
Yuni dan Aty nampak kaget dengan kehadiran ke dua lelaki bertubuh kekar itu. Rasa takut meliputi keduanya. Yuni menatap sekilas ke arah Aty dan kembali melihat ke arah dua lelaki itu.
"Maaf, anda mencari siapa?" tanya Yuni dengan sikap ramah untuk menutupi rasa takutnya.
Ke dua lelaki itu tidak menjawab. Terukir senyum sinis di wajah ke duanya yang penuh bekas luka itu. Ke duanya melangkah mendekati ranjang dimana Julius berbaring.
Yuni dan Aty nampak kaget dan takut dengan semakin dekatnya ke dua lelaki melangkah ke arah ranjang Julius. Yuni menggenggam erat tangan Julius, berharap kekuatan diberikan dari ayahnya yang masih belum sadarkan diri itu.
"Ka..lian si..apa?" tanya Yuni terbata-bata karena takut.
Ke dua lelaki itu semakin dekat. Seorang lelaki dengan tato di pergelangan tangannya berjalan ke arah Yuni dengan tatapan khas preman. Rambutnya keriting dibiarkan terurai. Celana jeans dengan sobekan di beberapa tempat. Yuni menahan napas, rasa takut dan gelisah kini kian meliputinya.
"Yuni Andita?" Terdengar suara serak bariton yang sontak membuat Yuni kaget. Yuni tidak menjawab, mulutnya terkunci rapat seiring dengan rasa takutnya. Jantungnya berdetak kencang.
"Kalian siapa?" Aty yang sejak tadi berdiam diri kini berusaha mengeluarkan suara. Seorang lelaki yang berdiri di ujung ranjang Julius sontak melihat ke arahnya. Tatapannya penuh nafsu, kepalanya botak tanpa sehelai rambutpun yang tumbuh di sana. Aty yang merasa lelaki tersebut memandangnya dengan penuh nafsu merasa geram.
__ADS_1
"Kalian siapa? Jangan berbuat macam-macam di sini." Aty menggenggam tangannya erat. Napasnya memburu.
"Tenang saja cantik. Kami hanya sedikit berurusan dengan gadis itu," ucapnya sambil menunjuk ke arah Yuni dengan dagunya. Raut wajahnya seolah-olah sedang menggoda Aty.
"Uru..."
"Diam kamu!" Sebuah suara lelaki di depan Yuni membuat Aty kaget dan tidak sempat melanjutkan perkataannya.
"Jika kamu ingin selamat, lebih baik diam saja dan jangan ikut campur," lanjutnya lagi.
"Jika ingin ayah kamu selamat, silahkan ikut kami," ucapnya dengan tatapan lekat ke arah Yuni. Yuni kini mengerti maksud dari ke dua lelaki itu dan siapa di balik dari semua kejadian ini.
Mereka pasti suruhannya Siska dan tanta Rini. Mau apa lagi mereka? Tanya Yuni dalam hatinya.
"Maaf, saya sedang menjaga ayah saya. Silahkan keluar dari ruangan ini," ucap Yuni berusaha tegas dan menahan rasa takutnya.
__ADS_1
"Aw!!"
Suara Yuni mengagetkan Aty yang juga sedang menahan takut itu.
"Yuni..." teriak Aty kaget melihat Yuni yang sudah tidak sadarkan diri itu, sebuah pukulan di leher Yuni membuatnya seketika tidak sadarkan diri, "Mau di bawa ke mana.." Aty berusaha menghalangi seorang lelaki yang sudah membopong tubuh Yuni dan hendak pergi dari ruangan itu. Namun,langkahnya terhenti karena di hadang oleh lelaki berkepala botak itu.
"Tenang cantik. Teman kamu kami pinjam sebentar," ucap lelaki itu dengan senyum menggoda yang membuat Aty ingin memuntahkan segala isi perutnya.
"Apa?!" Aty nampak kaget mendengar ucapan dari lelaki berkepala botak itu. Sebelum sempat melanjutkan perkataannya, pintu ruangan itu sudah di tutup dan ke dua lelaki itu membawa Yuni pergi entah ke mana. Aty menangis sejadi-jadinya. Tangannya mengepal erat, pikirannya kacau. Dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Rangga dan yang lainnya.
🍂🍂🍂
Terima kasih selalu stay yah..
Jangan lupa tinggalkan jejak..
__ADS_1
I Love You ❤