Stuck On You

Stuck On You
17. Di Comblangin?! (2)


__ADS_3

Uhukk uhukk


Dengan tergesa, Karel memberikan segelas air putih kepada Nadia yang entah kenapa tersedak setelah mendengar ucapan Papanya. Mata Nadia berair dan langsung meneguk air yang diberikan Karel


"Please, deh pa. Ini tuh bukan zaman siti nurbaya" ujar Nadia terengah setelah menetralkan nafasnya akibat batuk


Papa terkekeh mendengar tanggapan putrinya itu "ya nggak papa lah. Kalo kalian klop, bisa aja"


"Iya, nanti kalo kamu mau, mama bisa bicaraain sama tante Sarah" lanjut mama


"Mamaa. Nadia ngambek nih" rengek Nadia dengan muka cemberut


Karel melongo melihat sosok Nadia yang sekarang dilihatnya. Lihatlah, Nadia terlihat sangat berbeda dengan Nadia yang sering ia lihat di sekolah.


Nadia yang sekarang berada dihadapannya ini adalah Nadia yang hangat, responsif, dan menggemaskan. Berbanding terbalik dengan Nadia yang ia temui di sekolah, Nadia yang cuek, dingin dan jangan bicara


"Marah kok bilang-bilang" nyinyir mama


Nadia bersedekap dada, bibirnya masih manyun "bodo amat. Pokoknya Nadia marah sama mama"


"Sama papa nggak marah gitu? Masa cuma sama mama doang" ledek mama makin membuat Nadia sebal


"Sama papa juga"


Semua yang ada diruang makan tertawa melihat tingkah Nadia, termasuk Karel, yang sedari tadi menonton kehangatan keluarga yang satu ini


"Nadia kalo dirumah emang gini ya, om, tante?" tanya Karel setelah menghentikan tawanya


Mama mengernyitlan dahinya bingung kearah Karel "gini gimana maksud kamu?"


"Iya gitu, ngambekan, banyak ngomong kayak sekarang" ujar Karel menjelaskan maksudnya


"Emang biasanya gimana?" tanya papa dengan wajah penasaran


Mata Nadia terbelalak. Ia melupakan hal yang satu ini. Ia lupa jika disini juga ada Karel. Nadia terlalu menikmati obrolan bersama orangtuanya. Ia terkejut mendengar pertanyaan yang Karel lontarkan kepada orang tuanya


"Nadia banyak diemnya om" kekeh Karel melihat Nadia yang melotot kearahnya


"Masa iya?" tanya papa menyakinkan


Karel mengangguk yakin, "iyakan, Nad?" Karel mengangkat satu alisnya, wajah jahilnya tercetak


"Engg-nggak pa, ma. Jangan dengerin Karel" Nadia memaksakan senyumnya kepada kedua orang tuanya


Dughhh


"Awwss" ringis Karel pelan. Tangannya mengusap kakinya yang diinjak oleh Nadia


"Diem lo" bisik Nadia mengancam


"Kamu kenapa, Rel?" Mama bertanya melihat Karel yang terlihat sedang menahan ringisannya


Karel tercengir canggung "Nggak tante, kaki saya tiba-tiba kesemutan"


Mama membulatkan mulutnya sembari mengangguk mengerti


"Tante, om, Karel pamit pulang ya, udah malem soalnya" Karel berdiri dari duduknya sembari menyalimi tangan orang tua Nadia

__ADS_1


"Oh iya iya. Salam buat mama kamu ya" ujar Mama sembari menyodorkan tangannya


"Iya tante. Maaf ya om, tante, Karel jadi ngerepotin" ucap Karel tak enak


"Kamu itu kayak sama siapa saja"


"Sekali lagi makasih, ya om, tante"


"Iya. Kamu hati-hati dijalan" pesan papa menepuk bahu Karel pelan


"Nadia, kamu anter Karel sampe depan ya" perintah mama


"Karel pulang tante, om, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab orang tua Karel


Nadia berjalan di belakang Karel, mengikuti Karel yang sudah berjalan di depannya


Dughh


"Awss" rimgis Nadia mengusap dahinya karena menabrak punggung Karel yang berhenti tiba-tiba di depannya


Karel membalikkan badannya, menghadap Nadia yang masih mengelus dahinya. Tangannya terulur melepas tangan Nadia dari dahinya, menggantinya dengan tangan miliknya.


Karel mengusap pelan dahi Nadia, membuat Nadia mendongakkan kepalanya menatap Karel yang lebih tinggi darinya


"Mangkanya, kalo jalan tuh liat kedepan, jangan nunduk terus" ujar Karel juga menatap Nadia


Nadia menyubit keras pinggang Karel, membuat Karel mengaduh keras juga. Nadia menahan senyumnya melihat yang terus mengusap pinggangnya


"Kalo mau senyum tuh senyum aja. Jangan ditahan-tahan gitu" sindir Karel


"Iya deh, gue pulang. Thanks buat makan malemnya. See you" ujar Karel sembari tersenyum ke arah Nadia. Karel memakai helmnya, lalu menjalankan motornya meninggalkan pelantaran rumah Nadia


Nadia berdiri terdiam memperhatikan kepergian Karel. Tangannya memegang dadanya, tanpa disadarinya, Nadia tersenyum


                         *****


Siang ini, di saat jam kosong, Nadia dan Dita sudah berada di kursi penonton. Dengan segala paksaan yang Dita lontarkan. Dan dengan tegas juga Nadia menolak ajakan Dita. Bukan Dita namanya jika keinginannya tidak terlaksanakan. Dengan segala kekuatan, Dita menarik Nadia untuk mengikutnya ke lapangan futsal sekolah.


