Stuck On You

Stuck On You
20. Sebuah Ungkapan Mengejutkan


__ADS_3

Seperti pagi sebelumnya, Nadia sudah duduk manis sembari mengunyah nasi goreng buatan mamanya. Papa terlihat sedang sibuk membaca koran yang dipegangnya. Di hadapannya ada segelas teh manis hangat buatan mama juga.


"Papa tumben masih santai. Berangkat siang?" tanya Nadia sembari tangannya mengelap mulutnya dengan tissu


Papa menurunkan koran yang menutupi wajahnya dan menatap putrinya "hari ini papa mau libur dulu"


"Mau berduaan katanya sama mama" celetuk mama yang baru selesai mencuci piring


"Curang. Masa papa libur nggak pas Nadia libur juga sih" cetus Nadia cemberut


Suara kekehan terdengar dari mulut mama. Disusul papa yang sudah berdiri dari duduknya "kan emang kalo weekend papa libur" jawab papa enteng


Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal "iya juga sih"


"Terus kamu ngeributin apa?" tanya mama meledek


"Iih mama mah gitu. Udah lah Nadia mau berangkat aja" ujar Nadia sembari menggendong ransel miliknya


Papa merangkul bahu Nadia. Membuat Nadia mengerutkan keningnya sembari menatap bingung papanya


"Papa ngapain?"


"Mau nganter kamu lah"


Mata Nadia berbinar, senyumnya merekah dari bibirnya "serius?" papa mengangguk sebagai jawaban


"Yaudah Nadia berangkat sekolah dulu ma" Ucap Nadia mendekat ke arah mamanya dan mencium punggung tangan mama


Nadia memepetkan tubuhnya ke arah mama, kemudian mendekatkan mulutnya di telinga mamanya


"Ma, Nadia pengen punya adek" bisik Nadia yang membuat wajah mama memerah malu


Melihat Nadia yang terkekeh dan wajah mama yang memerah tersipu malu, papa mengerutkan alisnya penasaran


"Dadah mama. Jangan lupa pesanan Nadia ya" ujar Nadia mengerling jahil kepada mamanya, semakin membuat mama malu dan menutup wajahnya.


Kemudian Nadia menarik tangan papanya terburu-buru. Dan papa hanya mengikuti langkah Nadia.


                         ******


"Kamu bilang apa sih sama mama sampai mama keliatan malu gitu?" tanya papa


Nadia dan papanya sedang dalam perjalanan ke sekolah Nadia. Sedari tadi papa menahan niatannya untuk bertanya mengenai obrolan antara mama dan Nadia


Nadia menahan senyumnya "Papa kepo deh"


"Ya papa penasaran aja"


"Masaa" goda Nadia, kedua alisnya terangkat


"Yaudah kalo kamu nggak mau ngasih tau" ujar papa dengan ketus


Nadia terkekeh kecil mendengar celetukan ketus dari papanya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela samping


'Kalo hal kayak gini dari dulu, mungkin kepribadian gue nggak seburuk sekarang' batin Nadia


Tak lama papa memberhentikan mobil di depan gerbang sekolah Nadia. Nadia menghadap ke arah papanya, dan menengadahkan tangannya berniat menyalimi tangan papa


"Nadia sekolah dulu, Pa. Papa hati-hati dijalan" pamit Nadia sembari menyalimi tangan papa


Papa mengelus pelan kepala Nadia "belajar yang pinter. Biar cita-cita kamu tercapai dan bisa membanggakan mama sama papa" ujar papa memberi wejangan kepada putri semata wayangnya itu

__ADS_1


Nadia tersenyum hangat mendengar penuturan papanya. Dalam hati, ia selalu berharap agar bisa membahagiakan orang tuanya suatu saat nanti


"Kalo papa penasaran sama obrolan Nadia sama mama, papa bisa tanya sendiri sama mama. Dah papa" ucap Nadia yang terburu-buru membuka pintu mobil membuat papa menggeleng-gelengkan kepalanya


Setelah dirasa mobil papanya sudah jauh, baru Nadia melangkahkan kakinya memasuki area sekolah


"Pagi nona es" celetuk Dito melihat Nadia yang mulai dekat dengan koridor tempat biasa mereka nongkrong


Celetukan Dito mengawali pagi Nadia. Sudah tidak asing lagi panggilan itu di telinga Nadia


"Heh. Harusnya gue duluan yang nyapa" geplakan keras bersarang di bahu Dito dari Karel


Dito mengelus bahunya "Kelamaan lo"


Arman nyengir ke arah Nadia yang berdiri diam sembari memperhatikan tingkah Dito dan Karel "sorry ya, Nad. Biasa lah, obatnya abis"


Taakk


Taakk


"Aduuhhh" ringis Arman menutupi kepalanya


Dua jitakan keras dilayangkan oleh Dito dan Karel. Tak ayal, membuat Arman meringis


"Rasain lo"


"Lo tuh yang keabisan obat"


Umpatan itu terdengar dari mulut Dito dan Karel, membuat Arman melirik tidak suka ke arah keduanya. Nadia menahan senyumnya melihat tingkah ajaib ketiga cowok di hadapannya ini


