
Fabian dan Yuni saling bertatapan namun tidak menjawab pertanyaan Aty. Hal itu membuat Aty kesal.
"Oke kalau ngga di jawab. Gue bisa cari tahu sendiri." Aty melangkah masuk. Fabian dan Yuni hanya mengernyitkan dahi dan tersenyum.
"Kalau udah tahu jangan ngegas yah. Kontrol suara Lo juga," ucap Yuni menahan tawa. Dalam benaknya, Yuni yakin bahwa akan heboh nantinya jika Aty tahu dimana dia sekarang.
Aty menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Yuni dan Fabian bergantian. Sambil mengernyitkan dahi dan menerka, "Kok Lo bisa nginap di apartemen mewah kaya gini. Papa Lo kan?"
Yuni tertawa dan mengangkat kedua bahunya,"Salah.. Nanti juga Lo tahu. Orangnya ada di meja makan."
"Lo bikin gue penasaran tahu ngga. Om, ini rumah om kan?" Aty berusaha tanya di Fabian.
"Bukan Nona. Saya asistennya," jawab Fabian.
Aty melipat tangannya di dada lalu menatap ke arah Fabian, "Kalau gitu aku tanya Om saja. Siapa pemilik apartemen ini?"
"Yang jelas bos saya, Nona.." jawab Fabian ikut mengerjai Aty. Yuni yang disampingnya hanya tertawa melihat wajah Aty yang kesal.
"Kalian yah benar-benar ngeselin. Dimana dapurnya gue mau liat siapa tu orang sampai-sampai ngeselin kaya gini, mana ni apartemen gede banget lagi." Suara Aty yang khas mulai nampak.
"Depan sana lalu belok kanan,Ty.." jawab Yuni, lalu ketiganya berjalan menuju ruang makan.
"Yun, bukannya si Goblin tinggal di apartemen ini juga kan? Kamu sama Rangga yang bilang tempo hari." tanya Aty.
Yuni hanya menaikkan alisnya seraya tersenyum namun tidak menjawab. Ketiganya memasuki ruangan makan.
Aty melihat seorang lelaki yang tampan tampak dari belakang. Kaos hitam yang dikenakan lelaki tersebut sangat pas di badannya. Menampilkan beberapa otot di lengannya.
"Kamu sudah sampai?" tanya Richard berbalik melihat Aty yang berdiri mematung.
Deg....
Aty mati kutu. Kaget dan juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Barusan kok. Aty kenalkan dia pemilik apartemen ini," ucap Yuni menahan geli melihat wajah Aty yang pucat.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Aty. Masih berdiri dengan wajah tidak percaya dan bingung.
"Kamu ngga apa-apa?" tanya Richard lagi karena Aty terus diam dan menatapnya tanpa berkedip.
Aty yang masih belum merespon membuat Yuni berjalan mendekatinya dan menyadarkan Aty dari lamunannya. Fabian yang melihat hanya menahan tawa. Fabian tahu dengan sikap Richard di kampus yang killer dan juga dingin, membuat banyak mahasiswa takut padanya.
"Aty..'' Panggil Yuni seraya menggoyangkan tubuh Aty.
"I..iya iya..." jawab Aty gelagapan.
"Kamu ngga apa-apa?" tanya Richard lagi.
"Tidak apa-apa, Pak.." jawab Aty cepat.
__ADS_1
"Maaf mengejutkanmu.." kata Richard lagi.
"Tidak, Pak. Saya yang berlebihan kagetnya," ucap Aty lalu menatap ke arah Yuni meminta penjelasan. Yuni yang sudah mengerti dengan tatapan Aty hanya menaikkan bahunya dan tersenyum menjahili.
"Sudah.. Lebih baik kita sarapan dulu sambil ngobrol." Ajak Yuni menyudahi suasana canggung antara Aty dan Richard.
"Ayo.." Ajak Richard juga.
Aty yang melihat interaksi antara Yuni dan Richard merasa heran, karena keduanya nampak sangat akrab. Aty menginjak kaki Yuni, membuat Yuni kaget dan melihat ke arahnya.
"Selesai sarapan jelasin semuanya ke gue. Ngga mau tahu," bisik Aty pelan.
"Iya.." jawab Yuni pelan. Lalu mulai mengambil sarapan dan menaruhnya di piring.
Sarapan yang dibuat Yuni sangat lezat. Sayur sup yang dibuatnya sangat pas di lidah. Richard yang diam-diam memuji gadisnya menatap ke arah Yuni dengan tatapan kagum. Hal itu tidak luput dari perhatian Aty. Membuat Aty kembali yakin bahwa ada sesuatu di antara keduanya.
