Stuck On You

Stuck On You
Darah Lebih Kental dari Air


__ADS_3

Siapakah tujuanmu?


Ku pikir akulah rumah,


Nyatanya engkau hanya sekedar singgah.🥀


🍁🍁🍁


Sebuah rumah mewah dua lantai dengan desain bohemian dengan pagar menjulang tinggi. Setelah lima belas menit Rangga mengendarai mobil ditemani oleh Rizal dan Gio, kini ketiganya berdiri di balik pagar rumah itu. Gio menekan bel beberapa kali. Lima menit kemudian, seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahunan membukakan pintu pagar.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya lelaki itu.


"Kami ingin bertemu Pak Julius Anindya. Apakah beliau ada?" tanya Rangga.


"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu kalian ini siapa?" tanya lelaki tua itu lagi.


"Kita temannya Yuni, Om. Kami ingin bertemu langsung dengan Pak Julius," jelas Rangga.


Lelaki itu nampak kaget, "Non Yuni kenapa? Apakah sesuatu terjadi padanya?" tanya lelaki itu. Wajahnya nampak khawatir.


"Iya Om sesuatu terjadi dengan Yuni dan membutuhkan pertolongan Pak Julius segera," jawab Rangga.


"Tapi tuan sudah tidak mau bertemu Non Yuni lagi," jawab lelaki itu dengan raut wajah sedih.


"Ijinkan kami bertemu dengan beliau. Bagaimanapun hanya Pak Julius satu-satunya yang bisa menolong Yuni," ucap Rangga memohon.


Lelaki itu nampak berpikir sejenak. Julius sudah berpesan bahwa apa saja yang menyangkut Yuni tidak di ijinkan masuk. Namun dia teringat pesan ibu Lusia Anindya, ibu Yuni agar selalu menolong Yuni, "Baiklah..," jawabnya dan siap ambil resiko nantinya.


Rangga, Gio dan Rizal nampak lega. Mereka akhirnya bisa masuk ke rumah itu. Ketiganya berjalan mengikuti lelaki tersebut. Setelah sampai di depan pintu rumah, lelaki itu mempersilahkan Rangga dan kedua sahabatnya untuk duduk menunggu. Nampak seorang wanita sedang menata bunga di ruang tamu. Lelaki itu mendekati wanita yang tampak seumuran dengannya itu. Lelaki itu berbisik dan menganggukan kepala dan menunjuk ke lantai dua. Setelah selesai berdiskusi dengan wanita itu, dia berjalan menuju lantai dua. Dan wanita itu menuju ke dapur menyiapkan minum untuk Rangga dan sahabatnya.


Sepuluh menit kemudian terdengar langkah kaki dari tangga. Rangga, Gio dan Rizal sontak mengangkat kepalanya menuju tangga. Nampak seorang lelaki yang tampan di usianya yang tidak muda lagi. Mengenakan pakaian formal dengan kacamata yang membuatnya terlihat dewasa dengan aura yang sulit dijelaskan.


Dilihatnya lelaki disampingnya, "Maman, kamu bilang ada tamu dari kantor tapi apa ini? Semuanya bocah yang tidak ku kenal. Suruh mereka pulang," ucap Julius dan berbalik menaiki tangga.


"Tolong Yuni, Om," ucap Rangga to the point. Julius menghentikan langkahnya. Membalikan badan dan menatap Rangga tajam.


"Siapa kamu bilang? Tolong siapa?" Julius dengan nada marah.

__ADS_1


"Yuni mengalami luka tembak dan membutuhkan banyak darah. Jadi hanya Om yang bisa menolong Yuni sekarang. Karena golongan darahnya langka, Om," ucap Rangga yang tidak takut dengan tatapan Julius.


"Saya tidak mengenal nama yang kamu sebutkan," ucap Julius dan menatap ke arah lelaki di sampingnya agar menyuruh Rangga dan teman-temannya segera pergi dari rumahnya.


"Apakah anda sudah melupakan putri anda sendiri?" Rangga sudah mulai emosi. Gio dan Rizal berusaha menenangkan.


"Saya hanya memiliki seorang putri. Tidak ada putri lainnya," jawab Julius santai namun dingin.


"Darah lebih kental daripada air, Om. Jangan meniadakan darah daging Anda sendiri." Rangga sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Siapakah kamu berani berbicara demikian hah?!" Julius mulai tersulut emosi.


