
Saya dan anda pernah merasa kehilangan karena cinta. Namun ada masanya, kita akan dipeluk erat oleh seseorang yang tepat..🥀
Setelah mendengar kabar Richard, Yuni sangat senang sekaligus rindu. Tiga hari dirasanya sangat lama. Informasi tentang Richard, ia belum menceritakannya pada Aty. Yuni tahu, kalau Aty mulai tidak menyukai Richard karena menghilang tanpa kabar.
Yuni sangat bersyukur karena mendapat tempat tinggal yang nyaman dari papanya. Sudah lama dia ingin hidup seperti ini, berhubungan baik dengan papanya.
Hari ini Yuni berencana untuk pergi membeli gaun. Ia mengajak Aty untuk menemaninya. Diambilnya ponsel dan mulai mencari nomor kontak sahabatnya itu.
"Halo, Yun." Terdengar sapaan dari seberang.
"Hari ini Lo sibuk ngga?" tanya Yuni.
"Gue free hari ini. Kenapa, kangen yah?" goda Aty.
"Ngga, Ty. Gue mau ngajak Lo temenin gue nyari gaun gitu." ucap Yuni.
"Gue ngga salah dengar kan?" tanya Aty kaget. Karena Yuni jarang membeli pakaian apalagi gaun.
"Gue ngomong serius, Ty. Bisa ngga?" tanya Yuni lagi.
"Gue otw apartemen Lo sekarang." Aty memutuskan sambungan telepon secara sepihak yang membuat Yuni hanya mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Gue harus siap menjawab berbagai pertanyaan darinya nanti," gumam Yuni baru menyadari jika sahabatnya itu akan bertanya banyak tentang hal yang jarang dilakukan oleh dirinya.
Yuni berjalan menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri. Dalam pikirannya berusaha mencari alasan yang tepat untuk berbicara dengan Aty nanti. Berkali-kali dia berlatih di depan cermin dan mengulang kalimat yang sama. Yuni tahu jika dirinya tidak bisa berbohong di depan sahabatnya itu. Diapun merasa aneh, sempat dipikirnya kalau Aty punya indera ke enam.
Setelah selesai mempersiapkan diri dan berlatih beberapa kali, Yuni pun memutuskan untuk menunggu Aty di kafe depan gedung apartemennya itu. Setelah mengirimkan pesan kepada Aty, Yuni berjalan menuruni tangga dan menuju ke kafe. Setelah mengambil tempat duduk yang pas, ia duduk bertopang dagu sambil memasang raut wajah serius. Ia berlatih agar bisa mempertahankan raut wajah seperti itu di depan Aty nanti.
Lima belas menit kemudian Aty pun datang. Setelah melihat keberadaan Yuni di dalam kafe itu, Aty berjalan menghampiri Yuni dan duduk berhadapan dengannya.
Sepertinya interogasi akan segera dimulai, batin Yuni dalam hatinya.
"Kenapa Lo tiba-tiba mau beli gaun?" tanya Aty sesuai dugaan Yuni.
Kira-kira dia percaya ngga ya, Yuni berkata dalam hatinya.
Aty menatap wajah Yuni secara saksama, "Jadi begitu, gue kira Lo mau ketemu cowok."
Yuni menghembuskan napas lega. Latihannya tidak sia-sia.
"Cowok darimana, gue mau nemenin papa," ucap Yuni.
__ADS_1
"Iya yah. Lo kan bucin si Goblin," kata Aty mengejek sahabatnya.
"Gue ngga bucin tahu," bantah Yuni dengan wajah cemberut sehingga pipinya seperti bakpao.
"Bercanda, Yun." Aty mengambil minuman di hadapan Yuni dan meneguknya hingga setengah. Yuni sudah terbiasa dengan sikap Aty hanya menggelengkan kepala.
"Lo abis dari mana seperti orang yang kehausan di padang gurun aja," ucap Yuni.
"Gue baru habis latihan dance bareng sepupu pas Lo telepon tadi. Gue buru-buru untuk ketemu Lo, sampai gue lupa kalau lagi haus." Aty membersihkan bekas minuman di sekitar mulutnya dengan tisu yang biasa dibawanya.
"Pantas saja. Kita langsung berangkat atau mau pesan minum lagi?" tanya Yuni.
"Gue udah ngga haus. Kita berangkat aja, Yun." Aty beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Yuni ke tempat kasir. Setelah membayar biaya minuman, mereka berjalan menuju mobil dan berangkat ke mall untuk mencari gaun.
Drt..drt..
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Yuni dari nomor papanya. Yuni tersenyum senang membaca isi pesan itu.
"Dandanlah yang cantik besok. Sampai bertemu di restoran X, Putriku." Isi pesan itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Vote yah🤗
I Love You❤