
Jangan mudah terlena,
Jagalah dirimu dari hatimu sendiri.π₯
_S.O.Y_
πΌπΌπΌ
Suasana pagi itu begitu lain. Dua insan yang awalnya asing kini begitu dekat satu sama lain. Bagi Richard dengan Yuni disisinya, dan Yuni dengan segala rasa berkecamuk di dadanya karena berada di dekat Richard.
"Jangan paksa Yun kalau ngga sanggup," ucap Richard menatap Yuni lembut.
"Aman.. aku kuat kok," jawab Yuni dengan gerakan lincah merapikan seprei.
"Benar?" tanya Richard seraya melangkah ke arah Yuni.
Yuni yang sibuk merapikan tempat tidur tidak menyadari Richard yang berjalan ke arahnya.
Cup..
Dengan sikap yang sedikit membungkuk Yuni nampak kaget dan terdiam beberapa detik.
"Itu buat nambah semangat kamu," ucap Richard sambil mengusap lembut kepala mungil gadisnya lalu berjalan keluar ruangan kamar tersebut.
"Lama-lama gue disini bisa terkena serangan jantung. Ngga nyangka gue, baru jadian kemarin udah ginian. Yuni Andita.. take care of yourself from your own heart. Okay..," ucap Yuni pada dirinya sendiri.
Selesai merapikan tempat tidur, Yuni melihat ruang kamar yang ditempatinya. Kamar dengan desain scandinavian, kombinasi warna putih dan abu-abu pada furnitur yang pas. Dengan beberapa wall art dan tanaman di dekat jendela membuat ruangan tersebut makin aesthetic. Jendela kaca yang besar menampakkan pemandangan matahari terbenam dan hamparan laut lepas.
"Indahnya.. serasa tinggal di hotel bintang lima," ungkap Yuni takjub.
Yuni kemudian berjalan ke kamar mandi. untuk membersihkan diri. Namun langkahnya terhenti karena belum melihat pakaian yang sudah disiapkan Richard. Sejenak Yuni nampak bingung, karena di kamarnya tidak ada lemari.
"Gue bodoh banget sih," ucap Yuni menertawakan kebodohannya sendiri.
Yuni berjalan menuju sebuah pintu yang diyakininya adalah kamar mandi. Ketika pintu dibuka, Yuni dikagetkan dengan apa yang dilihatnya. Ruangan walk in closet yang elegan dengan deretan lemari berwarna putih dengan pintu dari kaca, meja rias dengan cermin yang besar. Baju yang digantung sesuai jenisnya, celana, sepatu dan tas. Setiap lemari yang ditata sesuai dengan fungsi dan keindahannya.
Yuni hanya melongo kagum tak percaya. Walk in closet yang hanya ditontonnya di televisi, drama Korea atau YouTube, sekarang dia melihatnya secara langsung.
"Wah gila benar.. punya Aty dan di rumah papa ngga semewah ini," ucap Yuni sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Puas mengamati hal baru di depannya, Yuni mencari pakaian untuk dikenakannya. Setelah mengambil baju dan celana sesuai seleranya, Yuni mengamati deretan lemari dan mulai mencari pakaian dalam untuknya. Dibukanya lemari satu persatu, sampai pada lemari dengan lima laci. Yuni mengernyitkan dahi karena melihat pakaian dalam yang disusun sesuai warna pelangi.
"Kok ukurannya sama yah.. ya iyalah Yuni, ini kan buat lo," umpat Yuni pada dirinya sendiri.
Selesai menyiapkan pakaiannya, Yuni mengambil handuk dengan tenunan pile towel lalu memasuki kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Yuni lagi-lagi berdecak kagum dengan desain kamar mandi tersebut. Sebuah bathtub dan shower box dengan material iced glass.
"Waktu gue terbuang karena mengagumi semua desain yang ada di ruangan ini. Belum lagi ruangan yang lain," tutur Yuni lalu mulai membersihkan diri.
Selesai mandi, Yuni berjalan menuju ke meja rias. Dilihatnya beberapa deretan make up yang disusun rapi. Sebagian dari make up tersebut dia pun tidak tahu fungsinya.
"Ngga ada bedak tabur yah..,"
Setelah membaca tulisan dan petunjuk, dia mulai mengaplikasikan di wajahnya. Setelah merasa cukup, Yuni melangkah keluar kamar.
