatangan ibu mertuanya.
"Ibu, sejak kapan datang?" sapa Blevin seraya mengecup kedua pipinya.
__ADS_1
"Baru saja, dari mana?"
"Mengantar teman ku ke Airport, ibu sehat? dimana ayah?"
Mereka duduk berdampingan di ruang televisi.
"Ayah ada di rumah, kami sehat, bagaimana kabar mu? dimana Audrey?"
"Audrey sedang keluar kota selama seminggu, aku baik." Ujar Blevin menanggapi ibu mertuanya.
Blevin sesaat terdiam,
"Ada apa sayang?" tanya sang mertua yang penasaran.
"Pernah merindukan seseorang yang sebenarnya sangat menyebalkan?" tanya Blevin agar ibunya tidak mengetahui apa yang dia rasakan.
"Kau merindukan anak ku?" tanya sang mertua, Blevin lagi lagi terdiam.
"Audrey sedang marah pada mu ya?"
"Ibu tau itu?"
"Ya... jika dia tidak sedang marah mungkin wajah mu tidak akan cemas seperti itu, Blevin, berdamailah dengan hati dan fikiran mu, setelah itu baru kau bisa berdamai dengan Audrey...
ibu tau sulit menjadi dirimu yang belum mencintai dia."
"Ibu, aku sudah melupakan semua di masa lalu, saat ini aku hanya mau semuanya baik² saja tapi anak mu itu terkadang membuat ku serba salah sampai aku tidak tau bagaimana cara untuk masuk kedalam hidupnya."
"Kau sudah terlanjur masuk, lihatlah caranya untuk memantaskan diri demi bersanding bersama mu, dia berjuang bekerja keras demi membangun semuanya, ibu mohon lunturkan segala ego mu demi semuanya."
"Baiklah Bu, aku akan menghubungi dirinya nanti, aku akan meminta maaf, mungkin memberi kesempatan untuk ku mengenalnya lebih dalam lagi."
"Sekarang istirahatlah wajah mu sepertinya lelah."
__ADS_1
Akhirnya Blevin menuju ke kamar milik Audrey, dia menghirup aroma Audrey begitu ketara di sini.
"Maaf." ucapnya lirih memandangi foto di dinding kamarnya foto Audrey bersama dirinya dalam balutan gaun pernikahan.