Stuck On You

Stuck On You
1. Nadin Audi Putri


__ADS_3

Hari Senin. Hari yang paling menyebalkan bagi anak sekolah. Dimana harus berdiri berpanas-panasan dibawah teriknya matahari. Ya, upacara bendera selalu menjadi hal yang tidak disukai. Sepertinya hampir semua anak sekolah setuju dengan fakta itu. Begitu juga dengan Nadin.


Nadin Audi Putri. Siswi SMA Bhineka. Ia yang masih bergelung dengan selimut tebalnya. Jam alarm yang berada di meja nakas disebelah ranjangnya sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Akan tetapi Nadin masih memejamkan matanya. Makin mengeratkan selimut, dengusnya jengkel mengingat hari ini adalah hari senin. Mata indahnya terbuka pelan. Melihat kearah jam weker dimeja sebelahnya.


Ia mendudukan tubuhnya, mengulet, lalu mengucek mata indahnya. Lalu melangkah turun dari ranjangnya dengan langkah malas kearah kamar mandi. Kurang dari 10 menit, Nadin sudah selesai dengan mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan setelan lengkap seragam putih abu-abunya. Lalu berjalan kearah meja riasnya. Mengambil bedak bayi di telapak tangannya, lalu meratakan diwajahnya. Mengambil lip balm, memakainya. Hanya seperti itu riasan yang selalu ia pakai jika berangkat kesekolah.


Setelah dirasa sudah siap semua, Nadin keluar kamaruntuk mengisi perutnya. Ia berhenti diujung tangga. Menatap kearah meja makan. Tidak ada mama dan papanya. Seperti biasa. Ia menghela nafas kasar. Nadin seolah sudah terbiasa tanpa kehadiran orang tuanya disetiap pagi hari.


Nadin jarang sekali mengobrol, bahkan berinteraksi secara detail dengan orang tuanya. Mama Papanya tipekal orang tua yang gila kerja. Bahkan mereka hanya bertemu di weekend saja.


Keluarga Nadin bukan keluarga goals seperti yang teman-temanya punya. Seorang ibu yang menyiapkan sarapan di pagi hari, Seorang ayah yang membaca koran sembari menyesap kopi diruang keluarga. 'Hm, hanya akan ada di mimpi gue doang' batinnya


"Pagi, Non" sapa bi Inah. Wanita paruh baya sekaligus sebagai ART yang sudah ada sejak Nadin bayi


Nadin tersenyum tipis "Pagi, Bi"


"sarapannya sudah siap, Non. Ada nasi goreng kesukaan, Non" ucap Bi Inah


Setelah mendapat anggukan dari Nadin, Bi Inah kembali ke dapur. Menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda


Nadin mendekati meja makan. Disana sudah tersaji sepiring nasi goreng dan segelas air putih.


Dentingan antara sendok dan piring yang dipakainya terdengar nyaring. Karena hanya ada Nadin di ruang makan. Rumahnya selalu sepi. Hanya ada bi Inah dan mang Yudi, supir pribadi keluarganya sekaligus suami bi Inah.


Orang tuanya berangkat bekerja sebelum Nadin bangun, dan pulang setelah Nadin sudah tertidur. Selalu seperti itu. Jika memikirkan persoalan itu, membuat Nadin tidak berselera untuk menghabiskan sarapannya. Ia mengambil ransel yang berada di kursi makan sebelahnya, lalu beranjak untuk ke sekolah diantar oleh mang Yudi


"sudah siap berangkat, Non?" tanya mang Yudi yang sedang duduk di depan mobil yang sedang dipanasi


Nadin mengangguk singkat "iya, Mang". Lalu keduanya memasuki mobil dan menuju ke sekolah Nadin.


 



 


Jalan raya pagi ini terlihat ramai. Mengingat di jam-jam seperti ini adalah jam sibuk orang-orang masuk kantor dan anak- anak pergi kesekolah. Membutuhkan waktu 20 menit untuk Nadin sampai di sekolah.


"Selamat pagi, nona kutub" sapaan itu berasal dari Karel. Ntah dari mana datangnya, Karel. Setiap Nadin


Nadin hanya melirik Karel sebentar, lalu melanjutkan jalannya menuju kelas.

