
Jangan meremehkan rasa cemburu seorang wanita, engkau tidak akan pernah tahu apa yang bisa dilakukannya.π₯
πΌπΌπΌ
Aty dan Yuni mengikuti Richard menuju kolam renang.
"Lo belum keliling ni apartmen ya, Yun?" tanya Aty sambil berbisik di telinga Yuni.
"Belum, Ty. Gue aja baru kamar sama dapur." Balas Yuni kembali berbisik di telinga Aty.
Aty dan Yuni kembali terdiam sambil mengikuti Richard. Setelah berjalan menelusuri lorong dan menaiki tangga, mereka sampai di atap yang langsung di sambut oleh aneka roof garden yang cantik. Ada kamboja Jepang, kaktus, melati, lidah mertua, jeruk dan mawar. Ada sebuah mini gazebo di samping kolam renang, kursi untuk berjemur yang di tata rapi di samping kolam dan lantai kayu yang memberikan kesan natural.
"Wow ini rooftop terkeren yang pernah gue lihat," ucap Aty kagum.
"Di rumah Lo kan juga ada rooftopnya," jawab Yuni menimpali.
"Tapi hanya ada gazebo dan tanaman rambat. Ngga sekeren ini sih," jawab Aty.
"Kalian mau berenang atau bersantai silahkan. Aku ke bawah dulu," ucap Richard.
"Iya, Pak. Makasih.." jawab Aty sopan.
"Oke. Have fun." Richard mengusap lembut kepala Yuni lalu meninggalkan keduanya. Aty yang melihat hal tersebut hanya menelan ludah.
"Iya.." jawab Yuni sambil tersenyum.
"Bikin gue pengen banget punya pacar.." ucap Aty menatap Yuni kesal.
"Cari sana biar ngga nelan ludah seperti tadi." Yuni sambil tersenyum menatap ke arah Aty lalu berjalan menuju gazebo.
"Belum ada yang berkenan untuk mengisi kekosongan hati," jawab Aty santai mengikuti Yuni dan duduk di gazebo.
"Puitis amat jawabannya. Tapi si Viki kayanya naksir Lo deh."
"Naksir apaan, tiap hari kerjaannya ganggu gue mulu."
"Itu tandanya dia betah dan nyaman di dekat Lo."
"Ngga ada cerita orang nyaman sama kita tapi bikin kita ngga nyaman."
"Kan biasanya gitu. Pertama dia bikin Lo kesal, lalu nyaman dengan tingkahnya dan kemudian Lo rasa ada yang kurang kalau dia ngga ada di dekat Lo atau menghilang gitu aja."
"Gue lebih memilih sampai di tahap kesal aja. Jangan sampai ke tahap selanjutnya yang bikin gue harus sama dia. Gue ngga mau."
"Kita liat aja nanti. Apakah Lo bisa atau ngga."
"Pasti bisa lah, Yun. Cowok impian aku kan tipenya bertolak belakang sama Viki."
"Seiring berjalannya waktu yang namanya tipe ideal atau apapun itu bakal kalah sama orang yang udah bikin Lo nyaman."
__ADS_1
"Bahas lain aja yah. Gue ngeri kalau gue beneran jadi sama Viki. Ngga kebayang gimana hidup gue."
"Lo juga harus mikir gimana kalau itu benar-benar terjadi."
"Yaelah, Yun. Ganti topik ngga usah bahas itu lagi."
Yuni hanya tersenyum melihat sahabatnya yang salah tingkah. Yuni tahu kalau Viki menyukai Aty, karena Viki menanyakan semua hal yang menyangkut Aty tempo hari di kampus. Aty yang masih malu-malu karena belum pernah berpacaran hanya berusaha mengalihkan pembicaraan setiap kali membahas tentang Viki. Antara Viki dan Aty saling menyukai hanya keduanya jika dekat seperti tikus dan kucing, tidak pernah mau akur. Yuni hanya geleng-geleng kepala jika mengingat tingkah laku keduanya.
"Pemandangan dari sini benar-benar indah, Yun. Mungkin karena apartemen ini bangunan tertinggi di kota ini yah jadi bisa lihat semua yang ada dalam kota," ucap Aty kagum dan berdiri menepi pada pinggir atap tersebut.
"Iya, Ty. Kenapa tidak bikin hotel aja yah si Goblin," jawab Yuni sambil melihat hamparan bangunan di samping Aty.
"Tumben manggil Goblin. Sejak tadi ngga tuh," goda Aty.
"Terus gue harus gimana?" tanya Yuni dengan wajah memelas.
