
Nadia membuka ransel miliknya, mengambil beberapa lembar uang, lalu menaruhnya diatas meja warung yany ditempatinya bersama Karel, lalu menyodorkannya ke arah Karel, membuat Karel melihat kearahnya
"Ini buat bayar bakso yang gue makan" ujar Nadia
Karel mengabaikan Nadia, kemudian beranjak dari duduknya menuju ibu penjual bakso itu, lalu membayar sejumlah uang
Setelah membayar bakso, Karel mendekat ke arah Nadia, lalu mengintrupsi Nadia dengan tangannya agar mengikutinya. Dengan segera, Nadia membawa uangnya lagi, kemudian mengikuti Karel yang sudah keluar dari warung
Nadia menyodorkan uang lagi kepada Nadia "Ini gue ganti uang lo"
"Nggak usah. Uang gue cukup banyak buat bayarin lo" kekeh Karel membuat Nadia memutar matanya malas. Ia mencebikkan bibirnya
"Sombong amat" Karel terkekeh mendengarnya. Lalu memakai helm miliknya
"Ayo, udah mau maghrib" ujar Karel membuat Nadia segera duduk di jok belakang Karel. Tak lama, Karel mulai menjalankan motornya
\*\*\*\*\*\*
Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di rumah Nadia. Karel sudah memarkirkan motornya di halaman rumah Nadia, Nadia turun dari motor dengan bertumpu pada pundak Karel. Disusul Karel yang membuka helm yang dipakainya, lalu turun dari motor.
Nadia berdiri dihadapan Karel sembari sesekali tangannya memainkan tali ranselnya
"Thanks ya, udah nganterin gue sampai rumah" ujar Nadia
Karel mengerutkan alisnya sembari membatin 'ini anak salah makan apa ya'
Dengan ragu Karel mengangguk pelan "iya sama-sama. Santai aja"
"Yaudah, lo hati-hati dijalan" ujar Nadia sembari tersenyum. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini Nadia tersenyum dengan sadar untuk pertama kalinya di hadapan Karel
Karel yang melihat Nadia mengukirkan senyum, membelalakan matanya, kemudian ikut tersenyum. Dia menggaruk kepalanya, merasa salah tingkah meskipun hanya sekedar mendapat senyum dari Nadia
Nadia membalikkan badannya ke arah pintu rumah. Bibirnya masih tersenyum, malah semakin lebar melihat respon Karel
Karel bersorak sembari melompat kegirangan "Yess!!"
Nadia membalikkan badannya kebelakang mendengar suara Karel. Seakan sadar jika Nadia belum masuk ke rumah, Karel berusaha meneteralkan wajahnya dan nyengir tanpa dosa
"Eggh, gu-gue pulang dulu Nad" ujar Karel dengan terburu-buru menaiki motornya, kemudian menjalankan motornya meninggalkan pelantaran rumah Nadia
Nadia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Karel, lalu Nadia kembali melangkah memasuki rumah dengan wajah sumringah
"Kayaknya ada yang bahagia banget ini" celetuk mama yang sedang menuruni tangga. Melihat anak perempuannya yang duduk bersandar di sofa sembari mendongakkan kepalanya, bibirnya sedari tadi tersenyum
Nadia menengok kearah mamanya, lalu memberengutkan bibirnya "apasih mama"
"Marah nih ceritanya" mama mencolek pipi Nadia, kemudian mama ikut mendudukkan dirinya disamping putrinya itu
Mama kembali menggoda Nadia "Hayoo tadi pulang di anter siapa"
"Sama temen lah ma"
__ADS_1
"Temen apa demeenn"
"Temen mamaaa" jawab Nadia yang kemudian menutup wajahnya yang terasa menghangat
"Katanya temen, kok mesem-mesem gitu" celetuk mama
"Iih mama" rengek Nadia yang masih menutup wajahnya malu
Mama mengelus rambut Nadia "Anak mama udah gede ya ternyata"
Nadia menurunkan tangannya yang menutupi wajah, menatap mamanya yang sedang tersenyum sembari mengelus kepalanya "iya dong. Masa Nadia kecil terus"
"Bagi mama, kamu tetap princess kecil mama" ujar mama sembari tersenyum menatap putrinya itu
"Aahh Nadia sayang mama" ujar Nadia sembari memeluk mamanya
Mama mengeratkan pelukannya dan mengecup kepala Nadia dengan sayang "Me too"
"Tadi Karel ya?" tanya mama disela pelukkan diantara keduanya
Nadia mengangguk sebagai jawaban. "Katanya nggak kenal, kok mama lihat kalian makin deket, sayang?"
