
Aku mencoba menenangkan pikiran ku sejenak, pria gila itu sudah kelewat batas, dia selalu mengerjai ku dan kalian tau, dia juga selalu saja mengancam akan macam macam dengan ku.
Treakkk... pintu terbuka.
"Ayo, makanan mu sudah mulai dingin, kau harus makan, setelah itu minum obat dan istirahat." Lagi dan lagi dia datang ke kamar ku dan menyuruh ku makan, sendok dan piring di genggamannya pun ku tepis.
"Makan saja sendiri, aku tidak sudi makan masakan yang terkena noda tangan mu!" ucap ku kasar, mata ku teralih dari wajahnya, aku malas melihatnya.
Dia memalingkan wajah ku untuk menatapnya, sedikit penolakan dari ku dan akhirnya dia kembali dalam mode kesalnya.
"Jangan menyusahkan orang tua mu lagi Blevin, kau mau membuat mereka repot dengan mengurus satu orang lagi di rumah ini?" ujarnya, iya juga ah... tapikan di rumah ini bukan hanya ibu seorang yang mengurus, ada banyak pembantu di rumah ini, tidak seperti di apartemen sempit dan kumuh milik pria itu.
Aku menatapnya tapi, kali ini dengan tatapan kemarahan yang sudah mencuat sampai ke ubun-ubun ku.
"Jangan pernah urusi urusan ku, dan kau bukan siapa-siapa untuk ku!" ujar ku.
"Oh ya... aku memang tidak ada artinya untuk wanita seperti mu nyonya sombong, tapi kita lihat saat semua orang tau apa yang sebenarnya terjadi, nama mu bahkan nama keluarga mu tidak akan pernah bersih lagi di negara ini!" dia mulai tegas, apa yang ingin dia katakan pada seluruh orang? apakah?
"Kau mau mengatakan pada semua orang jika aku pernah berusaha untuk menjual mu, terlibat dalam pesta narkoba dan kau, akan memberi tau semua orang bahwa akulah yang berselingkuh didalam hubungan ini?!!" aku berteriak sepertinya setelah ini suara ku akan habis.
"Pernahkah sedikit saja tidak membuat orang lain kecewa? pernah tidak sekali saja tidak membuat kedua orang tua mu susah, atau pernahkah kau berfikir tentang harga diri orang lain? kau tidak pernah memikirkannya, kau hanya mementingkan egois mu semata!"
Benar! ya... itulah aku, semua orang seakan hanya melihat dari apa yang pernah ku lakukan tapi tidak pernah bertanya bagaimana tentang perasaan ku.
__ADS_1
Semua orang hanya tau aku membuat ulah tanpa tau sebabnya.
"Ya... kau benar! hebat tuan Audrey, silahkan saja kau beberkan aib ku, silahkan bahkan aku tidak akan takut dengan ancaman mu! tapi satu hal yang perlu kau tau tuan, kau tidak akan pernah mengetahui semua alasan yang ku lakukan selama ini, kau akan sama seperti ku jika, aku ditanyai tentang alasan ku, semua akan terbalik!" Ujar ku dengan perasaan yang sudah sedikit tenang.
Dia menatap ku dengan intens, dia menyingkirkan piring dari tangannya meletakkannya di nakas.
"Ya, kau punya alasan untuk semua itu, katakan pada ku apa alasan mu melakukan semua itu saat berada di Amerika dulu, apakah kau merasa tersakiti oleh sesuatu hal?" tanyanya mulai melembut.
Aku hampir saja bercerita padanya, selama ini tidak ada yang pernah mendengar ku, bahkan Davi sekali pun, sejak Davi dan aku berpisah satu tahun lalu, aku bahkan tidak punya teman lagi selain Zain, aku mendapatkan semua kehangatan dari Zain, maka dari itu aku nyaman dan bahagia saat bersama Zain.
