Stuck On You

Stuck On You
Apa Hubungan Mereka?


__ADS_3

Izinkanlah aku bahagia..


Berhenti memikirkanmu namun tidak melupakan..🥀


Julius mengamati lelaki yang melangkah masuk dalam rumahnya. Berusaha mengingat apakah salah satu kenalannya, namun tidak mengingatnya.


Rangga, Gio dan Rizal tampak kaget melihat Richard yang berjalan masuk dengan tatapan dingin ke arah Julius.


"Si killer kenapa ada disini?" bisik Gio pada Rangga dan Rizal, namun keduanya tidak menjawab.


Julius mengernyitkan dahinya, dengan santai dan penuh wibawa dia menatap ke arah Richard, "Siapa kamu? Apakah kamu tidak punya sopan santun?"


Richard memasukkan tangannya ke dalam saku celana hitamnya, "Yang tidak punya sopan santun adalah seorang ayah yang mengabaikan putrinya." Richard menatap lekat ke arah Julius.


"Apa kamu bilang?" Julius tersulut emosi, dadanya naik turun karena menahan emosi.


"Saya tidak punya banyak waktu, kita langsung ke intinya saja. Apakah perusahaan Anindya mengalami masalah serius?" Richard maju selangkah dan melihat raut wajah Julius yang nampak kaget. Sudah dua hari Julius berusaha mencari jalan keluar untuk menyelamatkan perusahaannya. Sebuah perusahaan besar yang sangat berpengaruh dalam perusahaan Anindya tiba-tiba berhenti bekerja sama. Masalah ini hanya diketahui beberapa orang di perusahaannya, tapi orang yang tidak dikenalnya yang sekarang berdiri di depannya kini mengetahuinya.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Julius.


"Saya bisa membantu, asalkan selamatkan putrimu dulu," ucap Richard tanpa menjawab pertanyaan Julius.


Julius menggenggam tangannya erat, "Kamu pikir kamu siapa? Bisa membantu apa? Apakah kamu tahu masalah perusahaan? Ck, kalian hanya membuang waktuku saja. Maman usir mereka keluar dari rumah ini." Julius merasa gusar dan membalikkan badannya berjalan menuju tangga.


Richard tersenyum kecut. "Perusahaan Pratomo menghentikan kerja sama dengan perusahaan Anindya. Dana perusahaan yang semakin menipis bahkan tidak bisa menggaji karyawan bulan ini. Beberapa staf yang melakukan korupsi dan hasil produksi perusahaanmu yang pendistribusiannya tidak sesuai dengan aturan yang berlaku." Kata-kata Richard membuat Julius melongo.


Siapakah pemuda ini sampai-sampai masalah perusahaan yang rahasia diketahuinya, pikir Julius lalu kembali menuruni tangga dan melihat Richard dengan seksama.


"Siapakah kamu anak muda?" tanya Julius, rasa ingin tahu sudah memenuhinya.


"Richardo Johan Pratomo..,"


"Apa!?" Julius tampak kaget. Nama itu adalah nama seorang pewaris dari perusahaan Pratomo yang terkenal itu. Banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk bekerja sama dengan mereka. Julius berusaha menelan ludah dan memasang muka ramah.


Rangga, Gio dan Rizal terlihat bingung karena hanya dengan nama dosennya, raut wajah Julius langsung berubah ramah dan nampak ketakutan.


"Apakah nama si Killer begitu terpengaruh di dunia bisnis? Sampai-sampai bokapnya Yuni ketakutan begitu," bisik Gio. Rangga dan Rizal hanya mengangkat bahu dan bengong melihat Richard dan Julius.


"Mengapa tidak bilang dari tadi Pak Richard? Mari silahkan duduk. Mimin panggilkan ibu di atas," kata Julius berubah ramah dan menyuruh pembantunya untuk memanggil istrinya.

__ADS_1


Masih ada juga orang tua yang begini. Richard melihat Julius dengan tatapan dingin.


"Saya tidak punya waktu lagi. Silahkan datang ke rumah sakit X untuk menolong Yuni. Setelah itu asisten saya akan menghubungi anda," ucap Richard ketus tidak dengan nada memohon seperti tadi.


"Baik Pak Richard. Sekarang saya akan berangkat ke rumah sakit tersebut." Julius dengan hormat di depan Richard.


"Lima belas menit jika tidak ada di rumah sakit, maka jangan harap kita akan bekerja sama," ucap Richard lalu berbalik dan meninggalkan rumah Julius. Rangga, Gio dan Rizal yang melihat Richard pergi, dengan langkah cepat ketiganya mengikuti Richard dari belakang.


Richard dengan buru-buru memasuki mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rangga dan sahabatnya hanya melongo melihat tingkah dosennya.


"Apakah si Killer melakukan semua ini untuk Yuni?" tanya Rizal seraya membuka pintu mobil dan memasukinya.


