
Jam pelajaran terakhir sudah berakhir. Semua siswa-siswi mulai meninggalkan kelas mereka. Beberapa ada yang masih mengobrol, duduk sambil menunggu parkiran agak lenggang, ada juga yang di sibukkan dengan kegiatan keorganisasian dan ekstrakulikuler
Nadia mengambil kamera DSLR yang dia bawa. Lalu menggendong tas ranselnya, kemudian mengalungkan tali kamera miliknya di leher
"Mau hunting, Nad?" tanya Dita yang tengah memasukkan buku ke dalam tasnya
Nadia mengangguk mengiyakan. Lalu menunggu Dita menyelesaikan kegiatannya. Agar bisa keluar kelas bersama
"Gue ikut ya" Dita berdiri dari duduknya sembari menyampirkan tas miliknya
"Tumben" celetuk Nadia
Dita menunjukan jajaran giginya yang rapi "ya kan lo bisa jadi fotographer gue"
Nadia berjalan keluar kelas sembari menimpali ucapan Dita "Enak di lo itumah"
"Yakan biar lo ada sosok model yang bisa jadi objek foto lo" rayu Dita
"Model kok bentukkanya kek gitu" celetuk Nadia yang berjalan beriringan dengan Dita
"Diem-diem gitu omongan lo pedes juga ya" Dita menggelengkan kepalanya sembari terkekeh kecil
"Lo pulang sore dong berarti"
Nadia hanya menjawab dengan deheman. Dia sudah fokus mengarahkan kamera miliknya kearah langit. Nadia sangat suka memotret langit. Apalagi jika langit terlihat cerah dengan awan putih.
Nadia dan Dita berjalan ke arah taman. Sesekali Dita yang sibuk dengan celotehannya, dan sesekali Nadia menimpalinya.
Keduanya duduk di kursi taman. Nadia fokus lagi dengan kamera yang sekarang diarahkan ke arah atas pohon. Memotret seperempat bagian atas pohon, sisanya diisi dengan langit cerah. Lalu ia berdiri, agak menjauh dari Dita yang tengah duduk sembari memejamkan matanya, kepala Dita agak terdongak keatas
Nadia mengarahkan lensa kameranga ke arah Dita, lalu memotretnya. Nadia lebih suka memotret sahabatnya itu diam-diam. Bukan apa-apa, pernah sesekali Nadia memotret Dita dengan terang-terangan dan berakhir memori kameranya penuh dengan foto Dita, belum lagi Dita memintanya untuk mengirim hasil fotonya.
Maka dari itu, sekarang Nadia lebih memilih memotret sahabatnya itu diam-diam. Lalu mengirim fotonya melalui Whatsapp.
"Lo kok nggak bilang-bilang kalo mau foto gue sih"
"Gue kan jadi nggak bisa gaya lebih"
Seperti itu kurang lebih celoteh Dita jika Nadia mengirim foto sahabatnya itu.
Nadia termasuk sosok yang sulit beradaptasi dengan orang baru. Awal-awal bertemu dengan Dita, yang mengajak bicara dulu selalu Dita. Dita yang selalu rajin menanyai ini dan itu kepadanya, dan selalu membuntuti kemanapun Nadia pergi. Dan pada saat itu, ia mulai mencoba membuka obrolan dengan Dita meskipun masih canggung.
Seiring berjalannya waktu, Nadia mulai terbiasa dengan kehadiran Nadia disetiap kegiatannya. Keduanya sudah tau seluk beluk sifat masing-masing.
******
__ADS_1
Saat Nadia mengarahkan lensa kameranya di beberapa tempat, tiba-tiba Nadia menurunkan kamera dari pandangannya. Matanya menyipit memandang seseorang yang sepertinya ia kenal. Lalu ia mendekati Dita yang masih memejamkan matanya. Sepertinya sahabatnya itu benar-benar sedang tidur
Ia duduk disebelah Dita, lalu menepuk pelan bahu Dita. Membuat sang empu membuka matanya sambil menguletkan tubuhnya
'Eh, udah selesai?" tanya Dita sembari mengucek matanya
"Belom"
"Lah, kenapa bangunin gue. Enak tau anginnya adem banget, kek di nina boboin" kekeh Dita
"Molor mulu. Bantuin noh temen lo" ujar Nadia sambil menuding seorang cowok yang tak jauh dari bangku taman yang di dudukinya"
Mata Dita menyipit melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nadia "sekolah kita ada tukang kebun baru ya?"