"Ditoo, semangat" teriak Dita memegang jaring besi yang mengelilingi lapangan. Sedangkan Nadia memandang malas ke arah Dita yang masih berteriak tidak jelas


"Woy, Dito, itu cewek lo nggak sakit apa tenggorokannya" ujar Arman yang ngos-ngosan yang dibalas kekehan oleh Dito


Kelas Dito sedang bertanding dengan kelas 12 IPS. Itu alasannya mengapa Dita memaksa Nadia untuk menemaninya. Beberapa teman kelas Dito juga menonton pertandingan ini. Suara riuh terdengar dari supporter kedua kelas ini, ditambah siswa-siswi lain yang ikut menonton, meramaikan jalannya pertandingan futsal


"Nad, lo kesini buat nyemangatin gue kan" dengan percaya dirinya, Karel berlari mendekat ke arah tepi lapangan, tepat didepan tempat duduk Nadia, hanya terhalang oleh pagar besi yang mengelilingi lapangan


Nadia memutar matanya malas "Percaya diri banget lo" jawabnya sakartis


Karel terkekeh mendengar kecetusan Nadia "gue suka judesnya lo" ujar Karel lalu kembali berlari ke dalam lapangan


Pertandingan berjalan dengan seru. Ya meskipun Nadia hanya diam duduk menonton dan memperhatikan. Tidak seperti yang lain yang dengan semangat mendukung tim masing-masing


"Woy, jangan curang dong. Maen dorong-dorong aja" teriak Dita dengan geregetan melihat Dito yang terjatuh karena rivalnya


"Woooo" sorak anak-anak kelas Dito ikut bersorak ke arah tim lawan, membuat suasana lapangan menjadi tambah riuh

__ADS_1


"Goooollll"


Semua pendukung kelas Dito berteriak senang, termasuk Dita yang sekarang sudah berjoget dengan tidak malunya sembari berteriak tidak jelas, sedangkan Nadia menepuk dahinya, merasa malu melihat sahabatnya melakukan hal konyol seperti saat ini


Priiit priiit priiitttt....


Peluit panjang yang ditiup wasit menandakan pertandingan ini selesai. Skor akhir adalah 3-2. Dan pemenangnya diraih oleh Tim Dito. Dengan tergesa, Dita menarik tangan Nadia untuk ikut masuk ke area lapangan. Terlihat disana, tim Dito sedang duduk lesehan bahkan ada yang meneletangkan tubuhnya dengan wajah senang


"Dito" panggil Dita sembari menyodorkan air kemasan kepada Dito yang sedang menyeka keringatnya


Dito mendongakkan wajahnya, karena saat ini dia sedang duduk "eh, Dit, thanks lho, tau aja gue lagi haus"


Karel dan Arman ikut mendongakkan wajahnya melihat dua gadis di hadapannya sekarang


"Buat kita mana?" tangan Arman menengadah meminta kepada Dita


"Ini. Gue beli 3. Peka kan gue" jawab Dita sembari memberi botol air yang lain kepada Arman dan Karel


Arman tertawa keras "nggak kek doi ye, kagak peka-peka"


"Bucin lo" celetuk Dito


Karel yang melihat Nadia tak jauh darinya, lalu berdiri menghampiri Nadia "Nad, lo nonton gue sampe selesai? Langka banget momen ini" ujar Karel dengan percaya dirinya


"Eh, Rel, Nadia cuma nemenin gue. Halu lo udah akut banget woy" celetuk Dita yang menanggapi ucapan Karel


Karel menoleh ke arah Dita sembari berkacak pinggang "nyambung aja lo. Kek kabel listrik"


"Bodo amat" Dita memeletkan lidahnya


"Nad, lo nggak bawain gue minum gitu?" tanya Karel


Nadia berdecak "kerjaan banget"


"Lagian lo gak takut kembung apa" celetuk Arman yang terkekeh


"Yaah, Nad, padahal gue ngarep banget lo bawaain gue minum" Ujar Karel mendramatisir suasana, mengabaikan ucapan Arman


"Mangkanya banyak ngarep" jawab Nadia singkat


"Dit, pulang cepet" sekarang giliran Nadia yang menarik tangan Dita yang sedang asik mengobrol dengan Dito dan Arman


"Eh eh, nanti dulu lah Nad" jawab Dita, tapi mengikuti langkah Nadia menjauhi area lapangan. Meninggalkan Dito, Arman, dan Karel yang memandang dua cewek itu pergi


"Nad, lo nggak kasian apa sama si Karel" ujar Dita setelah duduk di kursinya


"Apa yang perlu di kasianin sih, Dit" jawab Nadia


"Dia tuh kayaknya udah banyak berharap sama lo"


"Jangan banyak berharap. Nanti sakit kalo nggak kesampaian"


Dita memajukan bibir bawahnya mencibir "halah, sok berpengalaman banget lo" lalu Dita terkekeh


Nadia menautkan alisnya curiga "kok lo tiba-tiba ngomongin Karel sih?"


Dita menahan senyumnya "bukan gimana-gimana, gue cuma kasian sama Karel aja. Dilihat dari kerja keras dia ngedeketin lo"

__ADS_1


"Ceritanya lo lagi comblangin gue ini?" Nadia bertanya dengan salah satu alisnya terangkat


Dita terkekeh sembari menggaruk kepalanya "lo mau nggak?" menaik turunkan alisnya


__ADS_2