"Yuni sedang bertahan antara hidup dan mati. Dia membutuhkan pertolongan Om, membutuhkan darah, Om." Rangga kembali menjawab Julius.


"Tolong Yuni, Om," Gio yang dari tadi diam kini memohon pada Julius.


"Iya, Om. Sekali ini aja bantu Yuni, Om. Dia sudah menderita selama ini." Rizal juga ikut memohon.


"Itu sudah takdirnya. Tidak ada pertolongan dari saya. Silahkan keluar dari rumah saya." Julius berbalik dan melangkah menaiki tangga.


"Julius Anindya..,"


🍁🍁🍁


Maura yang menatap Richard tersenyum puas karena Richard menyetujui untuk kembali padanya. Dipeluknya Richard erat untuk beberapa saat.


"Hubungi Papa, lepaskan Della," ucap Maura pada anak buah dibelakangnya.


Richard masih berusaha tenang. Tidak disangkanya, ayah Maura terlibat dalam rencana jahat putrinya. Diberikan senyum paksa pada Maura sampai Della benar-benar sudah aman. Lima belas menit berlalu namun belum ada kabar dari ayahnya.


"Apakah kamu benar-benar sudah melepaskan Della?" tanya Richard memastikan.


Maura yang bergelayut manja di dada Richard hanya menganggukkan kepala.


Setengah jam kemudian ponsel Richard berdering. Namun dengan cepat dimatikannya, agar Maura tidak curiga. Diliriknya Maura sekilas lalu mengirim pesan pada Papanya. Beberapa saat Richard menunggu balasan pesan dari Papanya. Richard sengaja memanjakan Maura, membelai rambutnya sambil menahan berbagai macam rasa berkecamuk di dadanya.


Drt..drt..

__ADS_1


Bunyi notifikasi pesan dari Papanya.


Della sudah aman. Selesaikan sisanya, isi pesan dari Jonas, papa Richard.


Richard meregangkan pelukan Maura. Ditatapnya wajah wanita yang membunuh adiknya Raka dan yang menembak kekasih hatinya. Senyum paksa terukir diwajahnya.


"Aku ada sesuatu buat kamu. Aku ambil dulu," ucap Richard.


"Benarkah? Apa itu?" tanya Maura dengan raut wajah bahagia.


"Ada di mobil. Kamu tunggu disini, aku ambilkan dulu," ucap Richard melepaskan genggaman tangan Maura lalu berjalan keluar dari ruangan yang menyesakkan dadanya itu.


Setelah sampai di depan gedung tua itu Richard mengambil ponselnya, "Sekarang..!!" Richard berjalan menuju mobilnya.


Dari dalam mobil Richard melihat polisi dan anak buahnya memasuki gedung tersebut. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan, namun tidak berlangsung lama. Lima belas menit kemudian, Maura keluar dengan tangan diborgol dan kaki yang bersimbah darah. Diwajahnya nampak menahan rasa sakit. Richard yang melihatnya menahan benci dan berbagai rasa yang bergemuruh di dadanya.


"Akan ku buat membusuk di penjara. Membayar nyawa adikku dan nyawa suamimu yang telah kau bunuh." Richard menginjak gas dan memacu mobilnya meninggalkan gedung tersebut.


Dalam perjalanannya, Richard kembali memikirkan Yuni. Berdoa dan memohon dalam hatinya agar Yuni dapat bertahan. Diambilnya ponsel di dashboard mobil dan menghubungi Fabian.


"Kirimkan alamat rumah Julius Anindya," ucapnya lalu mematikan sambungan telepon tersebut.


Setelah Fabian mengirimkan alamat rumah Julius, Richard mengendarai mobilnya dan menambah kecepatan.


Butuh waktu satu jam agar sampai di rumah Yuni. Namun Richard hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai ke sana. Beberapa kali menerobos lampu merah dan mendapat umpatan dari pengendara lainnya karena melaju dengan kecepatan tinggi.


Sebuah rumah dengan desain bohemian tampak di depannya. Richard memarkirkan mobilnya dengan asal lalu keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah tersebut.


Terdengar dari kejauhan suara orang berdebat. Dipercepat langkahnya dan memasuki rumah tersebut.


🍁🍁🍁


Hallo Hayyyy..


Wish All The Best Be With Us


Dukung Thor dong dengan Like dan vote

__ADS_1


Kritik dan Saran juga boleh


I Love You ♥️


__ADS_2