"Nad, udah sarapan?" tanya Karel setelah sadar jika Nadia memperhatikannya dan kedua temannya ini


"Udah" jawab Nadia singkat


"Nad" panggil Karel lagi


Mau tidak mau Nadia menghadap Karel, alisnya terangkat seolah bertanya 'kenapa'


"Have a nice day"


Ujar Karel sembari tersenyum manis ke arah Nadia. Sedangkan Dito dan Arman bersiul sembari menatap sekitar. Pura-pura tidak mendengar


Nadia tersenyum tipis. Hanya sebentar. Tidak lebih dari 2 detik. Lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga cowok yang terbengong sembari memperhatikan kepergian Nadia


"Man, itu Nadia senyum?" tanya Dito kepada Arman dengan mata yang masih melebar


Arman mengangguk pelan sesekalu mengedipkan matanya dan mengucek matanya berkali-kali "gue nggak salah liat kan ya?"


"Sekarang lo berdua percaya nggak?" tanya Karel songong


"Ckk"


Arman dan Dito berdecak sebal menimpali ucapan Karel "bukti lo nggak cukup kuat" ujar Arman


Dito mengangguk menyetujui ucapan Arman. Karel yang mendengar sanggahan kedua temannya itu ikut berdecak sebal


"Yaudah kalo nggak percaya. Bye. Gue mau ke warung mang darmo" ucap Karel yang sudah melangkah meninggalkan Dito dan Arman di koridor


"Si Nadia dikasih apa sama si Karel ya?" tanya Arman bermonolog


"Yang pasti bukan duit" celetuk Dito

__ADS_1


Arman merangkul bahu Dito dan menyusul Karel yang sudah jauh "Ah bodo amat dah. Ayo nyusul Karel"


                         *****


"Pagi nona es yang bentar lagi mencair" sapaan itu terlontar dari mulut Dita setelah Nadia duduk dan meletakan ransel di tempat duduknya


Nadia menghembuskan nafasnya kasar "nggak lo nggak Dito. Sama-sama nyebelin"


Dita terkekeh "kan dia belahan hati gue" Dita mesem-mesem tak jelas


"Jijik gue liatnya" tonyor Nadia ke kepala Dita


"Gitu banget" ujar Dita dengan cemberut


"Oh iya, tadi gue ketemu Pak Andi, katanya lo sama Karel disuruh ke ruangan Pak Andi" Dita memberi tahu


Nadia menelungkupkan wajahnya dilipatan lengan "males banget"


"Yaudah sana aja dulu" ucap Dita


Nadia berdecak, dan dengan malas melangkahkan kakinya meninggalkan kelas. Sesampainya di ruangan Pak Andi, terlihat Karel yang sudah duduk dan mengobrol dengan Pak Andi


"Nah, itu Nadia sudah datang. Sudah sana kalian ke perpustakaan" ujar Pak Andi membuat Nadia yang baru datang bingung


Pak Andi berdiri dari duduknya, dan membereskan beberapa buku miliknya "Kamu ikut Karel ke perpustakaan. Nanti Karel yang akan menjelaskan. Saya sudah mau mengajar"


"Lah"


Nadia makin mengerutkan keningnya bingung melihat Pak Andi melenggang meninggalkan Nadia yang baru saja datang dan Karel yang sedang menahan tawa melihat ekspresi Nadia


"Pak Andi udah izin sama guru mapel di kelas lo sama gue"


"Ngapain?" tanya Nadia bingung


"Lo lupa? Besok itu kita ada olimpiade"


"Ngapain gue disuruh kesini?" tanya Nadia lagi


"Kita disuruh latihan soal lagi sama Pak Andi. Sehabis istirahat pertama, Pak Andi baru ngasih kita arahan sama materi lagi"


"Dan kita udah di izinin buat nggak ikut pelajaran hari ini sampai jam pulang"


Karel menjelaskan dengan gamlang kepada Nadia. Dan Nadia hanya mengikuti langkah Karel yang menarik pelan tangannya kearah perpustakaan


                        ******


Sudah satu jam lebih Nadia dan Karel berkutat dengan buku-buku dihadapan mereka. Sudah beberapa kali Nadia mendengar decakan dan umpatan dari Karel. Sesekali juga Karel membanting pelan buku yang dipegangnya


"Nyerah deh gue" ujar Karel meletakkan pensil dengan kesal. Lalu menyandarkan tubuhnya di rak buku dibelakangnya


Nadia hanya duduk diam tidak menimpali celetukan Karel yang duduk disebelahnya


"Nad, lo nggak capek liat rumus bejibun gitu" tanya Karel


"Nggak" jawab Nadia yang masih sibuk menulis


"Gue suka sama lo"


Degg


Seketika Nadia menghentikan kegiatannya yang sedang sibuk mengerjakan soal. Jantungnya memompa cepat mendengar penuturan Karel

__ADS_1


"Gue serius. Gue suka sama lo"


Dua kali. Dua kali Karel mengucapkannya. Membuat Nadia memejamkan matanya dan semakin bingung dengan apa yang harus dilakukannya.


__ADS_2