
Upacara bendera sudah berjalan kurang lebih lima belas menit yang lalu. Siswa-siswi SMA Bhineka berbaris rapi berdasarkan kelas dan jurusan masing-masing. Termasuk Nadia dan Dita. Mereka berdua berbaris berdampingan tepatnya baris ketiga dari barisan kelasnya. Upacara berjalan dengan khidmat. Di tengah lapangan, kepala sekolah sedang berdiri diatas panggung kecil sembari memberikan sepatah dua patah kata.
Saat fokus Siswa-siswi sedang tertuju ke arah kepala sekolah, terlihat pak Jumari, selaku guru Bimbingan Konseling berjalan ditepi lapangan. Diikuti tiga siswa yang mengekor di belakangnya. Sebagian fokus siswa-siswi sekarang terbagi. Ada yang masih fokus mendengarkan arahan dari kepala sekolah, ada juga yang yang memandang kearah pak Jumari dan ketiga siswa itu.
Dita menyikut lengan Nadia pelan. Sekali sikutan belum ada respon ataupun reaksi yang diberikan oleh Nadia
"Nad" panggil Dita pelan
"Nadia" bisik Dita. Ia menyikut lengan Nadia agak keras
Sudah dua kali sikutan yang diberikan ke lengan Nadia, tetap tidak ada reaksi dari Nadia. Membuat Dita berdecak sebal
"Nad, lo budek apa gimana sih" kesal Dita karena tidak direspon oleh Nadia. Dita yakin jika Nadia pasti mendengar panggilan Dita. Pasalnya Nadia baris tepat disebelahnya.
Dita berbisik lagi "Gue sumpahin lo beneran budek kalo lo nggak nengok ke gue sekarang"
Terdengar decakan pelan disebelahnya "apa sih, Dit" jawab Nadia singkat. Ia hanya melirik sebentar kearah Dita. Lalu pandangannya kembali kearah depan
"Buset irit banget" celetuk Dita
"Cepet apaan" tanya Nadia
Dita lagi-lagi berdecak "itu, cowok yang dibawa pak Jumari" ujarnya menunjuk kearah pak Jumari dengan dagunya
Kepala sekolah sudah berhenti berbicara setelah menyadari kehadiran pak Jumari di sebelahnya. Pak Jumari terlihat sedang berbisik dengan kepala sekolah
Siswa-siswi terlihat berbisik, berpikir dan menduga-duga kesalahan apa yang sudah tiga siswa itu lakukan. Yang membuat pak Jumari membawa mereka disebelah kepala sekolah secara langsung
Nadia mengikuti arah pandangan Dita "itu temen lo kan?'' tanya Nadia
Dita mengangguk mengiyakan " iya. Yang ngirim pembalut ke lo itu"
"Jangan diingetin juga kali" dengus Nadin sebal
Dita terkekeh pelan "kan rencananya mau ngirim obat sariawan juga. Biar dia bisa ngobrol sama lo"
__ADS_1
"Ledek aja terus" sindir Nadia
"Dit, mereka ngapain didepan ya?" tanya Nadia bingung
Dita menengokkan kepalanya kearah Nadia "kaya nggak tau aja. Berulah lagi seperti biasa"
Selama Nadia bersekolah bersekolah disini, Nadia pikir hanya celotehan tidak berguna dari siswa-siswi disini yang seringkali Nadia dengar ketika ia berjalan melewati anak-anak yang sedang bergosip. Ternyata benar adanya mengenai isu itu.
