Stuck On You

Stuck On You
9. Olimpiade Sains


__ADS_3

Nadia tidak mengucapkan apa-apa kepada Karel. Setelah Karel memberhentikan motor di parkiran sekolah, Nadia langsung turun dan berjalan meninggalkan Karel di parkiran.


Berjalan ke arah kelasnya tanpa menyadari jika dirinya masih menenteng jaket milik Karel.


"Nad"


"Nadia"


"Heh. Di panggilin juga" Dita menepuk pundak Nadia


"Gak denger gue" jawab santai Nadia


"Emang bolot lo mah"


"Sembarangan"


Dita dan Nadia berjalan beriringan ke arah kelas. "Kok lo tumben dateng dari parkiran motor?"


"Terus itu jaket siapa?"


"Apa lo dibeliin motor sama bokap lo? Kok lo nggak cerita sama gue sih"


Serentetan pertanyaan itu dilayangkan ke Nadia. Sedangkan yang ditanya hanya diam mendengarkan. Tanpa ada niatan menjawab


"Nadiaaaaa" gemas Dita


"Kesel deh. Gue dukung kalo si Karel mau ngasih lo obat sariawan" cetus Dita yang sudah kesal di diami


Nadia menoleh kearah Dita "dih, kenapa lo"


Dita meremas tangannya sendiri "Iih Nadia. Gue yang harusnya tanya lo kenapa, dodol. Gue gigit juga lo"


Nadia merangkul pundak Dita "entar gue ceritain di kelas"


Dita gantian yang diam. Tidak menimpali juga tidak menolak rangkulan Nadia. Ia masih memasang wajah sebal. Keduanya berjalan ke arah tempat duduk masing-masing


"Cepetan cerita" cetus Dita


Nadia menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya kasar


"Tadi mobil gue mogok. Terus gue ikut Karel naik motor" jelas Nadia padat dan singkat


Dita melongo mendengarnya. Mulutnya ternganga memandang Nadia yang sekarang sibuk dengan ponsel miliknya


"Itu yang dinamain cerita?" tanya Dita


Nadia berdehem mengiyakan


Takk


Dita menjitak kepala Nadia lumayan kencang. Membuat sang empu meringis. Mengalihkan pandangannya ke arah si pelaku "sakit oncom"


"Heh, dimana-mana tuh orang kalo cerita panjang kali lebar. Lah lo panjang kagak, lebar kagak"


"Lo lebar"


"Kok lo ngatain sih, Nad"


"Fakta"


"Iih pengen gue pengen nampol lo banget tau nggak sih" ujar Dita geregetan

__ADS_1


Brukk


Nadia menaruh jaket di meja Dita. Membuat Dita mengerutkan alis bingung "apaan nih"


"Jaket lah" santai Nadia


Mata Dita menyipit kearah Nadia yang juga sedang menatapnya "gue serius Nad. Gue gigit, baru tau rasa lo"


Nadia yang melihat sahabatnya kesal, membuatnya menahan senyum. Dia selalu senang meledek sahabatnya itu hingga sebal. Seneng aja liat Dita mencak-mencak tidak jelas, pikirnya


"Jaket temen lo. Tolong balikin yaa" ucap Nadia dengan muka memelas


Dita membalikkan badannya kearah depan, tangannya bersedekap dada " dih, ngapain"


Nadia memegang lengan Dita. Berusaha membalikkan badan Dita agar menghadapnya "jangan kek gitu dong, Dit. Gue bayarin makan bakso deh, yayayaya" rayu Nadia kepada Dita yang masih diam


"Kayaknya gue kenal sama jaket ini deh"


"Punya Karel itu"


Dita yang sibuk membolak balikkan jaket yang dipegangnya seketika menghentikan aktifitasnya. Menatap dengan raut wajah bertanya sekaligus bingung


"Lo berangkat bareng Karel, terus di pinjemin jaket dia?" tanya Dita


Nadia mengangguk mengiyakan. "Pantesan gue familiar sama jaket ini" ujar Dita


"Selamat pagi anak-anak"


Obrolan keduanya terhenti setelah menyadari seorang guru yang sudah masuk kelas. Nadia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas. Teman-temannya sudah duduk rapi di kursinya masing-masing sembari memperhatikan Bu Lusi, guru matematika yang sekarang sudah mulai menulis di papan tulis


"Oke, sekarang kita masuk di bab baru. Kita akan membahas mengenai Integral"


Nadia melihat ke arah Dita. Sahabatnya itu sudah sibuk dengan buku tulis dan bolpointnya.


