Stuck On You

Stuck On You
Dimana Dia (Richard)?


__ADS_3

Aku sedang merindu..


Bukan untuk sesuatu yang hilang,


Tapi sesuatu yang berubah dan tak lagi sama.


"Bagaimana keadaan Pak Richard Dok?" tanya Fabian dengan nada khawatir.


"Pak Richard masih kritis. Karena kepala yang terbentur sangat keras maka kemungkinan dinding otak mengalami cedera berupa retak. Tindakan selanjutnya setelah Pak Richard melewati masa kritis dulu," jelas dokter tersebut.


"Terima kasih, Dok.." ucap Fabian pada dokter tersebut.


"Sama-sama." Dokter itu melangkah pergi meninggalkan Fabian yang diam di tempatnya dengan berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya.


Fabian mengusap wajahnya kasar. Dalam hatinya memohon agar Richard mampu melewati masa kritisnya.


🍁🍁🍁


Yuni dipindahkan ke ruangan VIP sesuai instruksi Richard sebelumnya. Ruangan rawat inap yang didominasi oleh warna putih itu nampak elegan dan mewah.



"Wow.. Ini hotel apa rumah sakit yah. Mewah banget," ucap Aty ketika memasuki ruangan tersebut.


Rangga membantu suster membaringkan Yuni di tempat tidur. Sedangkan Aty sibuk memeriksa ruangan dan kamar mandi sambil berdecak kagum dengan desain ruangan VIP itu.


"Nyaman dan tenang yah disini. Gue temani Lo sampai Lo benaran pulih. Sekalian aja gue bawa pakaian ganti dan buku kesini," ucap Aty semangat.


Yuni juga terpana dengan ruangan mewah itu. Dia merasa sungkan untuk menerima kebaikan Richard ini. Dan juga semenjak dia sadar Richard belum menjenguknya.


'Apakah dia sibuk atau sesuatu terjadi padanya?' Batin Yuni.


Rangga yang melihat Yuni sedang memikirkan sesuatu dengan cepat menyelimuti tubuh Yuni dengan selimut sampai di bagian dadanya, "Jangan terlalu pikiran, lebih baik Lo istirahat agar cepat sembuh."


Yuni hanya menganggukkan kepala dan tersenyum,"Gue belum ngantuk, Ga. Makasih yah udah mau nemenin gue."


"Sama-sama. Lo istirahat aja.." ucap Rangga sambil mengusap kepala Yuni.


Mendapat usapan dari Rangga membuat Yuni memikirkan Richard. Namun dengan cepat dialihkannya pikiran agar fokus dengan kondisinya sendiri.


"By the way, Pak Richard kemana yah kok ngga muncul lagi?" Sudah beberapa jam berlalu namun Richard belum kembali juga membuat Aty ikut bertanya.


"Mungkin ada urusan penting yang harus diselesaikan..." jawab Rangga lalu duduk di sofa dan menonton televisi.


"Iya kali yah.. Yun, tangan kanan Lo bisa digerakkan ngga?" tanya Aty melihat Yuni yang sejak sadar belum pernah menggerakkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Belum bisa nih Ty, karena lukanya di bagian dada sebelah kanan jadi gue takut gerak. Takut lukanya terbuka," jawab Yuni sambil melihat tangan kanannya.


Aty hanya manggut-manggut dan kembali mengambil ponselnya lalu mulai mengecek media sosial serta membalas beberapa pesan. Rangga yang menonton tayangan televisi mulai merasa ngantuk, kemudian mengambil posisi tidur di sofa panjang yang ada di ruangan itu.


Lima belas menit kemudian Rangga sudah tertidur nyenyak. Aty yang melihat Rangga sudah nyenyak, mengambil selimut dari dalam lemari yang sudah disiapkan dari pihak rumah sakit untuk keluarga pasien dan menyelimuti tubuh Rangga.


Yuni sudah tertidur nyenyak dari setengah jam yang lalu. Aty tidak mengantuk, kemudian duduk di sofa dekat jendela rumah sakit sambil memainkan ponselnya.


Keasikan memainkan ponsel dan stalking beberapa anggota K-POP kesukaannya, Aty tidak menyadari bahwa hari sudah sore.


"Aty..." Terdengar suara dari tempat tidur. Aty menoleh dan melihat Yuni sudah bangun dari tidurnya.


"Yun, lo udah bangun.. Lo gerah nggak? Gue bisa bantu buat lap badan Lo," ucap Aty seraya melangkah ke tempat tidur Yuni.


"Iya nih.. Tapi ada Rangga tuh," jawab Yuni sambil melirik ke arah Rangga yang tertidur nyenyak.


