
Jika nanti ingatanku kembali, semoga di saat dulu dan sekarang kaulah kekasihku..🥀 --Richardo J.P.
Richard seperti terjatuh dan dihempaskan begitu dalam, terasa gelap dan sesak ketika mendengar kenyataan yang tidak diduganya. Sebuah kenyataan yang tidak bisa di bayar dengan uang dan diganti dengan apapun. Jika bisa, Richard ingin me-restore semua ingatannya seperti yang biasa dilakukannya pada file di komputer.
"Apakah betul, Ma?" Richard mengulang pertanyaannya pada Joana.
Joana yang semula duduk di samping Julian kini bangkit dan duduk di samping putranya, "Itu benar, Sayang. Buktinya cincin itu sudah kamu berikan pada gadis yang kamu cintai. Waktu itu Kamu sampai memohon pada mama loh untuk membelinya." Joana dengan sikap keibuannya yang lembut.
Richard mengusap wajahnya kasar. Tatapannya jauh menerawang, mengingat kenyataan tentang Raka dan Maura yang belum bisa diterimanya, kini kenyataan baru yang membuatnya kembali terpukul. Ditatapnya wajah Joana dan Julian, "Lalu di mana gadis itu, Ma?"
Joana dan Julian tersenyum lega melihat reaksi Richard sesuai dengan dugaan mereka, "Dia ada di Kota A, Sayang," ucap Joana.
__ADS_1
"Mengingat cincin yang sudah kamu berikan pada gadis itu, papa ingin kita segera menemui kedua orang tuanya. Kamu kehilangan ingatan, tentunya Kamu tidak ingat sejauh mana hubungan kalian," ucap Julian.
Richard nampak kaget, "Kenapa terburu-buru untuk menemui orang tuanya, Pa?" tanya Richard.
"Papa mau kalian segera menikah dan tinggal bersama. Dengan tinggal bersama akan mempercepat proses kesembuhan Kamu dan ingatan Kamu, Richard." Julian memberikan kotak cincin itu pada Richard.
"Tapi aku belum siap untuk menikah, Pa" Richard menatap cincin yang dipegangnya, "bukannya aku tidak terima, tapi bisakah bertunangan terlebih dahulu dan menikahnya setelah ingatanku kembali?" tanya Richard.
Richard kembali menikmati teh sore itu, Julian dan Joana sedang bercanda ria. Richard hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua orang tuanya seperti anak muda yang sedang di mabuk cinta, dari dulu sampai sekarang cinta mereka tidak pernah habis, semakin hari semakin mesra. Akhirnya Richard berjalan menuju ke sebuah rumah yang dijadikan untuk menanam bunga dan tanaman lainnya yang merupakan kesukaan Joana.
Hari mulai beranjak sore. Kilauan jingga terlihat di ufuk barat dengan beberapa awan putih menemaninya. Richard duduk termenung perihal perkataan ayahnya tadi.
__ADS_1
Di satu sisi Richard enggan menerimanya namun di sisi lain dia merasa sedih. Dia pun bingung dengan perasaannya.
"Kenapa hatiku tiba-tiba sedih, padahal wajah gadis itu dan semua tentangnya tidak ku ingat. Apakah benar ucapan papa kalau hubungan aku dan gadis itu sudah sampai di tahap serius?" tanya Richard pada dirinya sendiri. Entah kapan dia mengungkapkan isi hatinya dan memasang cincin di jari manis gadis itu. Hal itu sungguh sangat disesalinya, Richard merasa bersalah kepada gadis itu.
"Maafkanku jika pertemuan kita yang akan datang tidak sehangat dan senyaman seperti sebelumnya." Richard kembali mengamati langit yang mulai gelap, terasa nyaman memandangi langit jingga yang perlahan hilang menggantikan malam. Sebuah kerelaan dari sang senja kepada dewi malam, menghantarkan rembulan kembali menyapa bumi dan segala isinya.
Menjadi sapu tanganmu... Sebuah kalimat yang diingat Richard pada suasana yang sama, tempat berbeda dan hati yang terasa kurang karena merasa ada seseorang yang pernah menemaninya melihat langit sore bersama.
🍁🍁🍁
__ADS_1
To Be Continue