
Setelah mengurus perpindahan ruangan rawat Fabian, Richard berjalan menuju ruangan VIP Fabian. Setelah sampai di ruangan, tampak Siska dan Rini juga di sana. Hatinya merasa tidak nyaman ketika melihat mereka berada di dalam ruangan tersebut.
"Kamu sudah datang, Sayang?" Joana menyapa Richard yang masuk ke dalam ruangan Fabian tanpa menyapa. Siska langsung berjalan mendekati Richard, tampak Richard merasa tidak nyaman ketika didekati oleh Siska. Della yang juga menyadari sikap Richard yang menjadi dingin hanya mengerutkan keningnya.
"Kamu lapar ngga?" tanya Siska seraya menggenggam lengan Richard.
"Tidak," jawab Richard dingin. Dia ingin keluar dari ruangan itu, namun dibatalkan niatnya. Dia merasa curiga dengan Siska ataupun ibunya. Richard juga harus menjaga Fabian, karena yang tahu dengan kehidupannya adalah Fabian.
"Richard, kok kamu diam aja? Ajak Siska makan, dari tadi dia belum makan loh nungguin kamu." Joana dengan senyum manis keibuannya.
Richard terdiam sejenak. Namun dia juga harus mencari tahu hubungannya dengan Siska dimulai sejak kapan dan sudah sejauh mana. "Baiklah, ayo.." ajak Richard pada Siska yang langsung mendapat senyuman lebar dari Siska yang merasa sangat senang.
"Ayo.." jawab Siska.
__ADS_1
Julian hanya mengerutkan dahinya. Dia juga merasa ada sesuatu yang dirasakan dan disembunyikan oleh Richard. Namun dia menepis pemikirannya sendiri karena mengingat Richard baru bertemu dengan Siska kembali.
"Kita makan di restoran kesukaan aku aja yah?" tanya Siska manja setelah keluar dari ruangan Fabian.
Richard berpikir sejenak lalu menghembuskan napas pelan. "Di kantin rumah sakit saja," jawabnya dingin.
Wajah Siska langsung berubah cemberut. Dia mengharapkan agar bisa makan di luar dengan Richard namun keinginannya tidak terkabul. "Tunggu aku dong.." Siska sedikit berlari karena baru menyadari jika Richard sudah berjalan mendahuluinya. Richard terus melangkah dan tidak peduli dengan teriakannya, hal itu membuat Siska kesal.
Richard menghentikan langkahnya dan berpaling melihat Siska di sampingnya. "Tidak ada," jawab Richard dingin lalu kembali melanjutkan langkahnya. Siska lagi-lagi menghembuskan napas kesal.
Dia lebih dingin dari sebelumnya. Tapi itu ngga masalah buat aku, karena sedikit lagi Richard akan jadi milikku. Batin Siska sambil mengejar Richard yang sudah jauh di depan.
Setelah sampai di kantin, Richard memesan makanannya tanpa bertanya pada Siska terlebih dahulu lalu mengambil tempat duduk di pojok ruangan kantin. Siska yang melihat Richard kembali merasa kesal untuk kesekian kalinya, dia berusaha mengambil napas dalam dan menghembuskannya pelan lalu berjalan untuk memesan makanan. Setelah memesan makanan dia berjalan menuju tempat duduk Richard dan duduk di sampingnya. Siska berusaha tersenyum untuk menutupi kekesalannya.
__ADS_1
"Kamu makan apa, Chard?" tanya Siska dengan panggilan baru untuk Richard yang langsung membuat Richard bergidik ngeri.
"Kopi," jawabnya datar dan juga dingin. Siska lagi-lagi seperti menelan pil pahit dan juga membuatnya merasa dingin. Siska ingin mengobrol lebih dengan Richard namun ketika melihat Richard yang enggan mengobrol dengannya membuatnya mengurungkan niatnya. Untuk sesaat tidak ada suara diantara Richard ataupun Siska.
Richard mengamati Siska dengan saksama, hal itu membuat Siska salah tingkah. Wajahnya bersemu merah, Siska sekali-kali menggaruk tengkuknya. Dia merasa senang karena Richard memperhatikannya namun juga merasa malu dengan tatapan manik hitam di depannya tersebut.
Tidak ada yang menarik dari dia. Gadis yang pingsan tadi jauh lebih menarik dan jantungku berdetak kencang ketika melihat matanya. Sepertinya ada yang tidak beres...
Richard kembali menatap wajah wanita di depannya. Dia tidak menemukan keteduhan di mata wanita tersebut.
🍁🍁🍁
Maaf yang sebesar-besarnya untuk pembaca semuanya.. Beberapa hari terakhir sedang berada di luar daerah dan jaringan tidak ada 🙏
__ADS_1