Stuck On You

Stuck On You
Yuni atau Della II


__ADS_3

Hidupku tidak seimbang..


Jatah sedihku lebih banyak dari bahagia.🥀


🍁🍁🍁


Ayah adalah lelaki pertama yang dikenal oleh anak perempuannya dalam hidup. Bagi anak perempuan ayah adalah cinta pertamanya dalam hidup. Ayah juga seorang dengan sikap super protektif kepada anak perempuannya.


Semua itu sudah lama tidak dirasakan dan dialami Yuni. Sudah dua tahun pula dia tidak bertemu dan menyapa ayahnya. Bukannya Yuni tidak mau mengunjungi ayahnya, namun ayahnya yang enggan bertemu dengannya. Yuni juga pernah memohon maaf padanya, namun permohonan maafnya tidak membuat hati Julius Anindya luluh.


Rangga dan Aty mengetahui hubungan antara Yuni dan keluarganya yang tidak begitu baik. Namun jalan satu-satunya sekarang untuk Yuni adalah mendapatkan donor darah dari ayahnya sendiri. Setelah berpikir matang Rangga memutuskan untuk bertemu dengan Julius Anindya, ayah Yuni.


"Ada yang mau nemenin gue ke rumahnya Yuni ngga?" tanya Rangga pada sahabatnya. Aty, Viki, Gio dan Rizal saling memandang beberapa saat.


"Gue yang temani, Lo," ucap Gio seraya bangkit dari duduknya.


"Gue juga." Rizal memegang bahu Rangga lalu bangkit berdiri.


"Kalau begitu pakai mobil saya saja," ucap Fabian seraya menyerahkan kunci mobilnya.


Rangga mengernyitkan keningnya melihat Fabian. Merasa pernah bertemu dengan Fabian sebelumnya. Namun dia tetap tidak ingat dimana.


"Makasih, Om," ucap Rangga memanggil Fabian dengan sebutan 'om' karena dia berpikir mungkin Fabian adalah keluarganya Yuni.


"Hati-hati nyetirnya. Gue sama Aty tunggu kalian disini," ucap Viki yang masih menenangkan Aty dalam dekapannya.


Rangga dan kedua sahabatnya berjalan keluar rumah sakit menuju tempat parkir. Setelah menemukan mobil yang dimaksudkan Fabian, Rangga mulai mengendarai mobil tersebut menuju ke alamat rumah Yuni. Sebelumnya, Rangga pernah mengantar Yuni ke rumahnya untuk melihat keadaan ayahnya secara diam-diam.


"Lo tahu alamat rumahnya Yuni, Ga?" tanya Rizal yang duduk disampingnya.


"Gue tahu," jawab Rangga dengan tatapan fokus ke jalanan.


"Kapan Lo ke rumah Yuni?" tanya Gio dari belakang kursi kemudi.


"Dua bulan lalu. Dia pernah minta gue antar ke rumahnya. Katanya kangen pengen liat keadaan bokapnya," jelas Rangga.


"Terus bokapnya mau ketemu Yuni apa ngga?" tanya Gio lagi.

__ADS_1


"Kita lihatnya secara diam-diam. Karena Yuni sudah berulang kali pengen ketemu bokapnya namun di usir gitu aja," jelas Rangga.


"Kasian Yuni.. Salah apa dia? Kesedihan tidak pernah pergi darinya," ucap Rizal lirih.


"Mungkin jatah sedihnya belum habis, kelak bahagia yang datang pun nonstop," ucap Gio puitis.


Rangga mengerutkan keningnya sambil menyetir mobil, "Jatah sedih yang dialaminya sudah kelewat batas. Ngga seimbang dengan bahagia yang dialaminya."


"Mudah-mudahan dia ngga apa-apa. Dan semoga kita bisa meluluhkan hati bokapnya," ucap Gio lirih.


Rangga kembali mengendarai mobil dengan kencangnya. Gio dan Rizal sudah terbiasa dengan hal tersebut. Karena mereka sering pergi dan pulang kampus atau kemana saja bersama mobil Rangga.


🍁🍁🍁


Richard memacu mobilnya menuju ke perbatasan kota. Alamat yang diberikan Maura merupakan tempat di perbatasan kota A. Setelah dua puluh menit mengendarai mobilnya, Richard sampai di tujuan yang di maksud. Tampak sebuah bangunan yang sudah tua. Gedung yang dibangun sejak tahun 1970 itu mulai ditumbuhi lumut.


