
Jika sampai pada waktunya, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru dan rindu yang tak kunjung temu.
Setidaknya, saya sudah menemanimu walaupun hanya setengah perjalanan.🥀
Yuni melihat ruangan apartemen barunya. Desainnya sungguh indah dan memberi rasa nyaman. Ruangan yang didominasi oleh warna putih itu nampak elegan. Apalagi ruangan santai dekat dapur.
"Makasih, Pa. Aku suka semuanya," ucap Yuni tulus.
"Syukurlah kalau kamu suka," jawab Julius yang merasa puas karena berhasil membuat putrinya senang.
"Yun, Welcome home.. jangan sedih lagi yah," ucap Aty juga ikut senang melihat sahabatnya.
"Iya, Aty," jawab Yuni bahagia. Apartemennya yang dulu tidak sebanding dengan apartemennya yang sekarang.
"Kita udah siap makanan juga, ayo tuan puteri berdua. Silahkan dinikmati," ucap Viki yang langsung memberikan balon merah maroon berbentuk hati pada Aty.
"Ehem... suruh makan balon nih ceritanya." Gio mulai menggoda dua sejoli itu.
"Awas, Ty. Balon isinya gas doang ngga tahu hatinya." Rizal juga ikutan mengganggu Viki dan Aty. Wajah Aty bersemu merah menahan malu.
"Apa-apaan sih.. malu tahu dilihat sama orang tua," Ucap Aty.
"Bapak juga ikut senang lihatnya, kalian yang langgeng yah." Julius merasa ucapan Aty ditujukan padanya.
"Kita ngga pacaran ko, Om," sanggah Aty.
__ADS_1
"Aduh maaf, bapak pikir kalian sedang menjalin hubungan," ucap Julius lagi.
"Ngga apa-apa kok, Om. Minta doanya biar jadi kenyataan," kata Viki yang langsung mendapat cubitan dari Aty.
"Cie-cie..," seru Gio dan Rizal bersamaan, membuat ruangan itu menjadi heboh.
"Kode tu." Rangga juga tidak mau kalah.
Wajah Aty tambah merona. Telinganya juga ikut memerah. Sebuah senyum malu-malu terukir diwajahnya.
"Sudah.. kasian Aty," Fabian yang melihat Aty mulai membelanya.
"Makasih, Om. Memang para lelaki tiga orang ini otaknya perlu di scan biar virus-virus yang mengancam ketenangan saya bisa lenyap selamanya." Aty yang mendapat pembelaan dari Fabian mulai bersuara dengan suara khasnya, speaker. Fabian yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengacungkan jempol tanda setuju dengan pernyataannya.
"Katanya makanan sudah disiapkan. Kapan bisa makan nih?" tanya Yuni pada sahabat lelakinya.
"Wah...," Yuni dan Aty terperangah melihat makanan yang disajikan di atas meja makan itu.
"Ini beneran kalian yang masak?" tanya Yuni.
"Lo meragukan kemampuan kita?" tanya Viki. Gio dan Rizal ikut manggut-manggut sambil memanyunkan bibirnya.
"Ngga percaya gue. Tangan kalian tu hanya lihai dalam memainkan game. Kalau yang ini mah gue ngga percaya," ucap Aty.
"Emang keliatan banget yah kalau kita ngga bisa ginian?" tanya Gio.
__ADS_1
"Ya iyalah. Dan kalaupun masak warnanya ngga gini," jawab Aty.
"Emang warnanya apa?" tanya Viki.
"Itam!" Seru Aty ketus yang langsung membuat ruangan itu kembali gaduh karena suara tawa mereka.
"Kapan makan nih? Tu udang dari tadi goda gue mulu udah pasrah pengen disantap," ucap Rangga yang sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan dihadapannya.
"Ayo mari kita makan. Pak Fabian, silahkan..," ucap Julius mempersilahkan semuanya untuk makan.
Mereka kemudian mengambil tempat duduk masing-masing dan duduk. Sebelum mereka mulai makan, Julius memimpin doa sebagai ucap syukur karena putrinya sudah sembuh dari sakit. Setelah selesai berdoa, mereka mulai makan dan tidak bersuara karena lezatnya makanan itu.
"Om Fabian, makanannya enak banget," ucap Gio yang sudah kekenyangan.
"Pekerja di apartemen yang membuatnya," jawab Fabian yang masih menikmati makanannya.
Yuni yang mendengar itu menghentikan aktivitas makannya. Pikirannya kembali pada seseorang yang pergi tanpa kabar darinya.
🍁🍁🍁
Vote, Like dan Komen yah..
Biar aku tambah semangat ngetiknya
Terima kasih..
I Love You ♥️
__ADS_1