Karel, Arman, dan Dito. Nadia hanya sebatas tahu nama mereka. Itupun menurut informasi yang ia dapat dari Dita. Dita sering bercerita jika salah satu dari mereka juga adalah sahabat dekatnya
"Ya ampun, kasian Dito kepanasan gitu" celetuk Dita memandang Dito dengan wajah memelas melihat orang yang ia taksir sedang dalam masalah serius
Nadia mencibir ucapan Dita "alay lo. Gue yang dari tadi kepanasan, nggak lo kasihanin tuh"
"Biarin aja lo kepanasan. Biar cair tuh, es yang ada di diri lo" ujar Dita
Nadia memutar matanya malas "Lah, lo pikir gue kulkas apa"
"Nih ya, lo tuh udah irit ngomong, irit gerak, irit temen, serba pake paket irit lo mah" celoteh Dita pelan sambil menghitung dengan jarinya
"Sok tau lo" jawab Nadin
"Anak-anakku semuanya"
Obrolan antara Nadia dan Dita terhenti mendengar kata pembuka dari kepala sekolah setelah tadi di sibukkan dengan obrolan dengan pak Jumari. Entah apa yang di obrolkan oleh pak Jumari dan kepala sekolah. Semua yang ada di lapangan, terkecuali tiga siswa yang dibawa oleh pak Jumari, semuanya menerka - nerka apa yang dilakukan oleh ketiga siswa itu. Lebih tepatnya, ulah apa yang mereka bertiga lakukan lagi
Semua siswa-siswi kembali fokus kearah kepala sekolah. Dan menantika apa yang akan di ucapkan oleh kepala sekolah
"Disebelah saya sudah ada tiga siswa yang sepertinya sudah melanggar aturan di sekolah ini" ucap kepala sekolah dengan berwibawa
"Mereka tidak mengikuti upacara bendera kali ini. Dan memutuskan untuk bersantai di rooftop sekolah" jelas kepala sekolah menjawab opini yang siswa - siswi lain pikirkan
Siswa-siswi mendengarkan dengan seksama "kalian sebagai generasi modern, apalagi dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, kalian harus bisa membedakan antara menikmati masa muda atau menghancurkan masa depan" sindir kepala sekolah
"Kalian sendiri yang akan menentukan masa depan kalian akan seperti apa" nasehat kepala sekolah kepada semua siswa-siswinya
__ADS_1
"Dan untuk kalian bertiga, selesai upacara ini, saya mau berbicara sama kalian" ucap kepala sekolah pelan kearah Karel, Arman dan Dito. Agar siswa-siswi yang lain tidak mendengar apa yang apa yang diobrolkan oleh kepala sekolah dan tiga muridnya itu
*****
Upacara bendera sudah selesai 5 menit yang lalu. Ditengah lapangan, Karel, Arman dan Dito benar-benar berhadapan langsung dengan kepala sekolah. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang penting. Entahlah, hanya kepala sekolah dan tiga cowok itu yang tau. Kita hanya akan bisa menantikan apa yang akan terjadi dengan ketiga cowok itu.
Sedangkan di tempat lain, Nadin dan Dita sudah duduk di kantin sambil menyesap es teh manis. Memang sangat nikmat, setelah berpanas-panasan, dilanda haus, hal yang paling dicari adalah es teh manis. Di atas meja kantin yang ditempati mereka juga terdapat dua mangkok bakso yang masih mengepul
"Kira-kira mereka dapet hukuman apa ya, Nad" tanya Dita membuka obrolan keduanya
Nadia mengedikkan bahunya. Lalu melahap bakso miliknya "bersihin wc kali" jawab Nadin disela kunyahannya
"Masih untung kalo dihukum cuma kek gitu. Kalo yang lain gimana" ucap Dita gusar
"Biarin aja. Biar kapok"
"Ya nggak gitu juga bikin kapoknya, Nad"
"Bikin kapok tuh jangan nanggung-nanggung"
Dita berdecak kesal mendengar ucapan Nadia "masalahnya, ini tuh langsung berhadapan sama kepala sekolah"
"Ya kan biar mereka nggak macem-macem lagi, Dit" ujar Nadia yang ikut menyampaikan apa yang dia pikirkan
Dita hanya diam dengan wajah cemberut. Lalu mengambil bakso miliknya
"Tapi ntar bantuin gue nyari Dito ya" Dita mengeluarkan jurus memelasnya
"Dih ngapain. Lo aja sana" tolak Nadia mentah - mentah
"Ah lo mah. Yayayaya please" Dita mengedipkan matanya berkali kali. Merayu Nadia agar mau mengantarnya
Nadia melempar tissu ke muka Dita "muka lo biasa aja bisa nggak sih. Jijik gue liatnya"
Dita makin menekuk wajahnya "ya makanya anterin gue ya"
__ADS_1
Nadin menghembuskan nafas kasar "iya deh iya"
Muka Dita berubah cerah lalu tersenyum lebar "thank you"