
"Lo disuruh Karel ya?" tuding Nadia dengan mata menyipit menatap Dita
Dita memutar matanya malas "nggak Nadiaa. Gue aja sampe capek liat dia usaha deketin lo, tapi lo nggak ada responnya sama sekali"
"Bukan nggak ada respon, Dit. Lo tau sendiri gue kek gimana"
"Maka dari itu, lo banyakin ngobrol sama orang lain. Coba berinteraksi lebih banyak, dan satu lagi, coba lo buka hati lo"
"Nggak ada waktu gue" ujar Nadia dengan kekehannya
"Gimana ada yang mau deketin lo, kalo lo sendiri nutup diri, nutup hati lo buat siapapun" ucap Dita agak geregetan
Nadia menatap malas Dita "lo juga tau kalo gue tipe-kal orang yang susah beradaptasi. Butuh waktu panjang buat nerima orang baru di hidup gue"
"Seenggaknya kan lo ngasih dia kesempatan, apalagi kalian ada urusan bareng"
Nadia mengerutkan alisnya "urusan apa?"
"Ya itu, olimpiade itu lho, lo bisa coba mahamin karakter Karel, siapa tau aja lo ngerasa nyaman sama dia" ujar Dita
"Lo tau kasur?" tanya Dita, yang dijawab Dita dengan anggukan
"Nah, itu yang selama ini buat gue nyaman" kekeh Nadia setelahnya
"Adawww, sakit bangke" teriak Nadia sembari mengelus lengannya yang dicubit keras oleh Dita
"Rasain. Gue tuh lagi serius tau. Lo malah becanda gitu"
"Lo bilang gue harus banyak berinteraksi. Gimana si lo"
"Ya nggak ke gue juga oneng" jawab Dita manyun
"Tapi katanya lo udah pernah jalan sama Karel. Kok lo nggak pernah cerita sama gue" tanya Dita dengan penasaran
"Yaelah. Ngga penting buat diceritain, Dit"
"Nggak penting gimana? Berarti usaha Karel udah ada kemajuan kalo gitu" Dita makin penasaran untuk mendengar cerita dari sudut pandang Nadia
Kemarin, saat Karel mengunjungi Dita, banyak yang Karel ceritakan. Tentang makan malam keluarga Karel dan keluarga Nadia, soal Karel yang mengajak Nadia ke taman setelah makan malam itu, hingga soal Nadia dan Karel yang belajar untuk olimpiade nanti.
Dita tau semuanya. Hanya saja, Dita hanya ingin mendengar cerita mereka dari sudut pandang Nadia, sahabatnya. Ia sangat penasaran respon Nadia ketika berhadapan dengan Karel, yang notabenya cowok pecicilan. Membayangkannya saja Dita sudah tertawa. Apalagi jika Dita melihatnya sendiri. Pasti sangat seru. Melihat Nadia yang irit bicara, di hadapkan dengan Karel yang cerewet
"Panjang ceritanya. Bisa jadi novel kalo gue cerita" ujar Nadia
Dita berdecak "Hiperbola lo"
__ADS_1
"Ah udah lah. Itu pak Andi udah dateng" ucap Nadia yang menunjuk ke arah pintu. Pak Andi sudah memasuki kelas.
"Siapkan selembar kertas, kita akan melaksanakan ulangan harian" ucapan Pak Andi membuat anak-anak kelas berdecak malas. Ada juga yang panik. Dita salah satunya. Dita terlihat panik dan berbisik pelan ke arah Nadia
"Nad, please contekin gue ya" ujar Dita dengan wajah di melas-melaskan
Nadia terkekeh sembari mengedikkan bahunya. Sudah tidak heran, jika Pak Andi mengadakan ulangan dadakan.
