
Hatiku selalu berperang dengan pikiranku. Mempertahankanmu atau melepaskan..🥀
🍁🍁🍁
"Operasinya berhasil dan peluru juga sudah berhasil diangkat. Pasiennya masih belum sadar," jelas dokter tersebut.
"Terima kasih banyak, Dok.." ucap Richard lega.
"Sama-sama. Silahkan masuk untuk melihat pasien," ucap dokter mempersilahkan Richard dan yang lainnya masuk lalu melangkah pergi.
Ketika hendak melangkah masuk, Richard membalikkan badannya dan melihat ke arah Fabian memberi instruksi agar tetap berjaga di depan ruangan tersebut. Fabian langsung pada posisinya ketika mengerti instruksi dari Richard walaupun hanya lewat tatapan mata.
Richard membuka pintu dan dengan semangat ingin melihat keadaan Yuni. Setengah hari tidak melihat kekasihnya dan terus membuat hatinya gelisah dengan keadaannya. Rindu dan gelisah meliputinya sepanjang hari ini.
Perasaan lega Richard rasakan ketika melihat Yuni terbaring di atas tempat tidur. Dihampirinya gadis pujaan hatinya, dilihatnya wajah Yuni yang pucat dan dibantu alat pernapasan, lalu diusapnya lembut rambut hitam gelombang itu dan dengan tulus mengecup lembut kening gadis yang masih belum sadar itu. Manik hitamnya menahan pedih karena Yuni harus mengalami peristiwa yang disebabkan oleh kecemburuan Maura.
"Lekaslah sadar, aku merindukanmu.." ucap Richard lirih lalu menggenggam tangan Yuni erat. Rasa bersalah dan sedih meliputi hatinya.
Terdengar pintu ruangan dibuka. Fabian dengan tergesa-gesa melangkah masuk, "Ada masalah, Pak."
"Masalah apa?" tanya Richard tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Yuni.
"Joe Dexunta ada di apartemen anda sekarang, Pak.." ucap Fabian hati-hati karena melihat raut wajah Richard sepanjang hari ini sangat muram.
Richard sudah menduganya, bahwa Joe Dexunta akan datang menemuinya, "Biarkan dia menunggu."
Fabian tampak kaget mendengar perkataan Richard, bagaimanapun Joe Dexunta adalah pemilik perusahaan yang menjadi rival perusahaan ayahnya. Namun Fabian sudah lama bekerja dengan Richard, dia yakin Richard sudah mempersiapkan semuanya untuk menghadapi Joe Dexunta, ayah Maura, "Baik, Pak.." jawab Fabian lalu melihat keadaan Yuni sebentar dan keluar dari ruangan itu.
Richard kembali menatap wajah Yuni. Tangan kirinya menggenggam telapak tangan Yuni dan tangan kanannya mengusap rambut Yuni lembut. Dengan menatap wajah Yuni saja mampu membuat Richard tenang. Tangan Yuni yang digenggamnya memberikan kehangatan yang mampu menenangkan gejolak dihatinya.
Drt..drt..
Ponsel Richard bergetar. Sebuah panggilan dari ayahnya.
"Halo, Pa.." sapa Richard.
"Bagaimana hasilnya?"
"Maura sudah ditangkap. Namun sekarang Joe Dexunta menungguku di apartemen," jelas Richard.
"Joe Dexunta... Papa serahkan semuanya sama kamu. Hati-hati menghadapi dia. Dia licik dan berbahaya."
__ADS_1
"Iya, Pa.." jawab Richard.
"Bagaimana dengan gadis itu?"
"Operasinya berhasil, namun belum sadar, Pa.." jawab Richard.
"Jika telah sadar bawalah dia juga kesini."
Richard mengernyitkan keningnya. Dirinya yakin Fabian pasti sudah menceritakan semua tentang Yuni pada ayahnya, "Baik, Pa.."
"Ingat pesan bapak, Richard." Lalu Julian memutuskan sambungan telepon tersebut.
Setelah berbicara dengan papanya, Richard memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan bertemu Joe Dexunta. Namun dia enggan meninggalkan Yuni dan menunggunya sampai sadar. Tapi dia juga harus menyelesaikan masalah dengan Joe Dexunta secepatnya.
Melihat Yuni yang terbaring lemah dengan napas teratur, Richard mengambil kotak cincin berwarna maroon yang sudah dibelinya sejak lama. Dibukanya kotak itu lalu mengambil cincin dan memasangkannya di jari manis Yuni. Kemudian Richard mengambil cincin yang satunya lagi dan memasangkannya di jari manisnya. Dikecupnya kening Yuni sebelum meninggalkan ruangan itu.