__ADS_1


Nadin sudah terbiasa sejak 3 bulan lalu dipanggil seperti itu oleh Karel. Kadang ia berpikir, kenapa Karel mengenalnya, sedangkan ia sama sekali tidak mengenal cowo menyebalkan itu.


Cowok yang selalu menyapa Nadin dengan sebutan 'Nona Kutub',menghampiri Nadin ketika Nadin sedang menikmati makannya di kantin, hingga menawarinya tumpangan ketika pulang sekolah. Meskipun sudah ditolak mentah-mentah, Karel sepertinya tidak pernah bosan untuk mengganggunya untuk sehari saja.


"Nad, bales kek sapaan gue" ucap Karel yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Nadin


Nadin hanya diam dan meneruskan jalannya. "lo setiap hari sariawan apa" cetetuk Karel


"ntar deh gue kirimin obat sariawan kerumah lo sekardus" ujar Karel lagi


"Nad"


"Nadia"


Karel beberapa kali memanggil Nadia yang semakin mempercepat langkahnya. Karel berdecak kesal sembari berkaca pinggang " susah banget sih deketin si kutub itu"


 


\*


 


Dita mengelus dadanya pelan "kampret lo Nad. Ntar kalo gue jantungan gimana"


Nadia lalu duduk dikursinya dengan muka kesal "bodo"


"dih, ini bocah kenapa sih. masih pagi udah sepet aja mukanya" ucap Dita mengernyitkan alisnya bingung


"temen lo tuh, nyebelin" jawab Nadia singkat


Dita makin mengernyitkan alisnya "temen? temen yang mana?


Nadin menghela nafasnya lalu menatap Dita disebelahnya yang juga sedang menatapnya dengan bingung " cowok kelas sebelah. si troublemaker"


Seketika Dita tertawa. Mengerti orang yang sedang dibicarakan oleh Nadin "ohh Karel"


"Gangguin lo lagi?" tanya Dita setelah tawanya reda


Nadin memutar matanya malas "iyalah"


Melihat wajah Nadin yang semakin ditekuk, membuat Dita tertawa lagi "apa lagi yang dia kirim kerumah lo? pembalut satu kardus?" tanya Dita meledek

__ADS_1


Taakk


Satu sentilan bersarang di dahi Dita. Bukannya ilang rasa kesalnya dengan berbicara ke sahabatnya, Nadin malah bertambah kesal karena Dita ikut meledeknya


"dia bilang mau ngirim obat sariawan ke gue" Ujar Nadin malas


Dita mengelus dahinya yang masih terasa sakit akibat sentilan Nadin "tingkah ajaib si Karel gila banget gak ada abisnya"


"kenapa dia mau ngirim obat sariawan ke lo?"


"gara-gara gue gak ngomong sama dia" jawab Nadin


Lagi-lagi Dita dibuat tertawa oleh cerita sahabatnya itu "lagian lo irit ngomong sih kalo bukan sama gue"


"gue sentil lagi nih jidat lo kalo masih ngakak gitu" ancam Nadin


seketika Dita diam. dahinya saja masih sakit akibat sentilan Nadin tadi "ya kan bener, Nad. Nih ya, terima aja obat sariawannya, ntar kita jual, kan dapet duit"


"gila lo"


"yee, nih anak kalo diomongin susah banget"


"gak gitu juga, Dit"


"dapet duit loh, Nad"


Taakk


satu sentilan lagi diberikan Nadia ke dahi Dita. Emang kadang-kadang suka konslet tuh saraf kepala Dita. Harus diservis pikirnya


"Nadiaaaa. lo mah gitu" rengek Dita sembari memegang dahinya yang terasa panas akibat sentilan Nadia


"obat lo abis deh keknya, Dit" ucap Nadia


Dita memukul bahu Nadin "sembarangan lo"


sekarang giliran Nadia yang menahan tawanya. Berhasil membuat Dita kesal.


Obrolan keduanya terputus karena bel masuk sudah berbunyi. Teman-teman yang lain mulai keluar kelas menuju lapangan. Ya, mereka akan melaksanakan upacara


"ayo lah. Kalo telat baris, bisa berabe kita" ucap Dita menarik tangan Nadin yang sudah menenteng topinya

__ADS_1


__ADS_2