Gio yang duduk di kursi belakang diam berpikir lalu berkata, "Kayanya Pak Richard punya hubungan sama Yuni."


"Hubungan apa maksud lo?" Rangga yang sedang memasang sabuk pengaman nampak terganggu dengan ucapan Gio.


"Hubungan apa aja gitu. Sampai-sampai si Killer turun tangan bantuin Yuni dengan mengancam bokapnya kaya tadi," ucap Gio lagi.


"Gue juga mikirnya gitu. Tapi sudahlah, intinya Pak Julius setuju untuk mendonorkan darahnya untuk Yuni," ucap Rizal.


Rangga hanya diam. Dia curiga bahwa penembakan yang menimpa Yuni ada hubungannya dengan Richard sampai membuat Richard turun tangan membantu.


"Kok loy diam aja si Ga. Kapan kita jalannya?" tanya Gio yang melihat Rangga hanya diam saja. Rangga yang nampak kaget langsung menstarter mobil dan pergi meninggalkan rumah dengan desain bohemian tersebut.


"Jadi Yuni sekarat. Baguslah.. gue harus bisa mengambil hati pak Richard. Ternyata dia bukan hanya sekedar dosen di kampus gue," ucap Siska lalu beranjak pergi meninggalkan balkon kamarnya.


🍁🍁🍁


Richard mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Waktunya sedikit terbuang karena harus berdebat dengan Julius tadi.


Sepuluh menit kemudian, Richard sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil dia langsung menuju ruangan UGD dimana Yuni sedang berjuang bertahan hidup.


"Fabian.," panggil Richard melihat Fabian yang masih setia menunggu di depan ruangan tersebut. Aty yang semula dipeluk oleh Viki dengan cepat melepaskan pelukannya. Viki nampak bingung dengan kedatangan Richard.


"Iya, Pak. Yuni masih menunggu pendonor darah Pak agar bisa segera di operasi," jelas Fabian.


Richard melihat jam di tangannya, "Sedikit lagi dia sampai."


"Apakah pak Richard berhasil membujuk papanya Yuni?" tanya Aty yang mendengar percakapan antara Fabian dan Richard.

__ADS_1


"Kita tunggu saja. Setidaknya beberapa menit lagi dia sampai," jawab Richard pada Aty. Viki nampak bingung melihat Aty berbicara layaknya teman dengan Richard.


"Pak Richard..," Terdengar panggilan seorang lelaki dari kejauhan.


Julius mempercepat langkahnya dan mendekati Richard. Aty yang melihat kedatangan Julius terlihat kesal karena mengingat Yuni yang diusir olehnya.


"Apakah pendonor darah sudah ditemukan?" Tanya seorang suster yang keluar dari dalam ruang UGD.


"Saya, Sus. Saya ayahnya," jawab Julius dengan cepat. Richard yang melihat Julius hanya mengerutkan dahi. Aty dan Viki hanya menghembuskan nafas kasar.


"Mari Pak ikut saya untuk pemeriksaan," ucap suster tersebut.


Julius berjalan mengikuti suster diiringi tatapan kesal dari Aty dan Viki.


"Dibayar berapa Pak sampai bokapnya Yuni jadi baik kaya gitu?" tanya Aty pada Richard setelah Julius pergi bersama suster untuk pemeriksaan.


"Sedikit ancaman..," jawab Richard. Viki semakin dibuat bingung oleh Aty dan dosennya.


"Oh..." Aty sudah menduganya mengingat Richard adalah orang kaya.


Viki menyenggol lengan Aty, "Kok Lo bisa seakrab ini sama dia?" bisik Viki di telinga Aty.


"Nanti gue cerita," jawab Aty kembali berbisik di telinga Viki. Viki hanya manggut-manggut.


"Aty, kamu juga harus melakukan pemeriksaan." ucap Richard.


Aty nampak kaget, "Saya sudah tidak apa-apa Pak. Tidak perlu pemeriksaan lagi."


Viki melihat Aty dengan teliti dari kaki sampai kepala,b"Lo juga kena tembak? Bagian mana?"


"Gue ngga kena tembak atau apapun. Gue hanya kaget dan takut ketika lihat Yuni penuh darah dan ngga bergerak," ucap Aty.


"Bagaimanapun kmu harus melakukan pemeriksaan. Biasanya nanti jadi trauma," jelas Richard.


"Betul juga tu. Ayo gue temani," ucap Viki yang langsung disetujui oleh Aty.


Setelah pamit pada Richard dan Fabian, Viki dan Aty berjalan meninggalkan ruangan UGD tersebut. Namun, ketika menyusuri lorong rumah sakit, mereka melihat Siska berjalan menuju ke arah UGD sambil menenteng sebuah peperbag.


"Apa yang dia lakukan disini?" tanya Aty menatap tajam ke arah Siska.

__ADS_1


🍁🍁🍁


To be continue 🌹


__ADS_2