Stuck On You

Stuck On You
Yuni atau Della I


__ADS_3

Kupikir kebahagiaan itu hadir dan menetap. Namun sayang, dia hanya sekedar mampir lalu pergi.🥀


🍁🍁🍁


"Apa?" Maura dengan nada marah dan mata melotot pada anak buahnya.


"Iya nyonya. Kekasih anda membiarkan Yuni tinggal di apartemennya," jawab lelaki bertubuh kekar yang tersebut.


"Dasar ja**ng. Gue mau hari ini juga lenyapkan dia," ucap Maura dengan nada dingin dan marah.


"Tapi penjagaan di apartemen itu sangat ketat nyonya," ucap lelaki itu lagi.


"Gue ngga mau tahu alasannya. Atau Lo mau ganti ja**ng itu mati?" ucap Maura seraya memegang pistol dan mengarahkannya pada lelaki tersebut.


Drtt..drtt...


Ponsel Maura berdering. Dengan sigap Maura mengangkat panggilan tersebut.


"Gimana?" tanya Maura tanpa basa-basi.


"Sesuai dugaan anda, Nyonya. Sekarang mereka di atap," kata seorang lelaki dari seberang telepon.


"Good.. Lenyapkan dia sekarang," ucap Maura dengan raut wajah sinis sambil tersenyum mengerikan.


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Maura kembali mencari nama di deretan kontak ponselnya. Setelah melihat dan menemukan nama, Maura menelepon orang tersebut.


"Halo, Bos..," sapa seorang di seberang.


"Lakukan sekarang," ucap Maura dengan senyum liciknya.


"Siap, Bos..," jawab lelaki itu.


Maura tertawa senang. Sebentar lagi Richard akan kembali dalam pelukannya. Lima belas menit kemudian ponselnya kembali berdering.


"Beres, Bos," ucap seorang lelaki dari seberang.


Maura mendengar hal tersebut kembali tertawa senang. Digoyangnya gelas wine yang dipegangnya lalu meminumnya sampai habis.


"Goodbye ja**ng..." ucapnya bahagia.


🍁🍁🍁


"Yuni...!!" Teriak Aty histeris. Air matanya mengalir dengan deras. Tangan dan kakinya gemetar. Jantungnya tidak kuat melihat darah yang begitu banyak mengalir dari tubuh Yuni. Dicobanya untuk bangun namun kakinya tidak kuat menopang tubuhnya.


Plang..pletak...


Terdengar suara piring terjatuh dari depan pintu atap. Richard yang sedang membawa buah-buahan sontak melepaskan pegangan tangannya pada piring tersebut. Dengan tergesa-gesa Richard menghampiri Yuni. Menggoyangkan tubuhnya sambil memanggil namanya berkali-kali.

__ADS_1


"Yun.. Yuni.. bangun Yun..," Panggilnya dengan cemas.


Tidak lama kemudian muncul Fabian dan anak buah lainnya. Fabian langsung menghubungi rumah sakit dan memberitahu alamat apartemennya.


Richard membuka baju kaosnya dan menekan pada dada Yuni yang terkena tembakan. Namun darah tidak berhenti mengalir. Richard dengan sigap menggendong tubuh Yuni dan membawanya ke basement apartemen.


"Bertahan Yun..,"


"Kamu kuat..,"


"Jangan pergi.. please..,"


"Aku sayang kamu..,"


Dalam gendongannya, Richard berkali-kali memanggil Yuni dan mengecup keningnya berkali-kali.


Setelah sampai di basement apartemen, Richard memasuki mobil yang sudah disiapkan Fabian. Sambil memangku Yuni, Richard berusaha menekan aliran darah yang keluar dari tubuh Yuni sampai baju kaos yang digunakannya sudah basah karena darah.


"Cepat Fabian!!" Richard panik. Ditatapnya wajah Yuni lalu dikecupnya kening Yuni dan memanggil namanya berulangkali.


Fabian dengan telaten mengendarai mobil. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Pihak rumah sakit sudah siap menunggu kedatangan mereka, karena sebelumnya sudah dihubungi oleh Fabian. Richard membopong tubuh Yuni dan membaringkannya di brankar lalu dilanjutkan oleh tenaga medis rumah sakit tersebut. Seorang tenaga medis melakukan CPR pada Yuni. Richard membantu mendorong brankar tersebut. Setelah sampai di ruang UGD dokter menyuruh Richard untuk menunggu di luar ruangan.


Sudah hampir tiga puluh menit berlalu, Richard menunggu dengan cemas. Berkali-kali diusap kepalanya, menghembuskan nafas kasar dan menggenggam tangannya erat.


"Pak Richard," panggil Fabian yang sudah di samping Richard.