Setelah selesai sarapan Aty membantu Yuni mencuci piring dan membersihkan dapur. Richard dan Fabian masuk ke ruang kerja untuk mendiskusikan masalah yang sedang dihadapi.
"Goblin ngga ngapa-ngapain Lo kan?" Bisik Aty pelan.
Yuni yang sedang menaruh piring tertawa lucu, "Ngga Ty. Gue aman ko disini."
"Gimana ceritanya bisa sampai di sarangnya Goblin Yun?" tanya Aty penasaran.
"Panjang deh ceritanya. Selesai beres-beres kita cerita di kamar biar aman," jawab Yuni lalu melanjutkan membersihkan dapur.
Di dalam ruang kerja, Richard sedang melihat CCTV di pinggir jalan dekat apartemennya. Richard yakin bahwa ada yang memberitahu Maura keberadaan rumah Yuni dan tempat kerjanya. Setelah melihat rekaman CCTV tersebut, Richard hanya menghembuskan nafas kasar. Siska, saudari tiri Yuni bekerja sama dengan Maura. Sudah berkali-kali Siska membuat Yuni menderita. Sekarang bekerja sama dengan Maura yang sedang mengalami depresi berat.
"Fabian, hentikan kerjasama dengan perusahaan Anindya.." ucap Richard.
"Tapi itu kan perusahaan orang tuanya nona Yuni, Pak.." jawab Fabian bingung.
"Hentikan saja," ucap Richard tegas.
"Baik, Pak.." jawab Fabian tidak berani membantah lagi.
Disaat Yuni mengalami hal buruk tidak ada keluarga yang menguatkannya. Pewaris dari keluarga Anindya malah di usir kekuar dari rumah. Sekarang Siska sudah berani bertindak lebih. Richard ingin memberi pelajaran pada keluarga Anindya.
"Tetap amati pergerakan Maura.." ucap Richard lagi.
"Iya, Pak.." jawab Fabian kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah Fabian meninggalkan ruangan kerjanya, Richard mengambil ponsel dan menghubungi Bryan.
"Halo, Bro.." Terdengar suara dari seberang dengan nada semangat.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Richard tanpa basa-basi.
"Sejauh ini masih aman terkendali. Belum ada pergerakan dari anak buah Maura.." jawab Bryan.
__ADS_1
"Oke, makasih.." ucap Richard lalu mematikan sambungan teleponnya.
Di Kamar Yuni
Aty yang sudah tidak sabar mendengar cerita dari Yuni sudah duduk di atas ranjang seperti anak kecil yang siap mendengarkan kisah dongeng dari orang tuanya.
"Ngga sabar amat jadi orang," ucap Yuni.
"Gue beneran udah pengen banget denger ceritanya," kata Aty lagi.
"Jadi gini, kemarin setelah pulang dari rumah Lo, Pak Richard udah nunggu gue di rumah." Yuni mulai menceritakannya.
"Kok bisa?" tanya Aty heran.
"Gue aja yang liat ngga percaya," ucap Yuni.
"Terus dia ngomong apa?"
"Dia ajak gue buat nemenin dia ke pantai. Gue iya aja gitu takut nolak," jelas Yuni.
"Buset dah si Goblin.. Terus apa yang kalian lakukan di pantai?" tanya Aty lagi.
"Mm...mm apa yah.." ucap Yuni mengingat kejadian kemarin di pantai Richard menyatakan perasaannya.
"M m m apaan?" tanya Aty lagi
"Tapi lo jangan marah yah, jangan ngegas juga," ucap Yuni memperingati sahabatnya.
"Iya gue ngga marah. Tapi kalau dia apa-apain Lo baru gue marah sampai mengamuk di kampus sekalian," jawab Aty.
"Beneran..?"
"Iya lah, Yun. Sejak kapan gue bohong," tukas Aty dengan sungguh-sungguh.
"Dia menyatakan perasaannya ke gue," ucap Yuni hati-hati.
"Ngga usah main gila deh. Mending lo jawab yang jujur," jawab Aty tidak percaya dengan ucapan Yuni.
"Tuh kan Lo ngga percaya, apalagi gue," ucap Yuni.
"Emangnya bener?" Aty dengan mata melotot tidak percaya.
"’Iya, Ty.." jawab Yuni meyakinkan Aty.
"HAH.....!!???"
🍁🍁🍁
To be continue🌹
__ADS_1