Stuck On You

Stuck On You
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Kepada yang senantiasa memberi luka, aku sudah terbiasa dengan rasanya..


Fabian belum juga sadar. Yuni masih setia menjaganya.


"Yun, Om Fabian belum sadar?" tanya Aty baru saja kembali dari bagian administrasi rumah sakit.


"Belum.." Yuni kembali melihat ke arah Fabian yang terbaring lemah.


Aty berjalan mendekati Yuni. "Ada apa?" tanya Aty ketika melihat sahabatnya sedang memikirkan sesuatu.


"Ngga ada apa-apa." Yuni enggan mengutarakan isi hatinya. Perasaannya tidak nyaman, ia merasa sesuatu akan terjadi.


Ceklek!


Pintu ruangan dibuka, nampak suster dan seorang dokter memasuki ruangan itu. "Maaf Nona, sudah saatnya pasien diperiksa." ucapnya dengan ramah.


"Silahkan, Sus. Terima kasih," ucap Yuni ramah lalu mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas. "Ayo, Ty.." ucap Yuni lalu sedikit menundukkan kepala kepada dokter yang berdiri menunggu di depan pintu tersebut.


"Gimana kalau kita ke kantin aja?' tanya Aty.


"Baiklah.." jawab Yuni.


Yuni dan Aty berjalan menelusuri lorong rumah sakit itu. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hal itu membuat Aty bertanya-tanya dan curiga dengan sahabatnya itu. Namun, Aty juga enggan menanyakannya. Ia membiarkan Yuni akan menceritakannya langsung pada dirinya. Aty mencari jalan menuju kantin namun tatapannya tidak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya berdiri di depan Ruangan IGD.

__ADS_1


"Siska.."


****


Di Ruangan IGD Rumah Sakit B


"Tolong papa saya, Dok." Siska menangis sejadi-jadinya di depan dokter yang menangani Julius.


"Kami akan berusaha semampu kami. Keluarga silahkan tunggu di luar." Pintu Ruangan IGD kemudian tertutup.


Rini hanya berdiam diri melihat Siska menangis tanpa menenangkannya. "Aktingmu sudah bagus. Pertahankan itu sampai mereka datang," ucap Rini sambil tersenyum licik.


Siska menghapus air matanya, raut wajahnya yang semula sedih kini berubah sinis. "Tenang aja, Ma. Apapun akan kulakukan agar bisa bersama Pak Richard." Siska melipat tangannya seraya tersenyum pada ibunya.


"Informasi dari anak buah mama, keluarga Richard sudah sampai di apartemennya. Sebentar lagi mereka akan datang di rumah sakit ini. Kamu bersiaplah, Sayang. Mama akan membantumu menyempurnakan rencana ini," ucapĀ  Rini licik.


Dua puluh menit kemudian dokter keluar dari dalam ruangan IGD. Wajahnya terlihat muram. "Kondisi pasien kritis karena kanker hatinya sudah stadium akhir ditambah dengan pasien sudah menghirup banyak asap," jelas dokter tersebut.


"Kira-kira berapa lama lagi dia kan bertahan hidup?" tanya RIni.


Dokter itu nampak kaget dengan pertanyaan dari wanita yang statusnya sebagai istri dari pasien tersebut. " Tidak sampai sebualan," jawabnya seraya menatap lekat ke arah Rini. Dia tidak menyukai jika ada pertanyaan tentang hidup dan mati pasien.


Rini menaikkan alis sebelahnya. Dia merasa bahwa dokter tampan di depannya ini merasa aneh dengan pertanyaannya. "Ada apa Anda menatap saya seperti itu?" tanya Rini kesal.

__ADS_1


"Tidak ada sa---"


"Siska!" Terdengar panggilan dari seorang wanita mengehentikan ucapan dokter tersebut. Dua orang gadis berjalan mendekati mereka. Siska dan Rini saling berpandangan. Sedangkan dokter tampan itu melihat salah satu gadis di antara mereka yang berjaan mendekat, hatinya seketika berbunga-bunga.


Kenapa dia ada disini? Bisa hancur rencanaku, batin Rini terlihat panik.


"Ngapain kalian di sini?" tanya Siska ketus.


"Ini rumah sakit jadi yah jenguk orang sakit." jawab Aty tidak kalah ketusnya.


"Siapa yang sakit, Tante?" tanya Yuni yang enggan memanggil Rini dengan sebutan 'ibu'.


"Apa urusanmu? Sudah meninggalkan rumah berarti tidak ada hak lagi dengan urusan keluarga Anindya," jawab Rini ketus. Yuni semakin yakin dengan perasaannya yang sejak tadi tidak nyaman, berarti sesuatu terjadi pada ayahnya.


"Apa papa sakit?" tanya Yuni sendu.


"Iya.." Dokter yang sejak tadi mengamati akhirnya menyadari siapa keluarga sebenarnya dari pasien yang ditanganinya. Rini dan Siska melihat dokter itu dengan tatapan benci.


Yuni terlihat kaget, semua yang dipikirkannya benar terjadi. "Bagaimana kondisi papa saya, Dok?" tanya Yuni yang sudah tidak peduli lagi dengan Siska ataupun Rini yang menatapnya lekat dengan penuh kesal.


"Pasien menderita kanker hati dan sudah stadium akhir. Karena asap yang dihirupnya cukup banyak menyebabkan kondisi pasien kritis," ucap dokter tersebut.


Yuni merasa kakinya tidak mampu lagi berdiri. Kalimat yang didengarnya membuat hatinya kembali sakit, terasa sakit yang sama ketika mendengar kondisi mamanya beberapa tahun lalu.

__ADS_1


****


To Be Continue


__ADS_2