Taakk
Satu jitakan dihadiahkan Nadia ke dahi Dita. Mana ada tukang kebun memakai seragam putih abu-abu pikirnya
"Itu temen lo oneng" gemas Nadia
"Temen yang mana sih, entar deh, gue samperin dulu" Dita berdiri dari duduknya lalu mendekati orang yang dimaksud oleh Nadia
"Heh" Dita menepuk bahu belakang cowok itu. Yang ditepuk bahunya menolehkan kepala. Seketika tawa Dita meledak. Melihat tetangga sekaligus sahabatnya yang ternyata sedang menyapu taman
Ya, orang yang dimaksud oleh Nadia adalah Karel. Mungkin jatah hukuman Karel di bagian taman
"Bangke lo" jawab Karel judes
Dita memegang perutnya yang mulai kram akibat terlalu lama tertawa. Ia mencoba memberhentikan tawanya meskupun masih terkekeh pelan melihat temannya yang nakal itu menyapu sendirian di area taman
"Aduh astaga. Lo kira-kira kek kalo mau bikin kejutan buat gue" ujar Dita yang masih sedikit terkekeh
"Kejutan pala lo gepeng" sengit Karel yang sudah berhenti dari kegiatannya
"Iyalah kejutan. Nggak ada petir, nggak ada hujan, lo dengan santainya nyapu area taman ini"
"Udeh lah. Males gue jelasinnya" otak Karel kembali panas ketika mengingat lagi hukuman yang diberikan oleh kepala sekolah
"Lo tumben banget masih di sini. Sama siapa lo?" tanya Karel mengalihkan pembicaraan
Dita membalikkan badannya menghadap belakang, menunjuk ke arah Nadia dengan dagunya
Mata Karel membola kaget "eh *****. Malu gue kalo dia liat gue nyapu gini" heboh Karel melihat Nadia
"Telat lo. Malah dia yang udah liat lo duluan. Dia yang ngasih tau gue kalo lo lagi nyapu"
__ADS_1
"Eh beneran?" Karel tambah shock mendengar fakta itu
"Nadia" panggil Dita. Nadia yang merasa namanya dipanggil mendongakkan kepalanya. Karena sedari tadi ia sibuk melihat-lihat hasil potretannya.
Nadia melangkah mendekati Dita setelah melihat temannya itu mengintruksinya untuk mendekat
"Itu, katanya Karel mau ngomong sama lo" ujar Dita santai setelah Nadia berdiri di sebelahnya
"Eh" beo Karel. Karel tidak pernah bilang ke Dita jika dirinya mau berbicara dengan Nadia
Karel mendelik ke arah Dita mulutnya berbicara tanpa suara "awas lo"
Dita hanya terkekeh. Dia puas meledek sahabatnya itu.
Karel tersenyum kikuk kearah Nadia yang berdiri dihadapannya "soal tadi siang, sorry ya, gue udah ganti minumnya kok. Langsung gue kasih ke orangnya" ujar Karel berusaha menghilangkan rasa kikuknya
"Oh, yaudah"
-Oh yaudah-
-oh yaudah-
Hanya itu respon yang diberikan Nadia. Singkat, padat dan jelas.
"Pulang, Dit" ujar Nadia yang sudah mulai melangkahkan kakinya menunggalkan area taman
Karel yang melihat hanya cenggo. Separah itu kah sifat cuek cewek itu
Plakk
Dita menabok mulut Karel pelan "mingkem. Ntar ada lalat masuk"
Setelah itu Dita menyusul Nadia yang sudah jauh didepannya. Meninggalkan Karel yang masih terdiam memandang kepergian kedua cewek itu
\*\*\*\*
Nadia mengernyitkan alis bingung. Pasalnya, tidak seperti biasanya mobil sang mama terparkir di halaman rumah sore-sore begini
'Ada berkas yang ketinggalan mungkin' pikirnya. Lalu ia melangkah memasuki rumah
Aroma masakan tercium di indera pembau Nadin. Semakin bingung dengan keanehan sore ini. Ia melangkah kearah dapur. Terlihat seorang wanita paruh baya yang masih berpakaian rapi sedang sibuk dengan alat memasaknya. Wanita itu belum sadar jika ada orang lain selain dirinya di dapur ini
Melihat wanita itu berbalik, membawa mangkuk berisi makanan, membuat Nadia terkejut
"Mama?"
__ADS_1