
Hanya bisa merindu tanpa harus bertemu. Hanya bisa berharap tanpa harus menatap. Hanya bisa berdoa tanpa harus menyapa..
"Jangan lupa bahagia.."
Yuni mendengar Aty menyebut nama Fabian. Dia nampak senang dengan Fabian yang sudah datang mengunjunginya. Namun dia belum berpakaian karena tadi masih dialihkan dengan keberadaan cincin di jari manisnya.
"Saya dengar nona Yuni sudah sadar, apakah saya bisa melihatnya?" tanya Fabian yang dapat didengar oleh Yuni dari balik pintu.
"Eng... Gini Om, bisa minta waktu lima menit? Yuni baru habis di lap dan belum mengganti pakaian," ucap Aty yang masih menahan pintu agar tidak terbuka lebar.
"Baik.." jawab Fabian mengerti.
Aty segera menutup kembali pintu dan berlari ke arah tempat tidur. Dengan hati-hati membantu Yuni memakai baju dan mengikat rambutnya dengan jedai. Setelah itu diambilnya wadah dan kain lalu menaruhnya di kamar mandi.
Yuni yang melihat Aty hanya tersenyum, "Maaf kalau gue ngerepotin Lo, Ty."
Aty yang keluar dari kamar mandi memandang ke arah Yuni, " Ngga usah ngomong kaya gitu. Gue sahabat lo, jadi sudah seharusnya."
Aty berjalan menuju pintu dan membukakan pintu untuk Fabian, "Mari, Om.."
Yuni melihat Fabian melangkah masuk ke dalam ruangannya. Dilihatnya Fabian wajahnya tampak kusut dan berantakan.
"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Fabian lega.
"Sudah Pak, terima kasih untuk semuanya," jawab Yuni. Dia ingin bertanya mengenai Richard namun diurungkannya.
Fabian menatap Yuni iba. Dia tidak mampu memberitahu Yuni bahwa Richard kecelakaan dan kondisinya sedang kritis. Richard sudah di rujuk ke Jakarta setelah Julian dan Joana, orang tua Richard tiba di rumah sakit beberapa jam yang lalu.
"Bagaimana lukanya, masih sakit?" tanya Fabian lagi.
"Sudah mendingan Pak. Tidak sesakit ketika baru sadar tadi," jawab Yuni.
"Ngomong-ngomong Pak Richardnya mana, Om?" tanya Aty mendahului Yuni, karena dia tahu Yuni pasti malu menanyakan Richard pada Fabian sekarang.
"Ah.. Ehem.. Pak Richard ada urusan penting di Jakarta. Jadi beberapa jam yang lalu sudah berangkat ke Jakarta." Fabian berbohong pada kedua gadis itu. Dia tidak tega memberitahukan Yuni tentang keadaan Richard. Apalagi Richard berpeluang amnesia akibat benturan keras dikepalanya saat kecelakaan tadi.
"Oh..." jawab Aty lalu kembali mengambil ponsel di atas meja dan menghubungi kedua orang tuanya.
Yuni hanya terdiam, tidak berbicara ataupun tersenyum. Sedikit pedih dihatinya, karena Richard pergi dan tidak menunggu dirinya sadar setelah di operasi.
"Nona Yuni.." panggil Fabian ketika melihat wajah Yuni tampak muram.
__ADS_1
"I..iya Pak.." jawab Yuni yang kaget dari lamunannya.
"Nanti Pak Richard kembali. Tunggulah beberapa saat lagi," ucap Fabian menahan sedih karena takut membuat Yuni berharap dengan kedatangan Richard yang entah kapan akan datang.
"Iya Pak. Aku bakalan tunggu kok," ucap Yuni penuh keyakinan.
"Baiklah.." Fabian mengalihkan tatapannya pada ruangan di sekelilingnya karena tidak tega melihat Yuni.
'Maafkan saya Richard, maafkan saya juga Yuni. Maafkan saya juga jika tiba saatnya kalian mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.' Batin Fabian sedih.
Yuni melihat Fabian yang kacau dan raut wajahnya muram, "Pak Fabian ngga apa-apa?"
"Oh saya tidak apa-apa. Kalau begitu saya pulang dulu. Nanti malam saya kembali," jawab Fabian pamit kepada Yuni dan berjalan keluar ruangan rawat itu.
Yuni merasa ada yang disembunyikan oleh Fabian. Melihat Fabian tampak kusut dan sedang memikirkan sesuatu. Namun Yuni berusaha tersenyum dan menimpali ucapan Fabian,"Hati-hati ya Pak.."
