
Siska merasa sangat kesal sekaligus marah. Richard tidak menemaninya makan dan malah pergi tanpa pamit kepadanya. Sendok dan garpu di kedua tangannya digenggamnya dengan erat. Sorot matanya tajam seakan dapat menusuk siapa saja yang melihatnya. Makanan yang tersaji dihadapannya tidak dimakannya, selera makannya kini hilang dan berganti dengan amarah yang berkecamuk di dadanya. Padahal sebelumnya dia merasa sangat berbunga-bunga tatkala Richard menatapnya dengan saksama. Namun, tatapan itu bukanlah tatapan memuja ataupun cinta tapi tatapan menyelidik dari Richard kepadanya.
Flashback On
"Apakah aku benar-benar menjalin hubungan denganmu?" tanya Richard datar. Kedua tangannya disilangkan di dada bidangnya. Tatapannya seperti seorang polisi yang menginterogasi seorang tersangka yang melakukan kejahatan. Tidak ada senyum ataupun keramahan dari wajahnya dan sorot matanya tidak ada kelembutan. Siska yang melihat sorot mata Richard seketika berubah waspada. Siska yang sebelumnya malu-malu dengan tatapan Richard kini berubah menjadi seperti seorang anak yang ketahuan mencuri uang dari ibunya. Namun, Siska dengan cepat mengubah raut wajahnya dan hal itu tidak luput dari pengamatan Richard yang menatapnya lekat. Richard menaikkan alisnya penuh curiga.
"Iya, Pak Richard. Kita jadian dari dua bulan yang lalu. Tepatnya di ruangan kerja Bapak sendiri," ucap Siska berusaha meyakinkan Richard. Sebuah senyum terukir di bibirnya, senyum paksa yang membuat Richard semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita dihadapannya kini.
Richard mengerutkan keningnya. Dia belum bertanya di mana mereka memulai kisah namun sudah di jawab oleh Siska. "Hubungan kita sudah sejauh mana?" tanya Richard lagi. Dia ingin mendengar cerita lainnya dari Siska. Jika benar Siska adalah kekasihnya lalu mengapa hatinya sangat tidak menyukai wanita itu. Duduk di dekatnya pun membuat Richard tidak nyaman apalagi menjadi istrinya nanti, Richard tidak yakin jika Siska adalah kekasihnya.
"Emm, kita sudah.. itu, Pak. Bapak pasti tahu." Siska menundukkan kepalanya enggan menatap Richard.
Gue harus buat pak Richard ngga akan bisa ninggalin gue. Batin Siska sambil tersenyum licik.
__ADS_1
Richard semakin yakin dengan dugaannya. Dia tidak mungkin berbuat sampai sejauh itu, apalagi menghancurkan masa depan seorang wanita. Richard ingin tertawa melihat drama wanita dihadapannya itu. "Apakah kamu yakin?" tanya Richard menyelidik dengan tatapan tidak percaya.
Raut wajah Siska berubah menjadi sedih. "Kok kamu nanyanya begitu? Aku tahu kamu lupa ingatan tapi jangan buat aku begini, Chard." Siska dengan wajah tertunduk. Air matanya sudah menetes.
Richard lagi-lagi mengernyitkan keningnya. Tidak disangkanya dan jauh dari dugaannya jika dia sudah melakukan hal itu. Dengan Maura saja dia belum pernah melakukannya apalagi dengan wanita didepannya kini. Richard tersenyum kecut. Tanpa bersuara, Richard bangkit berdiri dan meninggalkan Siska yang masih tertunduk sedih.
Flashback Off
Siska melepaskan genggaman sendok dan garpu di tangannya sehingga menimbulkan suara di atas piring keramik dan menyebabkan nasi sedikit berserakan di atas meja. Beberapa pasang mata yang sedang menikmati makanannya seketika melihat ke arahnya. Siska tidak mempedulikan tatapan mereka, amarahnya kini menghilangkan nafsu makannya. Siska bangkit berdiri dan mengejar Richard yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Sis, sudah selesai makannya?" tanya Joana yang melihat kedatangan Siska.
"Sudah Tante. Richard kemana yah, Tan?" tanya Siska pada Joana. Rini yang duduk di samping ranjang Fabian melihat Siska dengan tatapan penuh tanya. Siska membalasnya dengan kedipan mata.
__ADS_1
"Richard juga belum kembali, Sis. Tadi kan bareng kamu keluarnya," ucap Joana. Julian di samping Joana melihat ke arah Rini dan Siska secara bergantian. Julian melihat jika keduanya seperti saling memberi kode. Julian mengangkat tangannya dari saku celana dan menggaruk dahinya yang tidak gatal. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Siska maupun Rini.
"Iya, Tante. Tadi pak Richard minta ijin setelah selesai makan, katanya ada sesuatu yang harus diselesaikannya." Siska berbohong dan enggan mengatakan yang sebenarnya.
"Oh, gitu. Mungkin lagi sama Della. Della baru saja keluar," ucap Joana sambil tersenyum.
"Makasih, Tante," ucap Siska lalu kembali melangkah pergi meninggalkan ruangan Fabian. Siska menutup pintu kamar Fabian. Dia mendengar suara Della tidak jauh dari ruangan itu. Ia berjalan menuju sumber suara. Setelah sampai, dia melihat keakraban antara Richard dan Della. Dia terpana dengan senyum manis milik Richard, di tambah dengan lesung pipi bagaikan paket lengkap dari sebuah ketampanan dan itu semua sudah dimiliki oleh Richard.
Siska berjalan mendekat dan memenggil Richard, "Pak Richard..," panggil Siska sambil tersenyum.
Della dan Richard seketika berhenti saling menjahili. Richard yang semula meremas kepala Della langsung berhenti dan melepaskan tangannya dari kepala Della. Sedangkan Della menggoda Richard karena kedatangan Siska. Siska nampak malu-malu mendengar ucapan Della.
🍁🍁🍁
__ADS_1
To Be Continue ♥️