"Lo manggil Goblin apa kalau di dekat dia?" tanya Aty tanpa menjawab pertanyaan Yuni.
"Dia nyuruh gue manggil Richard atau pakai aku kamu gitu."
"Pasti berat yah dari dosen terus jadi kekasih gini. Gue setuju sama Goblin."
"Gue canggung aja. Tapi gue hanya bisa manggilnya aku kamu. Kalau nyebut namanya masih rasa canggung, seperti ngga pantas aja."
"Ini kan masih awal. Pasti nanti Lo terbiasa."
"Lanjut cerita soal yang tadi," ucap Aty seraya melepas pelukan Yuni.
"Cerita apa lagi?" tanya Yuni bingung.
"Setelah Lo ketiduran di salon perawatan rambut," ucap Aty.
"Gue pikir Lo udah lupa..," Yuni tertawa mengejek sahabatnya, "jadi gue ketiduran tersadar besok paginya di dalam kamar di apartemen ini," jelas Yuni.
"Kebiasaan Lo tu yah. Kalau udah nyenyak susah dibangunin."
"Lo kan tahu sendiri, gue cepat ngantuk kalau ada yang usap kepala. Mana tu pekerja di salon urut kepala gue enak banget lagi. Otomatis gue langsung tidur."
"Terus Goblin gendong Lo dari mall ke tempat parkir. Gimana tanggapan orang-orang di mall yang lihat Lo di gendong gitu."
"Orang pada pikir Yuni pingsan.." jawab Richard dari belakang. Aty dan Yuni sontak membalikkan badan.
"Eh, Pak Richard," ucap Aty malu-malu. Yuni yang melihat Richard wajahnya nampak memerah.
Richard yang melihatnya hanya tersenyum lalu berjalan mendekati Yuni dan Aty, "Disini lebih indah kalau sore. Senja di kota ini sangat indah." Ucap Richard mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, langsung melihat laut lepas dan matahari terbenam," jawab Yuni.
"Ini ponsel kamu dari tadi berdering," ucap Richard pada Aty lalu memberikan ponsel tersebut.
__ADS_1
"Makasih, Pak.." jawab Aty lalu menerima ponsel tersebut.
"Kalian lanjutkan saja. Aku ke bawah lagi," ucap Richard seraya melihat ke wajah Yuni. Lalu berjalan meninggalkan keduanya.
"Iya.." jawab Aty dan Yuni.
Setelah memeriksa ponselnya, Aty melihat ada sembilan panggilan tak terjawab. Semuanya dari Rangga dan Viki.
"Siapa yang nelpon, Ty?" tanya Yuni.
"Rangga sama Viki. Tadi pagi gue ke apartemen Lo dan liat Lo ngga ada, gue langsung menghubungi Rangga," jelas Aty.
"Kalau gitu Lo telepon Rangga lagi dan bilang gue ngga apa-apa," ucap Yuni.
Aty lalu menelepon Rangga.
"Halo, Aty. Gimana kabar Yuni. Udah ketemu belum?" tanya Rangga setelah telepon tersambung.
"Yuni ngga apa-apa. Dia lagi sama gue sekarang," jelas Aty.
"Syukurlah.. Gue, Viki, Gio sama Rizal di apartemen Yuni sekarang. Apartemennya sementara di perbaiki," ucap Rangga.
Yuni yang mendengar hal tersebut hanya mengerutkan dahinya bingung. Karena dia tidak tahu perihal perbaikan apartemennya.
"Oke, Ga. Besok kita bahas lagi di kampus yah. Bye.." ucap Aty lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Apa pak Richard yang perbaiki apartemen gue yah?" tanya Yuni.
"Sepertinya begitu, Yun. Lebih jelasnya Lo tanya Goblin aja," tukas Aty.
Keduanya kembali menatap hamparan kota sebelum meninggalkan rooftop tersebut, namun sebelum membalikkan badan terdengar bunyi tembakan.
"Dor..!"
Aty yang kaget menutup telinga dengan kedua tangannya. Setelah detakan jantungnya mulai berdetak normal Aty mencari Yuni, karena beberapa saat yang lalu, Yuni mendorongnya ke samping kanan dengan kuat. Aty yang melihat ke arah Yuni nampak kaget lebih kaget dari sebelumnya. Dilihatnya Yuni yang sudah jatuh lemas bersimbah darah di dadanya.
"Yuni....!!!!!"
πππ
Hallo Guys
Maaf π telat upload
Karena lagi sibuk dengan pekerjaan di dunia nyata..
Jangan Lupa Like dan Vote yah
I Love You β₯οΈ
__ADS_1