Nadia melonggarkan pelukkannya "nggak mama. Kita cuma sebatas partner olimpiade nanti ma"
Mama tersenyum jahil "lebih dari sekeder partner olimpiade juga nggak papa kok. Mama dukung" kekeh mama
"Aduuh mama mikirnya kejauhan ma. Udah ah, Nadia mau mandi" jawab Nadia kemudian meninggalkan mamanya yang masih duduk
Nadia yang mendengar teriakan mamanya hanya menggelengkan kepalanya sembari terkekeh kecil.
\*\*\*\*\*
"Mimpi apa gue semalem" ujar Karel yang sudah berada di dalam kamar miliknya setelah mengantar Nadia pulang
"Kenapa sih lo" tanya Arman yang sedang sibuk memainkan ps bersama dengan Dito
Dito menganggukkan kepalanya setuju "tau lo. Cerita sama kita dong"
Sekarang di dalam kamar Karel sudah ada Arman dan Dito yang sedari pulang sekolah sudah stand by di rumah Karel. Sudah tidak heran jika mereka berdua sudah duduk santai sembari bermain ps. Dan dapat dilihat, beberapa bungkus snack dan minuman botol tercecer disekitat mereka
"Si Nadia udah mulai banyak responnya kalo gue ajak ngobrol" ujar Karel
"Yang bener lo. Halu kali lo" celetuk Dito yang pandangannya masih mengarah pada ps nya
Karel melempar bantal ke arah Dito "sirik aja lo"
Kekehan terdengar dari mulut Arman. "Kenapa ketawa lo" cetus Karel
"Dito tuh bener, Rel. Masa iya Nadia yang cuek bebek kayak gitu udah bisa ngomong banyak. Apalagi sama lo. Impossible" ujar Arman sembari terkekeh. Membuat Karel mengambil satu bantal lagi dan melemparnya ke arah Arman. Membuat Arman dan Dito tertawa terbahak melihat wajah bete Karel
"Yaudah kalo nggak percaya. Liat aja nanti" cetus Karel yang kemudian mengambil handuk, dan memasuki kamar mandi
__ADS_1
"Ada-ada aja tuh temen lo" celetuk Dito menyenggol lengan Arman
"Yee temen lo juga, ****" jawab Arman
\*\*\*\*\*
"Halo, Dit" sapa Nadia di handponenya
"Halo, Nad. Tumben lo telepon gue malem-malem gini?" tanya Dita di seberang telepon
"Gue mau berubah, Dit"
"Hah? Lo mau berubah? Jadi power rangers"
"Gue serius, Dita"
Suara tawa keras terdengar dari Dita, membuat Nadia agak menjauhkan handpone nya dari telinga
"Iyadeh iya" jawab Dita setelah menghentikan tawanya
"Gue mau nyoba buat berinteraksi lebih banyak sama yang lain"
"Serius lo? Gue ikut seneng dengernya. Kalo hati?"
Nadia menautkan alisnya bingung "Hati?"
"Iya. Hati lo sekalian mau berinteraksi sama yang lain nggak?" tanya Dita di seberang telepon
"Eggh- gue- gue juga coba buat itu" ujar Nadia ragu
Kekehan terdengar lagi dari Dita "syukur deh kalo gitu" ucap Dita
"Tapi lo jangan bilang-bilang. Apalagi sama si Karel. Bisa besar kepala kalo dia tau"
"Iya. Tenang aja. Rahasia lo aman"
"Tapi lo tetep bantuin gue buat beradaptasi" pinta Nadia kepada Dita
"Iya, lo jangan khawatir. Yang penting lo ada usaha"
Nadia tersenyum "thanks ya, Dit. Sorry gue selalu nyusahin lo"
"Eh nggak ada ya lo nyusahin gue. Kita kan sahabat, kalo kita masih bisa bantu, kenapa enggak" jawab Dita
"Yaudah. Gue matiin ya teleponnya"
"Iyaa. Bye"
Tuutt
Nadia tersenyum sembari memeluk handponenya. Ia merasa bahagia memiliki sahabat seperti Dita. Orang yang selalu ada, dan siap membantu Nadia kapanpun dan dimanapun
__ADS_1