Nadia membuka ransel miliknya, mengeluarkan buku matematika, lalu mulai menyalin materi yang dijelaskan oleh bu Lusi


\*\*\*\*


Bel istirahat pertama berbunyi. Membuat Nadia dan teman-temannya mendesah lega. Mengakhiri pelajaran yang membuat otak teman-teman Nadia, termasuk dirinya mendidih.


"Kita lanjutkan hari selanjutnya. Selamat siang" ujar bu Lusi menutup pelajaran kali ini. Lalu meninggalkan kelas


"Jebol otak gue"


"Tau. Latihan soal mulu. Pinter-pinter kagak"


"**** berarti haha"


Begitulah celotehan anak-anak kelas setelah bu Lusi meninggalkan kelas. Ada yang langsung keluar kelas menuju kantin, ada yang tertidur, ada yang masih mengerjakan tugas yang diberikan bu Lusi, ada juga beberapa anak perempuan yang duduk langsung membuat lingkaran di belakang kelas. Bergosip, seperti biasanya


Nadia dan Dita memutuskan untuk pergi ke kantin. Mengisi perutnya yang kosong akibat terkuras saat pelajaran matematika tadi.


"Bu, bakso 2 ya, sama minumnya es teh manis 2" pesan Dita kepada ibu kantin


"Beneran dibayarin kan?" tanya Dita yang sudah duduk berhadapan dengan Nadia


"Ya tergantung lo mau bantuin gue nggak" jawab Nadia yang sddang memainkan sendok


"Udah gue pesenin loh itu"


"Duit bulanan gue udah nipis tau nggak"

__ADS_1


"Nggak kasian apa sama sahabat lo ini yang imut"


Dita terus merayu Nadia dengan muka memelasnya "yayayaya. Bayarin ya"


Nadia memutar matanya malas "iya deh iya"


Dita membelalakan matanya senang "aaa baik banget deh. Sini-sini peyuukk" Dita merentangkan tangannya. Berniat memeluk Nadia di depannya


Nadia memundurkan duduknya "mau gue tampol lo?" ancam Nadia


Dita nyengir lebar " galak banget sii temen gue yang satu ini" tangan Dita menyubit lengan Nadia kencang


Nadia melotot "sakit, ****"


"Permisi, ini baksonya mbak" ibu kantin menaruh bakso dan berujar dengan logat jawa nya yang medhok


"Makasih buu" ujar Dita. Lalu ibu kantin itu kembali melayani siswa siswi lain


Nadia dan Dita sudah fokus pada makanannya masing-masing. Sambil sesekali Dita bertanya tentang Nadia yang mau berangkat dengan Karel


"Kak Nadia ya?" tanya seorang siswi menghampiri Nadia dan Dita


Nadia mengangguk "kenapa ya?" Nadia bertanya balik


"Kakak disuruh ke ruangan Pak Andi sekarang" ujar siswi itu


"Harus banget ya sekarang?" tanya Dita pada siswi itu


Siswi itu mengangguk "iya kak. Sudah ditunggu"


"Makasih infonya. Nanti saya kesana" sekarang giliran Nadia yang menjawab. Siswi itu sudah pamit untuk pergi


Dita menunjukan wajah cemberutnya ke arah Nadia yang sedang menghabiskan bakso miliknya "gue ke kelas sendiri dong"


"Nggak ada yang mau nyulik lo juga"


"Ah lo mah. Anterin gue ke kelas dulu ya" minta Dita


Nadia sudah berdiri dari duduknya, membuat Dita tersenyum senang "ini uang buat bayar bakso. Gue ke pak Andi dulu" seketika senyum Dita hilang mendengar penuturan Nadia. Dita menerima uang yang diberikan Nadia. Setelah itu mereka berjalan berlawanan arah. Nadia yang pergi menuju ruang guru, dan Dita yang pergi untuk membayar bakso.


\*\*\*\*\*\*


"Permisi pak, Bapak manggil saya?" tanya Nadia sopan


Pak Andi yang melihat kedatangan Nadia tersenyum senang, lalu mempersilahkan Nadia untuk duduk. Disebelah kursi Nadia sudah ada seorang cowok yang sedang sibuk menulis formulir


"Langsung saja, saya meminta kamu datang kesini untuk menawarkan kamu untuk ikut olimpiade sanins se- provinsi. Apa kamu bersedia?" tanya pak Andi to the point


"Olimpiade pak?" tanya Nadia


Pak Andi mengangguk "iya. Bagaimana? Kamu mau?"


"Yasudah pak, saya mau" jawab Nadia dengan mantap


Pak Andi mengalihkan pandangannya kearah siswa disebelah Nadia "sudah isi formulirnya, Karel?"


'Karel?'


'Karel ikut juga?'


"Karel yang akan menjadi patner kamu" jelas pak Andi

__ADS_1


'What the--'


__ADS_2