Diparkirkannya mobil di bawah pohon di samping gedung tersebut. Setelah melepas sabuk pengaman, Richard mencoba mengatur ritme detak jantungnya, menahan amarah ketika berhadapan dengan Maura nanti. Dendam dan benci yang menyatu membuatnya berjaga-jaga agar tidak berbuat lebih pada Maura.


Setelah merasa lebih baik, Richard mulai melangkah masuk ka dalam gedung tua itu. Sebuah bunyi notifikasi ponsel menghentikan langkahnya. Setelah melihat isi pesan, wajah Richard yang sejak tadi muram kini tambah muram.


Yuni membutuhkan golongan darah AB negatif, isi pesan yang dikirimkan oleh Fabian.


Di lantai satu gedung itu nampak sepi. Richard kemudian melangkah menuju tangga untuk ke lantai dua. Setelah menaiki beberapa anak tangga, tampak di depannya ada sebuah pintu. Richard memutar gagang pintu dan pintu tersebut terbuka.


Dalam ruangan tersebut nampak Maura sedang duduk menghadap langsung ke pintu, beberapa anak buahnya berdiri di sampingnya. Ketika Richard membukakan pintu dan melangkah masuk, Maura nampak sumringah. Gelas wine yang digenggamnya digoyang-goyangkan sambil tersenyum senang.


"Hello honey .. Long time no see." Maura menyambut Richard dengan tatapan yang memuja penuh kerinduan.


Richard tidak menyahut. Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana hitamnya, wajahnya datar dan muram bercampur kesal. Dilihatnya Maura, wanita yang dulu pernah bersamanya. Namun ketika melihatnya sekarang, Richard merasa seperti melihat seorang yang asing. Perasaan benci memenuhi hatinya.


Maura meletakkan gelas wine di atas meja kemudian berdiri dan berjalan menuju Richard. Direntangkan tangannya untuk memeluk Richard namun tangannya ditepis dengan kasar oleh Richard.


"Richardo Johan.. Kamu hanya ditakdirkan untukku. Tidak boleh ada yang berani mendekatimu. Begitupun kamu tidak berhak memiliki seseorang selain diriku," ucap Maura tegas. Namun ekspresi wajah Richard tidak berubah, tampak lebih muram.


"Apa yang kamu inginkan?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Richard.


Maura nampak bersemangat. Tangannya bergelayut di lengan Richard. Richard membiarkannya agar masalah ini lekas selesai dan kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


"Seharusnya kamu sudah tahu, honey. Only You. Only you want me," ucapnya dengan senyum senang.


Richard mengernyitkan dahinya. Sudah diduganya bahwa Maura terobsesi dengan dirinya. Richard kembali memberikan pertanyaan untuk memancing emosi Maura.


"Tapi bagaimana dengan suamimu?" tanya Richard seraya melepaskan tangan Maura di lengannya.


Maura tampak bersemangat, " He died.. Sama juga seperti ja**ng disampingmu itu. Sekarang tidak ada penghalang di antara kita."


Richard menahan luapan emosinya. Ditariknya napas pelan lalu dihembuskannya.


"Apakah kamu yang menyewa penembak jitu untuk membunuhnya?" tanya Richard berubah lembut. Maura yang melihatnya tampak senang dan memeluk Richard. Dibenamkan wajahnya di dada bidang milik Richard.


"Aku yang menyuruhnya. Aku benci melihat dia didekatmu. Kamu hanya milikku seorang!" Maura memeluk erat Richard.


Sebuah senyum ketus nampak dibibir Richard. Dibiarkan Maura memeluknya erat, "Apakah dua tahun lalu, Raka juga kamu yang menganiayanya?


"Itu karena kesalahannya sendiri. Dia tidak mau tutup mulut ketika melihatku berjalan bersama lelaki lain." Maura berusaha membenarkan diri.


Lagi-lagi Richard mengatur nafasnya, "Jadi kamu menculiknya dan menganiaya di gudang tua itu?"


"Bukan di gudang, tapi di rumahku," Bantah Maura.


Richard kembali mengernyitkan dahinya, "Lalu kenapa tubuhnya ditemukan di gudang?"


"Papaku yang memindahkannya. Karena dia tidak mau putri tunggalnya di penjara," jelas Maura tanpa curiga.


'Jackpot.. Bodoh sekali kamu..' Richard tersenyum kecut.


"Baiklah.. apakah kamu bisa melepaskan Della sekarang?" tanya Richard. Maura mengangkat wajahnya.


"Bisa.. asalkan kamu kembali bersamaku seperti dulu," ucap Maura sambil menatap manik hitam milik Richard.


"Baiklah..."


🍁🍁🍁


Hay Guys...

__ADS_1


Jangan lupa 👍 ⭐


I Love You ♥️


__ADS_2