Seseorang yang hendak masuk untuk melihat keadaan Yuni menyaksikan semua itu. Rasa sakit dan cemburu ditahannya. Lalu dengan pelan menutup kembali pintu dan berjalan menuju sahabat-sahabatnya yang masih setia menunggu Yuni sadar.
"Kok cepat Ga liat Yuninya?" tanya Rizal yang sedang asik memainkan ponselnya.
Rangga yang nampak kesal menahan pedih kemudian berusaha tersenyum, "Masih ada Pak Richard, ngga enak gue."
Rizal dan Gio hanya manggut-manggut dan kembali sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Iya, Pak.." jawab Fabian sambil berjalan menghampiri Richard.
"Tetap berjaga disini. Saya akan menemui Joe Dexunta sekarang," ucap Richard.
"Tapi, Pak.." balas Fabian.
"Aku percayakan Yuni sama kamu," ucap Richard lagi lalu berjalan meninggalkan Fabian diiringi tatapan bingung dari Rangga dan sahabat-sahabatnya.
Fabian khawatir dengan keadaan Richard. Pesan dari Julian, ayah Richard agar jangan membiarkan Richard berjalan sendiri. Mengingat Joe Dexunta akan melakukan segala cara untuk balas dendam dengan apa yang dialami putrinya. Fabian hanya menghembuskan nafas kasar dan menghubungi rekan kerjanya agar melindungi Richard sampai ke apartemennya.
"Ga, udah ngga ada orang tu. Ayo kita lihat keadaan Yuni," ucap Rizal pada Rangga dan Gio.
"Ayo.." jawab Rangga dan Gio bersamaan.
Ketiganya memasuki ruang rawat itu meninggalkan Fabian dengan pikiran cemas.
Setelah sampai di dalam ruangan, Rangga langsung tertuju pada jari manis Yuni. Cincin dengan permata yang indah. Dipastikan bahwa harganya sangat mahal. Rangga berusaha mengatur nafasnya dan kembali menatap ke wajah Yuni.
__ADS_1
"Ga, kok wajah Lo kusam gitu?" tanya Gio.
"Gue ngga apa-apa," jawab Rangga.
"Yuni sedikit lagi sadar, Ga. Ngga usah khawatir lagi." Rizal berusaha menguatkan Rangga. Mereka tahu bahwa Rangga menyimpan rasa pada Yuni sejak mereka masuk kuliah.
"Iya.." jawab Rangga berusaha tersenyum dan tidak ingin terlihat lemah di depan sahabat-sahabatnya.
🍁🍁🍁
Richard berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran. Sesekali dia memutar-mutar cincin di jarinya.
"Pak Richard.."
Richard menghentikan langkahnya dan menoleh mencari sumber suara, "Hm.." jawab Richard datar.
"Bapak mau kemana?" tanya Siska sambil berjalan mendekati Richard.
"Pulang.." jawab Richard datar dan singkat lalu kembali berjalan meninggalkan Siska yang nampak kesal karena Richard begitu dingin dan datar menjawabnya.
Sesampainya di parkiran, Richard memasuki mobilnya. Setelah duduk dan memasang sabuk pengaman, dia melihat cincin di jarinya lagi lalu men-starter mobilnya. Dalam perjalanan Richard tidak menyadari ada dua mobil sedan hitam membuntutinya. Setelah berhenti di lampu merah Richard mendengar notifikasi pesan di ponselnya. Richard membaca isi pesan tersebut.
'Pak Richard, anak buah Joe Dexunta ada dibelakang mobil anda. Berhati-hatilah Pak.'. Isi pesan dari Fabian.
Richard melihat ke arah spion mobilnya. Diangkatnya bibir dan tersenyum sinis dan mulai memacu mobilnya ketika lampu hijau menyala.
Setelah menyadari bahwa anak buah Joe Dexunta membuntutinya, Richard mempercepat laju mobilnya. Aksi kejar mengejar terjadi antara Richard dan anak buah Joe Dexunta. Ada sebuah mobil hitam dibelakang mobil anak buah Joe Dexunta, itu adalah mobil anak buah Richard atas perintah Fabian. Mobil itu berusaha melewati anak buah Joe Dexunta namun selalu dihalangi oleh mereka.
Richard kembali menambah kecepatan laju mobilnya lagi dan lagi. Sesekali melihat ke arah kaca spion mobil dan kembali fokus pada jalanan.
Beberapa kali anak buah Joe Dexunta menembaki mobil Richard dan menabraknya dari belakang namun Richard tetap lolos dari aksi mereka. Richard dengan lincah mengemudikan mobilnya, senyum kecut terukir di bibirnya.
Namun tiba-tiba...
PRAKKKKKKK......!
🍁🍁🍁
Hallo hayy
Dikarenakan aku harus revisi beberapa bab sebelumnya, jadi terlambat up yah..
__ADS_1
Vote dan like dong 🤗🤗
I Love You ♥️