Stuck On You

Stuck On You
Tentang Cincin


__ADS_3

Jakarta, Rumah Julian Pratomo


Setiap orang memiliki tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Ada yang melihat senja, ada yang melakukan perjalanan entah itu di gunung, laut ataupun tempat wisata lainnya. Namun ada juga yang menangis. Mungkin sedang membawa kendaraan, menjelang tidur diam-diam menangis di tempat gelap dan sepi serta mendengar musik yang dapat menenangkan sekaligus melegakan.Namun tidak dengan seorang Richard, ia lebih memilih menenangkan diri dengan beribadah. Kapan pun dan dimana pun dia berada, itu selalu melegakan.


Sudah dua minggu Richard keluar dari rumah sakit. Selama dua miggu pula dia menghabiskan waktunya di rumah saja. Perjalanan terjauhnya adalah halaman rumahnya. Seperti sekarang ia duduk di sebuah kursi yang menghadap ke taman bunga milik Joana. Sudah berulang kali Richard berusaha mengingat peristiwa yang terjadi selama dua tahun terakhir, namun dia tetap tidak mampu mengingatnya. Bahkan ia berkali-kali tidak sadarkan diri karena terlalu memaksa untuk mengingatnya.


"Bang Richard..," panggil Della yang sudah berdiri di sampingnya.


"Iya, Del. Sudah pulang sekolah?' tanya Richard.


"Iya, Bang. Dipanggil papa tuh, sepertinya ada sesuatu yang mau papa bicarakan." ucap Della.


"Papa dimana?" tanya Richard seraya berdiri dan merangkul Della sambil berjalan.


"Di gazebo. Ih, Bang Richard jangan tekan kepala aku kaya gitu dong." Della meronta ketika Richard menekan kepala adiknya dengan tangannya yang besar.


"Biar cepat tinggi, Del." Richard kembali menekan kepala adiknya.

__ADS_1


"Itu bukan cepat tinggi, Bang. Tapi bikin tambah pendek tahu." Della berusaha menghempaskan tangan Richard dari kepalanya. Richard terlihat senang menjahili Della, suara kedua kakak beradik itu terdengar nyaring sampai di telinga ibunya, Joana.


"Richard, papa Kamu nungguin tuh." Joana dengan nada khas ibu-ibu.


Richard langsung berhenti menjahili Della ketika mendengar suara ibunya, "Iya, Ma." Richard langsung beranjak pergi setelah menekan kepala Della sekilas.


"Hush." Della dengan tangannya seperti mengusir ayam. Joana hanya terkekeh lucu melihat tingkah kedua anaknya itu.


Richard berjalan menuju kolam renang dimana Julian berada. Julian terlihat sedang menikmati secangkir kopi dengan sebuah majalah di tangannya. Richard melihat jam tangannya, "Sudah pukul empat, pantas saja Papa sudah minum kopi sorenya." Richard mempercepat langkahnya dan menghempaskan tubuhnya di atas gazebo itu.


"Bagaimana keadaan Kamu sekarang?" tanya Julian sambil menyeruput kopinya.


"Apakah ada sedkit bayang-bayang atau mungkin mengingat sesuatu belakangan ini?' tanya Julian lalu meletakkan majalah yang dipegangnya di samping cangkir kopinya.


"Tidak, Pa. Semakin aku mengingatnya membuat kepalaku pusing," jawab Richard.


Julian mengangguk-anggukan kepalanya, "Jangan dipaksakan, biarkan pelan-pelan kamu mengingatnya."

__ADS_1


"Iya, Pa. Kata mama ada yang mau diomongin?" Richard bertanya dan menatap wajah Julian.


Julian mengeluarkan sebuah kotak cincin yang sudah disiapkan sejak tadi. Richard yang melihat kotak cincin itu terlihat bingung.


"Ini cincin yang Kamu pakai ketika mengalami kecelakaan. Dan setahu papa, Kamu tidak suka memakai cincin sejak kecil," ucap Julian.


Richard mengernyitkan dahinya, "Benar, Pa. Aku memang ngga suka memakai cincin."


"Tapi cincin ini merupakan cincin yang di beli oleh mama kamu ketika di Afrika," ucap Julian.


"Iya, Sayang. Mama belinya sepasang loh. Kata kamu sih mau melamar pacar kamu yang di Kota A itu," ucap Joana yang datang membawa segelas teh untuk Richard.


Richard semakin terklihat bingung, "Berarti aku sudah punya cewek lain setelah putus dengan Maura, Ma?" tanya Richard seraya bangkit dan duduk. Pembicaraan dengan orang tuanya membuatnya tidak tenang.


"Iya, Sayang. Kata Della kamu sampai rela keluar tengah malam hanya untuk melihat gadis itu." Joana duduk di samping suaminya.


"Apa, Ma?" tanya Richard dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2