"Iya, Pak. Maura menyewa seorang penembak jitu. Keduanya sudah di tangkap di gedung X ketika hendak melarikan diri. Namun mereka tidak menyebutkan nama Maura dalam penyelidikan tadi," jelas Fabian.


"Tapi Pak ada kejadian di Jakarta," ucap Fabian hati-hati.


Richard mengangkat kepalanya dan menatap Richard, "Apa maksud kamu?"


"Nona Della diculik ketika pulang dari sekolah tadi. Dari tadi Pak Julian menelepon namun Pak Richard tidak membawa ponsel, jadi ayah Anda menelepon ke saya," Jelas Fabian.


"Sial.." Richard mengusap rambutnya kasar. Fabian memberikan ponsel kepada Richard. Dengan cepat Richard menghubungi ayahnya.


"Halo, Pa. Bagaimana dengan Della?" tanya Richard setelah sambungan ponsel terhubung.


"Masih dicari sama anak buah Papa. Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Papanya dengan nada khawatir terdengar jelas ditelinga Richard.


Richard menatap ke arah Fabian. Pasti Fabian memberitahu Papanya tentang kejadian yang menimpa Yuni.


"Masih belum diketahui juga, Pa," jawab Richard.


"Maura sudah bergerak lebih cepat dari perkiraan kita. Papa akan berusaha menemukan Della secepatnya. Jika gadis itu telah sadar, datanglah kesini secepatnya."


Richard terdiam sejenak. Dihembuskan napasnya pelan, "Iya, Pa." Lalu Richard mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Bagaimanapun Richard harus memutuskan langkah terbaik selanjutnya. Dia tidak ingin kejadian dua tahun lalu terulang kembali pada Della. Raka, adik bungsu Richard meninggal karena ulah Maura. Ayah Maura seorang yang kaya raya menutup rapat kasus tersebut dan menyingkirkan barang bukti untuk melindungi putri tunggalnya.


"Fabian, jika Yuni sadar hubungi saya secepatnya," ucap Richard masih dengan wajah muram.


"Baik, Pak," jawab Fabian.


Richard meninggalkan ruangan UGD dan menuju tempat parkir rumah sakit tersebut. Setelah memasang sabuk pengaman, sebuah notifikasi pesan di ponselnya membuatnya berhenti menstarter mobilnya. Dibukanya isi pesan tersebut. Diramasnya kuat setir mobil dan mengumpat kesal dan berkali-kali memukul setir mobil dihadapannya.


'Gedung X jln Melati. Nyawa Della di tanganku.'


🍁🍁🍁


Fabian setia menunggu Yuni di depan ruangan UGD


"Om..," panggil Aty ketika melihat Fabian duduk di ruangan.


"Iya, Nona," Jawab Fabian.


"Bagaimana keadaan Yuni, Om. Dia ngga apa-apa kan?" tanya Aty dengan mata berkaca-kaca. Matanya sudah bengkak karena tidak berhenti menangis sedari tadi.


"Masih belum diketahui, Nona," jawab Fabian.


Aty kembali menangis. Memikirkan sahabatnya yang baru saja bahagia dengan kekasih yang baru kini kembali sakit entah akan hidup atau mati.


"Aty..," Terdengar panggilan seorang lelaki dan diikuti oleh beberapa lelaki di belakangnya.


"Rangga..," panggil Aty dengan suara parau karena menangis.


"Gimana kejadiannya? Kenapa Yuni bisa kena tembak?" tanya Rangga menghampiri Aty dan Fabian.


"G..gue.. juga ngga tahu, Ga. Kita lagi di atap lalu tiba-tiba Yuni dorong gue ke samping dan dia kena tembak. Gitu aja.. cepat banget kejadiannya," ucap Aty sambil menangis. Viki yang melihat Aty dengan tubuh lemah lalu duduk di sampingnya dan meraih kepala Aty dan membenamkannya di dadanya.


Rangga, Gio dan Rizal duduk di kursi berhadapan dengan Fabian, Aty dan Viki. Wajah cemas mereka terlihat jelas, bagaimanapun mereka adalah orang-orang terdekat Yuni.


Lima menit kemudian seorang dokter keluar dari dalam ruangan tersebut membuat semuanya yang duduk menunggu seraya berdiri menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana Dok keadaan teman gue?" tanya Rangga mewakili semuanya.


"Dia kehilangan banyak darah. Kita membutuhkan darah AB negatif dan stok darah tersebut sudah habis. Apakah ada saudara atau orang tuanya, agar bisa mendonorkan darah tersebut?" tanya dokter tersebut. Fabian langsung menghubungi orang-orang yang dikenalnya. Rangga dengan wajah frustrasi mengusap rambutnya kasar.


"Ada yang mau nemenin gue ke rumahnya Yuni ngga?" tanya Rangga pada sahabatnya.


🍁🍁🍁


Vote, Like dan Fav dong


I Love You ♥️

__ADS_1


__ADS_2