Fabian hanya menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan Yuni sendiri. Yuni melihat ke sana kemari mencari ponsel miliknya, namun tidak dilihatnya.
"Cari apa, Yun?" tanya Aty ketika memasuki ruangan dan melihat Yuni sedang mencari sesuatu.
"Lo lihat ponsel gue ngga?" tanya Yuni.
"Ada di dalam tas, gue ambilin yah," jawab Aty lalu berjalan menuju lemari dan membuka tas milik Yuni yang sudah disiapkan oleh pekerja apartemen Richard.
"Makasih, Ty.." ucap Yuni lalu mulai menghidupkan ponselnya.
Setelah menghidupkan ponsel dan menunggu beberapa saat, Yuni mulai risau dan kecewa karena tidak ada pesan atau telepon dari Richard.
'Apakah dia sudah ngga peduli sama aku lagi..?' Yuni menyimpan ponsel di tempat tidur dan mencoba menunggu kalau-kalau Richard menelepon atau mengirim pesan padanya.
Satu jam berlalu, begitu pula tidak terhitung kan Yuni mengecek ponselnya berulangkali. Hal itu juga diperhatikan oleh Aty yang mengamatinya diam-diam.
Hari sudah mulai gelap. Aty yang sedang membersihkan diri di kamar mandi mencoba berpikir dan menebak dengan sikap Richard. Melihat Richard yang begitu tulus menyayangi Yuni dan orang yang paling khawatir dengan keadaan Yuni setelah tertembak di rooftop apartemennya. Dia yakin Richard tidak mungkin pergi meninggalkan Yuni sebelum sadar setelah di operasi.
"Gue harus nanya lagi di Om Fabian besok," ucap Aty yang melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.
Yuni berdiam diri dan kembali berpikir dengan apa yang dilakukan Richard. Berkali-kali mengecek ponselnya tanpa rasa lelah. Rasa sesak dan gelisah dirasakannya. Namun Yuni berkali-kali menarik napas dan menghembuskannya.
Aty keluar dari kamar mandi dan melihat Yuni nampak gelisah. Aty merasa iba pada sahabatnya. Setelah memutuskan hubungan dengan Adrian beberapa minggu yang lalu kini kembali gelisah dengan Richard yang tanpa kabar.
"Yun.. nonton film yuk.." ajak Aty berusaha mengalihkan apa yang dipikirkan oleh Yuni,
__ADS_1
"Film apa, Ty?" tanya Yuni pelan.
"Gimana kalau drakor?" tanya Aty lagi.
"Boleh.. Tapi yang tentang penulis gitu ada?" tanya Yuni antusias.
Aty yang melihat Yuni mulai teralihkan merasa sedikit lega, "Ada kok, judulnya Because This Is My First Life oleh abang Lee Min-ki dan si cantik Jung So-min," jawab Aty semangat seraya mengambil laptop dari tasnya yang di antar oleh sopir dari rumahnya beberapa saat yang lalu.
Yuni yang tidak mengenal aktor dan aktris Korea hanya manggut-manggut dan melihat Aty mengambil laptop.
Tok..tok..
Aty yang memegang laptopnya berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Selamat malam. Waktunya pasien makan malam.." Seorang suster membawa makanan untuk Yuni.
Aty yang melihat menu makanan itu hanya menelan air liurnya.
'Buset.. Gue pengen sakit aja kalau kaya gini..' Batinnya dalam hati.
"Makasih ya, Sus.." ucap Yuni.
"Sama-sama.." jawab suster itu ramah lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
"Ini rumah sakit pelayanannya luar biasa banget yah.." puji Aty sambil memeluk laptopnya.
"Iya.. namanya juga VIP, Ty.." jawab Yuni.
"Berapa harganya yah kalau pelayanannya mewah kaya gini?" Aty menyadari pertanyaannya membuat Yuni kembali memikirkan Richard.
"Ngga tahu juga, Ty.. Tanya sama Pak Fabian aja," jawab Yuni yang merasa kurang nyaman dengan apa yang diterimanya. Sedangkan Richard belum memberikan kabar padanya.
'Apakah lagi musim? Patah hati sebelum memulai dan kehilangan sebelum memiliki?' Batin Yuni.
πππ
Semoga Baper yahππ
Yeah, I Wishππ
__ADS_1
Vote, Like dan Rate yah
I Love You β₯οΈ