
Sebuah mobil Toyota Yaris melaju kencang menembus ramainya kendaraan di perjalanan sepanjang kota A itu. Aty dan Yuni terlihat tidak sabar ingin cepat sampai di rumah sakit. Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit mereka sampai di Rumah Sakit B. Keduanya langsung berjalan ke meja resepsionis rumah sakit dan bertanya. Setelah mendapat jawaban, Aty dan Yuni berjalan menuju ke ruangan sesuai yang diberitahukan oleh bagian resepsionis.
"Ruang Melati," ucap Aty sambil menelusuri lorong rumah sakit.
"Itu di sana." Yuni menunjuk ke salah satu ruangan yang bertuliskan ruangan melati. Ketika sudah sampai di depan pintu, Aty dan Yuni saling pandang lalu mengetuk pintu tersebut.
Ceklek.,
Terlihat seorang suster membukakan pintu, "Maaf, apakah kalian keluarga pasien ini?" tanyanya.
"Kami ingin memastikannya terlebih dahulu, Sus. Apa diperbolehkan?" tanya Yuni.
"Silahkan." Suster itu mempersilahkan Yuni dan Aty masuk.
"Pak Fabian?" Yuni terlihat kaget melihat keadaan Fabian dengan tangan yang di gips serta beberapa luka di tubuhnya.
"Itu benar Om Fabian, Yun," ucap Siska tak kalah kagetnya dengan Yuni.
"Apakah kalian mengenal pasien ini?" tanya suster yang sejak tadi menunggu Fabian.
__ADS_1
"Iya, Sus. Dia orang yang kami kenal." Yuni kembali menatap Fabian. Perasaanya jadi tidak enak.
Siapa yang mencelakai Pak Fabian? Tepat sehari sebelum Pak Richard datang, Yuni bertanya dalam hatinya.
"Kalau begitu silahkan ke bagian administrasi untuk di proses lebih lanjut," kata suster.
"Iya, Sus. Terima kasih," ujar Aty yang ditanggapi dengan senyum sekaligus anggukan kepala dari suster tersebut, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
"Gue aja yang ke bagian administrasinya, Lo jaga Om Fabian," kata Aty.
"Baiklah..," jawab Yuni dengan pandangan yang masih menatap Fabian sedangkan pikirannya menerka-nerka dengan kecelakaan yang dialami Fabian.
πππ
Suasana rumah sore itu sangat sepi. Baik Rini maupun Siska tidak terlihat.
"Maman.. Mimin.." Julius memanggil kedua pembantunya, namun tidak ada sahutan. Julius mmengecek ke dapur, taman belakang dan kamar mereka namun tetap tidak ada. Akhirnya Julius memutuskan untuk kembali ke ruang kerja pribadinya.
Ketika membuka pintu, Julius dikejutkan dengan kepulan asap di ruang kerjanya. Tidak berpikir panjang lagi, Julius berlari ke meja kerjanya untuk menyelamatkan beberapa dokumen penting. Dua map berhasil di raihnya, namun tiba-tiba napasnya terasa sesak. Matanya mulai kunang-kunang dan seketika ia kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Tampak dari pintu seorang wanita tersenyum licik penuh kemenangan. Berjalan mendekati tubuh Julius yang tidak bergerak sama sekali, lalu mengambil ponsel di dalam saku milik Julius. Ia mulai membaca pesan antara Julius dan Fabian yang membahas tentang pertemuan itu.
"Papa!" Terdengar teriakan dari arah pintu ruang kerja tersebut.
"Ssstt, ngga usah panik. Kita bawa Papa kamu ke rumah sakit," ucap Rini pada putrinya.
Siska nampak bingung sesaat namun akhirnya dia memahami perkataan ibunya, "Iya, Ma..,"
Rini dan Siska membopong tubuh Julius dari ruang kerja sampai ke dalam mobil. Maman dan Mimin yang baru pulang dari pasar atas perintah Rini terlihat kaget. Mereka tidak berani bertanya karena takut dimarahi oleh Rini. Akhirnya, keduanya hanya bisa menatap Julius dengan tatapan iba.
"Maman, jika ada yang datang segera infokan ke saya," ucap Rini lalu menutup pintu mobil dan memacu mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Apa rencana Mama sebenarnya?" tanya Aty yang duduk di kursi belakang sambil menopang kepala Julius.
"Menyiapkan jalan untuk pertemuanmu dengan Richard, Sayang," jawab Rini tersenyum licik dengan tatapan fokus ke jalanan.
πππ
Jangan lupa Vote dan Like yah
__ADS_1
Arigatoβ€