"Tidak usah mencari taunya dari diriku sendiri tuan, jika kau pintar maka temui sendiri alasannya." Dengan membawa tiang infus, aku tertatih menuruni anak tangga, aku akan menyetabilkan emosi ku dulu, bisa bisa aku menangis dan terlihat lemah dihadapan iblis itu.
Dan di sinilah aku, di taman belakang rumah ku, menatap bintang bertemakan ponsel, dan setelah beberapa menit termenung layar ponsel ku menyala, aku melihat nama kontaknya ternyata Zain.
"Hai, Bebe, bagaimana keadaan mu, maaf aku baru bisa menghubungi mu, kejadian malam itu membuat ku sedikit takut untuk menghubungi mu."
"Tidak apa, oh ya, apakah kau jadi untuk pergi ke Manchester?" tanya ku dengan sedikit sedih.
"Ya, mungkin seminggu lagi, jaga dirimu baik baik Babe."
"Bagaimana bisa aku baik baik saja jika kehilangan mu, berapa lama memang perjalanannya?" ucap ku sedih, aku akan kehilangan teman lagi kali ini.
"Mungkin dua bulan, dan bisa juga lebih, kontrak ku disana sebenarnya lebih dari itu, kau Taukan perusahaan yang ku naungi, bukan perusahaan yang main main."
__ADS_1
"Ya, Zain jaga saja hati, mata dan dirimu dari para wanita disana, aku selalu berdoa semua yang terbaik untuk mu." aku sedikit terisak sekarang.
"Babe, jangan menangis, kau tidak akan kehilangan ku, tenang saja semua tentang diriku itu milik mu, tapi tidak tau dengan mu, kau memilih dia atau aku pada akhirnya."
"Zain... aku mencintai mu, aku tidak mungkin mencintai dirinya, seluruh nyawa dan hidup ku hanya untuk mu, meskipun perlakuan ku begitu terhadap mu, tapi percayalah aku mencintaimu." ucap ku tulus dari dalam hati.
Cukup lama kami berbincang sampai akhirnya telpon terputus dan aku sedikit memiringkan kepala ke kursi taman yang sedang ku duduki.
Mata ku kembali terbuka saat jam dinding menunjukkan pukul dua malam, rasa haus menghampiri tenggorokan ku, aku mengambil air di nakas, tapi...
Kenapa aku berada di kamar? seingat ku aku berada di taman belakang tadi, apakah? ya... aku tau, aku melihat si iblis itu ada di sofa, aku yakin dia yang membawa ku kembali ke kamar.
Sebenarnya tidak ada alasan untuk ku, aku tidak begitu membenci dirinya sebenarnya, tapi dia telah bermain terlalu jauh pada ku, meski aku yang paling disalahkan dalam permainan ini, aku yang memulainya.
Dua tahun lalu, tepat di hari ulang tahun ku, aku bertemu dengan Zain di Amerika, aku dan Zain mengadakan pesta untuk perayaan ulang tahun ku, tapi entah mengapa, salah seorang teman kami ternyata pengguna obat terlarang, aku hampir saja menggunakan obat itu, tapi kau tau apa yang terjadi?
Audrey datang dan membawa ku pulang tanpa menjelaskan apapun pada kakek, bahkan dia beralasan bahwa dialah yang sengaja mengajak ku pergi sampai selarut itu.
Keesokan harinya para polisi datang karena menemukan tas ku di tempat kejadian, kakek bertanya apakah yang sebenarnya terjadi, Audrey masih tidak menjawab.
Setelah aku mengikuti serangkaian tes, aku negatif dan di bebaskan, lalu kakek tetap bertanya dan marah pada Audrey.
Mungkin Audrey sudah tidak bisa berbohong lagi dan dia mengatakan semuanya, aku yang sering pergi ke club', mengadakan pesta di sana dan juga kejadian malam itu, kakek marah besar dan menghukum ku, aku tidak boleh keluar dari rumah bahkan semua alat komunikasi ku diambil alih oleh kakek, dan dari sana obsesi ku semakin besar untuk membalas Audrey.
__ADS_1