
Mereka bilang engkau sempurna untukku, tapi engkau diam-diam menyempurnakan hidupmu dengan yang lainnya.
Apakah itu benar? 🥀
Julius mengingatkan semua yang ada di ruangan itu tentang jodoh dan bahagia. Semuanya manggut-manggut tanda setuju dengan lelaki yang memiliki rambut putih hampir di seluruh bagian kepalanya.
Setelah semuanya selesai makan, Yuni dan Aty mencuci piring dan alat makan lainnya. Rangga dan Viki menyimpan makanan sisa di kulkas dan membersihkan meja makan. Sedangkan Gio dan Rizal hanya duduk memperhatikan aktivitas sahabat-sahabatnya.
"Rangga dan Yuni, Viki dan Aty.. Kayaknya cocok nih berdasarkan pengamatan gue," ucap Gio yang melihat kekompakan kedua pasangan itu.
"Cocok apaan, Gio?" tanya Aty bingung.
"Cocok dijodohkan," jawab Gio yang langsung mendapat lemparan serbet dari Rangga.
"Mulut Lo ngga bisa diam, mau disumbat pakai serbet?" ucap Rangga.
"Ah, Ga. Lo kelamaan Yuni sudah sama orang lain baru mewek seumur hidup," ucap Rizal seraya memainkan mata pada Gio disampingnya.
"Sudah.. ngga usah dijodoh-jodohkan kaya gitu. Lebih baik bahas yang lain aja. Soal jodoh pasti akan datang dengan sendirinya," ucap Yuni yang tidak mood untuk membahas tentang perjodohan.
__ADS_1
"Betul tuh," ucap Aty dan Viki bersamaan.
Semuanya terdiam, begitupun Rangga yang larut dalam pemikirannya setelah melihat reaksi Yuni.
Kayaknya Yuni belum bisa melupakan pak Richard. Dilihat dari reaksinya tadi, Yuni lebih tersakiti dengan kisah yang sesaat bersama pak Richard daripada kisah dua tahunnya bersama Adrian, pikir Rangga sambil membersihkan meja makan dengan serbet yang dipegangnya.
"Yun.. Papa boleh minta waktu sebentar? Papa mau ngomong sesuatu sama kamu," kata Julius dari arah pintu dapur dan ruang santai.
Yuni yang sudah membersihkan perlengkapan makan segera mengeringkan tangannya, "Iya, Pa." Yuni mengikuti Papanya ke ruang depan apartemennya. Dia sedikit bingung dengan permintaan papanya. Namun dia berusaha tenang menerima apapun yang dikatakan papanya.
"Duduk dulu, Yun," ucap Julius mempersilahkan putrinya duduk sebelum memulai pembicaraan.
"Pak Fabian yang jelaskan," jawab Julius. Yuni mengernyitkan dahinya bingung.
"Apa ya, Pak?" tanya Yuni.
"Begini Nona Yuni. Ini menyangkut pak Richard," ucap Fabian.
Degh!
__ADS_1
Jantung Yuni mampu berdetak lebih kencang dari biasanya ketika mendengar nama yang selama ini ingin dilupakannya. Yuni menormalkan posisi duduknya dan kembali menatap Fabian.
"Orang tua Pak Richard ingin bertemu dengan orang tua nona Yuni untuk membicarakan hubungan nona Yuni dan Pak Richard," lanjut Fabian lagi.
"Maaf, Pak. Kenapa Pak Fabian yang harus menyampaikan berita ini, kenapa bukan 'dia'?" tanya Yuni menahan pilu sekaligus bingung. Bagaimana mungkin Richard menghilang tanpa kabar lalu kini tiba-tiba ingin bertemu orang tuanya.
"Pak Richard mengalami kecelakaan pada hari yang sama dengan kecelakaan yang menimpa nona Yuni," jelas Fabian.
"Apa?!" Yuni terperanjat kaget.
"Pak Richard mengalami lupa ingatan jangka pendek. Semua kejadian yang terjadi dua tahun terakhir tidak dapat diingatnya. Pak Richard sadar dua minggu kemudian setelah mengalami kritis," jelas Fabian lagi.
"Ke..kenapa Pak Fabian tidak memberitahu saya.. selama ini saya pikir dia pergi meninggalkan saya, padahal dia mengalami kecelakaan.. saya sudah menyerah dengan hubungan yang tanpa kejelasan tanpa tahu kebenaran yang menimpanya. Saya mau bertemu dengannya sekarang, Pak." Yuni menumpahkan semua isi hatinya. Kekesalan dan penyesalan berpadu menjadi satu. Napasnya terasa sesak. Yuni tidak bisa membayangkan Richard yang terbaring lemah dalam masa kritisnya. Sedangkan dia menuntut kabar dari Richard tanpa mengetahui keadaannya.
Ini salahku atau salah siapa, Tuhan?" Yuni menahan pilu dengan air mata yang tidak berhenti mengalir sejak mendengar kabar Richard tadi.
🍁🍁🍁
I Love You My Readers ♥️
__ADS_1