Stuck On You

Stuck On You
Cincin Berlian


__ADS_3

Richard dan Della berjalan beriringan menuju ruangan Fabian dirawat. Terdengar suara kakak beradik itu saling menjahili satu sama lain.


"Bang, aku boleh nanya ngga?" tanya Della yang langsung membuat raut wajah Richard berubah.


"Mau nanya apa?" tanya Richard lembut.


"Kenapa Abang kok sikapnya kaya gitu tadi ke Siska?" tanya Della polos.


"Sikap yang bagaimana, Del?" tanya Richard lagi tanpa menjawab pertanyaan Della.


"Kan Abang Richard orangnya kalem, lembut, ngga seperti tadi," ucap Della seraya menatap wajah Richard.


"Abang juga bingung..." Richard melihat ke arah Della yang juga menatapnya, "yang jelas tidak ada hubungannya sama kamu." Richard tersenyum jahil.


"Ih Abang gimana sih. Aku serius nanya, Bang," ucap Della kesal.


"Sudah, itu urusan orang dewasa. Anak-anak kaya kamu mending belajar. Hm?" ucap Richard jahil sambil mengelus rambut Della yang sejak tadi diberantakannya.

__ADS_1


"Jujur yah, Bang. Aku ngga suka sama dia. Kok Abang bisa yah jatuh cinta sama Siska?" tanya Della tanpa memedulikan Richard yang sibuk memberantakan rambutnya.


"Jangan begitu, Del. Itu perasaan kamu saja. Jangan men-judge orang dari luarnya saja. Jadilah anak yang baik. Oke?" ucap Richard lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Richard tahu jika adiknya itu tidak menyukai Siska. Pertanyaan Della membuat Richard mengerutkan keningnya sejenak. Alasan apa dia bisa menjalin kisah dengan Siska. Tiba-tiba Richard menghentikan langkahnya, membuat Della dibelakangnya menubruk tubuhnya.


"Abang, kalau berhenti pakai lampu sein dong. Kan jadinya nabrak," ucap Della sambil memegang hidungnya.


"Maaf, lampu seinnya mati, Del." Richard tersenyum jahil. Della merasa kesal dan memelotot tajam padanya.


Richard kembali melangkah mendahului Della. Richard kembali berkutat dengan pikirannya, ia lupa menanyakan kepada Siska tentang cincin yang sempat diceritakan oleh Joana, ibunya. Beberapa kali bertemu dan berbincang dengan Siska selama di rumah sakit, Richard tidak pernah melihat Siska mengenakan cincin berlian yang serupa dengan yang dikenakannya.


"Bang, lagi mikirin apa? Serius amat," ucap Della yang sudah berjalan disampingnya dan menyadarkan Richard dari lamunannya.


🍁🍁🍁


Aty merasa lega ketika melihat senyum Yuni. Ditatapnya wajah sahabatnya itu, wajah yang cantik dan putih mulus yang mampu menggetarkan hati bagi siapa saja yang menatapnya. Matanya terlihat sedikit gelap di bagian bawahnya, tanda bahwa Yuni sedang lelah dan banyak pikiran.


"Oh iya, Yun..." Aty menatap wajah Yuni dengan saksama, membuat Yuni sontak melihat ke arahnya, "tadi ngga sengaja gue lihat pak Richard di depan ruangan bokap lo. Entah kenapa dia hanya berdiri saja dan tidak masuk ke dalam. Sekitar dua menit dia berdiri di depan pintu tadi," ucap Aty ketika mengingat dengan apa yang tidak sengaja dilihatnya dari balik pintu tadi. Pintu ruangan yang sedikit terbuka membuat Aty dapat melihat Richard berdiri dan hanya diam saja.

__ADS_1


"Sama, gue juga melihatnya tadi," jawab Yuni dan kembali melihat wajah Julius yang terbaring di ranjang rumah sakit.


"Apa pak Richard datang nyari lo?" tanya Siska sambil menduga-duga.


"Ngga mungkin lah, Ty. Mungkin lagi nyari Siska," jawab Yuni sambil menggenggam tangan Julius dan memijitnya pelan.


"Ah sudahlah..." Aty mengambil ponselnya dan mencari deretan kontak di ponselnya hendak menelepon seseorang.


"Halo, lo lagi di mana?" tanya Aty serius.


"Oke, hati-hati nyetirnya." Aty menutup sambungan teleponnya.


"Nelpon siapa, Ty?" tanya Yuni.


"Rangga dan yang lainnya," jawab Aty kemudian memasukan ponselnya ke dalam tote bag hitam miliknya.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, tampak dua orang pria berbadan kekar memasuki ruangan rawat Julius. Yuni dan Aty nampak kaget dengan kehadiran ke dua pria tersebut.


🍂🍂🍂


__ADS_2