"Yaampun Pak, udah siang ini, otak saya udah nggak fresh"
"Pak, pending dulu dong, saya belum belajar"
"Woy, minta kertas dong, bolpoint sekalian"
"Bro, kalo gue batuk, lo liat gue ya. Gue mau minta contekan"
"Eh, cepet nulis rumus di tangan"
Begitulah celetukan-celetukan anak-anak kelas. Membuat Pak Andi menggelengkan kepalanya "sudah, kerjakan soal yang sudah saya tulis di papan tulis. Jangan ada yang mencontek"
"Ssttt, Nad. Gue nggak belajar sumpah" bisik Dita sembari mengusap wajahnya kasar
Nadia menengok ke arah Dita "diem. Entar gue kasih 3 jawaban aja"
"Yaah. Kan ada 10 soal, Nad. 5 deh ya" tawar Dita menampilkan wajah memelasnya
"Eh eh eh, kok jadi berkurang sih" Dita panik mendengar ujaran Nadia
"Yaudah 3. Gak usah nego lagi" jawab final Nadia
"Dita, Nadia, kerjakan. Jangan ngobrol terus kalian" ucap Pak Andi memperingatkan
Nadia dan Dita kembali mengerjakan soal ulangan yang diberikan Pak Andi. Beberapa kali terdengar decakan, batuk yang dibuat-buat, jentikkan jari yang mengisi suasana ulangan kali ini
\*\*\*\*\*
Sepulang sekolah Nadia sudah dijadwalkan untuk jam tambahan untuk olimpiade. Jam tambahan itu hanya satu jam. Membahas soal-soal yang tidak di mengerti oleh Nadia maupun Karel
Nadia sudah berdiri di depan gerbang. Menunggu Mang Yudi datang menjemput. Sekolah sudah agak sepi. Hanya beberapa siswa saja yang masih memiliki kepentingan yang masih berada di sekolah. Deru sepeda motor terdengar, lalu berhenti di depan Nadia. Nadia sudah hafal dengan suara motor itu. Ya, Motor milik Karel
"Mang Yudi belum jemput, Nad?" tanya Karel sembari membuka kaca helmnya
Nadia menggeleng "belum" ujarnya mengotak-atik ponselnya. Berusaha menghubungi Mang Yudi
Alis Nadia bertaut, melihat nama mamanya yang terpampang di layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo ma"
"Halo, sayang. Kamu udah pulang?" tanya mama di sebrang telepon
"Udah ma. Ini lagi nunggu Mang Yudi" jawab Nadia
"Sayang, kamu naik grab, atau taksi aja ya, soalnya Mang Yudi lagi nganterin mama belanja bahan makanan" ujar mama
Nadia membelalakan matanya "kenapa nggak Bi Inah aja sih ma"
"Bi Inah lagi mama suruh masak. Bahan makanan dirumah kita tinggal yang sekarang bi Inah masak doang"
Jawaban mama membuat Nadia menggaruk pelipisnya "kenapa nggak telepon dari tadi. Kan Nadia nggak usah nunggu"
Mama terkekeh di seberang telepon "mama lupa, sayang. Yaudah kamu hati-hati ya"
"Iya. Mama juga hati-hati"
Nadia menutup teleponnya. Lalu melihat Karel yang juga sedang melihatnya dengan alis terangkat. Sepertinya Karel mendengar obrolannya dengan mama ditelepon
"Naik. Gue anter sampai rumah" ujar Karel melihat jok belakang sekilas, mengintrupsi Nadia untuk Naik ke atas motornya
Nadia tampak celingak-celinguk melihat sekitar yang sudah terlihat sepi. Menimang-nimang ajakan Karel
Karel mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban Nadia. Tak lama Nadia mendekati motor Karel, lalu tangannya bertumpu pada pundak Karel sebelum ia mendudukkan dirinya di jok belakang. Setelah memastikan Nadia sudah siap, Karel menjalankan motornya meninggalkan area sekolah
"Nad, gue laper. Kita minggir sebentar ya" ujar Karel agak teriak karena beradu dengan suara kendaraan lainnya
"Jangan lama-lama" ujar Nadia dengan keras juga
Karel memberhentikan motornya di salah satu warung bakso pinggir jalan. Keduanya turun, lalu memasuki warung itu "bu, baksonya 2 mangkok ya"
"Minumnya apa mas?" tanya ibu warung
"Es teh manis aja bu 2" ujar Karel, lalu duduk di kursi panjang yang sudah disediakan
"Permisi mas, mbak, ini baksonya" ujar ibu warung itu meletakkan dua mangkok bakso dihadapan Karel dan Nadia
"Makasih bu" ucap Karel yang di jawab dengan senyuman oleh ibu warung itu
"Dimakan, Nad. Gratis kok" ujar Karel yang sudah mengunyah bakso
Nadia menyendokkan baksonya, lalu memakannya, sembari berfikir dengan omongan Dita tadi siang
'Kalo diliat-liat Karel apa adanya. Nggak neko-neko kayak cowok lain yang makan harus direstoran mewah' batin Nadia
__ADS_1
'Apa gue ikutin kata Dita aja, coba buka hati gue buat Karel?' batin Nadia sembari menatap Karel yang fokus melahap baksonya