"Dia masih tidur.. kalau gitu kita tunggu Rangga bangun baru gue lap badan Lu" Ucap Aty.


"Oke deh.." jawab Yuni seraya melihat jam di dinding.


'Sudah jam segini pak Richard belum datang juga?' Tanya Yuni dalam hati.


Yuni berusaha berpikir positif. Namun hatinya tidak tenang. Fabian juga tidak kelihatan sejak dirinya sadar. Yuni mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Nggak apa-apa, Ty.." jawab Yuni.


"Pasti dia datang Yun. Mungkin lagi sibuk," ucap Aty yang memahami dengan apa yang dipikirkan Yuni sekarang.


Yuni tidak menjawab. Dia menghembuskan nafas pelan lalu kembali berbaring.


Rangga menggeliat dan melihat ke kiri dan kanan ruangan, "Gue tidur berapa lama ni?" tanya Rangga dengan nada khas bangun tidur.


"Tiga jam, Ga.." jawab Aty yang duduk di kursi samping tempat tidur Yuni.


"Lama juga. Badan gue jadi gerah ni. Gue pulang mandi dulu baru gue balik lagi kesini," ucap Rangga lalu mengambil jaket dan kunci mobil di atas meja.


"Hati-hati nyetirnya, Ga.." ucap Yuni yang langsung ditanggapi dengan acungan jempol dari Rangga dan pergi meninggalkan Aty dan Yuni.


"Gue siapin air dan kain lap badan dulu, Yun.." ucap Aty setelah Rangga keluar dari ruangan rawat, lalu berjalan menuju lemari mengambil kain dan wadah kemudian berjalan menuju ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Aty keluar dari kamar mandi dengan kain dan sebuah wadah berisi air hangat.


"Gue bantuin buka bajunya, Yun.." ucap Aty lalu membantu Yuni untuk duduk. Membuka pakaian Yuni dengan hati-hati dan mulai me-lap badan Yuni dari muka sampai ke kaki.


"Tangan kanannya ngga usah gerak, gue yang lap aja," kata Aty.

__ADS_1


Setelah tangan kanan dibasuh oleh Aty kemudian berpindah ke tangan kiri yang masih bisa digerakkan oleh Yuni. Namun perhatian Aty terhenti dengan cincin berlian biru di jari manis Yuni.



"Yun, ini kan berlian biru yang langka. Sejak kapan Lo punya cincin mahal ini?" tanya Aty yang masih terpana dengan cincin di jari manis Yuni.


Yuni nampak bingung dan kaget, "Gue ngga tahu. Sejak kapan ada di jari gue?" tanya Yuni yang juga baru sadar jika ada cincin di jari manisnya.


Aty melepaskan tangan Yuni. Mengeringkan tangannya dengan handuk putih yang disiapkannya lalu berjalan mengambil ponselnya di meja dekat jendela.


"Apa yang Lo lakuin, Ty?" tanya Yuni bingung.


"Gue pernah baca di majalah ketika liburan di Bali musim panas lalu. Gue pernah lihat cincin kaya gitu," ucap Aty sambil mengetik kata pencarian di ponselnya.


"Siapa yang masang di jari gue yah?" tanya Yuni bingung.


'Apa pak Richard?' Tanya Yuni dalam hati.


"Wow.. Nama cincin ini The Cullinan Dream salah satu cincin berlian terindah di dunia dengan harga 358 miliar, Yun.." ucap Aty semangat, suaranya nampak menggema di ruangan itu karena saking kagetnya dengan harga cincin itu.


"Masa sih Ty? Terus ini dari siapa kok tiba-tiba sudah ada di jari gue," ucap Yuni lalu mulai melepaskan cincin itu dari jari manisnya.


"Kenapa di lepas, Yun?" tanya Aty bingung.


"Gue ngga berani pakai, Ty. Kemahalan.. nyawa gue terancam kalau orang lihat cincin ini," ucap Yuni.


"Iya juga yah. Kalau gitu Lo pasangkan saja di kalung Lo biar ngga keliatan," ucap Aty memberi ide untuk Yuni.


Tok..Tok..


Yuni dengan cepat menyembunyikan cincin di tangannya. Aty berjalan ke pintu dan membukanya.


"Om Fabian...??"


🍁🍁🍁


Ayo Vote dan Like yah.


Biar Aku semangat nulisnya.


Pokoknya.. I Love You β™₯️ My Readers


Salam Hangat dari Richardo Johan untuk Readers SekalianπŸ€—


__ADS_1


__ADS_2