Sambil melihat ke kiri dan ke kanan arah ruangan, Yuni mencari pemilik apartemen tersebut. Karena belum pernah keluar dari kamar semenjak kedatangannya dan tertidur membuat Yuni bingung sendiri. Akhirnya dia memutuskan berjalan ke arah kiri yang diyakininya adalah dapur. Dia mendengar bunyi musik yang semakin lama semakin jelas seiring dengan langkahnya.
Yuni sampai di ruangan bertema monokrom yang merupakan ruangan santai dengan sebuah televisi panasonic 152-inch. Tampak Richard sedang menonton berita pagi itu.
"Hay..," sapa Yuni ragu-ragu.
"Kamu cantik," Puji Richard jujur membuat wajah Yuni kembali merona.
"Makasih. Kamu biasa minum apa di pagi hari?" tanya Yuni masih dengan wajah merona.
"Biasanya kopi arabika.. Tapi aku bisa bikin sendiri kok," ucap Richard dengan senyuman khasnya.
"Aku aja. Dapurnya di sebelah mana? Aku bingung pas keluar kamar tadi. Ini apartemen tapi besarnya seperti istana," ucap Yuni membuat Richard menahan lucu dengan wajah Yuni.
"Ngga luas-luas amat ko, Yun. Aku antar deh. Ayo ke dapur." Ajak Richard lalu menuntun Yuni ke dapur.
"Apanya ngga luas Richard, aku aja sampai bingung mau kemana tadi," ucap Yuni yang masih di dorong dari belakang oleh Richard.
"Apakah kamu sanggup bersihin sendirian?" tanya Richard lagi.
"Sudah mencari tahu tentang hidup aku kan, pasti tahu aku udah kerja apa aja."
"Aku tahu. Tapi ingat kamu itu kekasihku sekarang."
__ADS_1
Yuni hanya diam tidak menjawab. Sampailah mereka di dapur. Dapur elegan dengan granit countertop pada meja dapur dan meja makan. Warna putih dan abu-abu mendominasi seluruh ruangan yang menampilkan kesan elegan.
"Kamu duduk aja. Aku buat kopi dulu ya," ucap Yuni sambil tersenyum dan melangkah menuju dapur dan mulai melakukan kegiatannya.
Richard hanya mengikuti saja. Karena Yuni masih canggung berada di dekatnya, apalagi sekarang sudah tinggal bersamanya. Sambil mengamati Yuni yang dengan cekatan bergerak di dapur, Richard tersenyum senang. Dapurnya jarang sekali digunakan, hanya pagi hari untuk minum kopi. Urusan makan dan minum sudah ada pekerja yang mengurusnya.
Calon istri idaman aku dan mertua nih, batin Richard tersenyum senang.
Yuni yang sedang bekerja sekali-kali melihat Richard, mengernyitkan dahi dan kembali melanjutkan kerjaannya. Namun melihat Richard yang senyum-senyum sendiri membuat Yuni juga merasa lucu.
"Manis senyumnya, apalagi ada lesungnya juga," ucap Yuni pelan namun masih dapat di dengar Richard.
"Uhukk.. bilang apa tadi?" Batuk Richard kaget karena ucapan Yuni. Pertama kalinya ada seorang wanita yang memujinya terang-terangan dihadapannya.
"Ng..gga bilang apa-apa tadi. Kamu salah dengar kayanya," ucap Yuni salah tingkah karena ketahuan.
"Ada yang bilang aku manis tadi. Apa ikan-ikan yang di aquarium yah?" Richard berjalan ke arah Yuni yang sontak membuat Yuni gugup.
"Kamu mau ngapain?" tanya Yuni yang melihat Richard melangkah kian dekat ke arahnya.
"Kamu ngga bisa bohong Yun. Kelihatan sekali dari wajah mungilmu ini." Richard mengusap wajah cantik Yuni kemudian memeluknya.
Deg..deg..
Jantung Yuni berdetak kencang. Tangannya tidak membalas pelukan Richard.
"Aku tahu kamu masih canggung, tapi percaya sama aku apapun yang terjadi. Hm?" ucap Richard masih memeluk Yuni.
Gini yah rasanya dicintai, batin Yuni menahan gugup.
πππ
Hay guys...
Semoga sehat selalu yah..
Ingat jaga kesehatan..
Vote,like,Fav & coment yah..
__ADS_1
I Love You β₯οΈ