
Aku sungguh memahamimu
Bukan hanya dari potret saja, melainkan juga dari hati..🥀
Rini dan Siska sedang memikirkan cara untuk membuat Yuni tidak menikah atau pun bertemu dengan Richard.
"Besok mereka akan bertemu, Ma. Sudah malam begini kenapa orang suruhan Mama belum menghubungi juga?" tanya Siska dengan wajah kesal.
"Sabar, Sayang. Kalau tidak mendapat info juga kita buat rencana baru." Rini menghampiri Siska dan mengusap kepalanya lembut.
Drt..drt..
Ponsel Rini berdering. Raut wajahnya seketika berubah cerah.
"Bagaimana?" tanyanya tanpa basa basi.
"..."
"Good job. Mengenai bayaran saya transfer seperti biasanya." Rini mematikan sambungan teleponnya dan tersenyum licik.
Siska yang melihat ekspresi mamanya ikut senang, "Bagaimana, Ma?"
"Sepertinya kamu ditakdirkan untuk bersama dengan Richard, Sayang," ucap Rini senang.
"Maksudnya gimana sih, Ma?" tanya Siska bingung.
"Richard mengalami lupa ingatan. Semua yang terjadi di sini selama dua tahun tidak diingatnya," ucap Rini dengan wajah berseri-seri.
"Jadi, perempuan ja**ng itu tidak diingatnya juga?" tanya Siska.
"Iya, Sayang. Ini kesempatan buat kamu," ucap Rini.
"Tapi bagaimana dengan asistennya Pak Richard yang juga mengetahui Yuni adalah kekasihnya?" tanya Siska pada mamanya.
"Itu perkara mudah, Sayang." Rini mengambil ponselnya dan mengirim pesan teks pada orang suruhannya.
"Oke, Ma. Aku serahkan semuanya sama Mama." Siska memeluk mamanya erat.
"Kamu tenang saja. Terima bersih saja," ucap Rini.
Hidup Julius sudah ngga lama lagi. Kamu harus menikah dengan orang kaya, Sis. Agar kita bisa melanjutkan hidup dan tidak melarat, ucap Rini sambil melihat punggung putrinya.
Siska tersenyum senang lalu memasuki kamarnya, "Gue harus dandan yang cantik untuk bertemu Pak Richard."
__ADS_1
🍁🍁🍁
Di Mall X
"Yun, coba gaun yang ini." Aty menunjukkan sebuah gaun berwarna navy pada Yuni. Namun Yuni menggelengkan kepalanya tidak setuju. Itu adalah gaun ke delapan yang disarankan oleh Aty namun Yuni lagi-lagi tidak menyukainya.
"Terlalu terbuka dan belahannya juga terlalu lebar," ujar Yuni. Aty menghembuskan napas kasar, tapi dengan telaten kembali menyeleksi gaun dihadapannya.
"Karena Lo sukanya dengan warna yang tidak mencolok, gimna kalau yang ini?" tanya Aty seraya menunjukkan sebuah gaun berwarna biru dongker.
Yuni mengamatinya secara saksama. Melihat bagian leher, lengan dan juga belahan bagian depan gaun itu, "Gue suka, yang ini aja."
Aty menghembuskan napas lega, "Lo coba sana, supaya gue bisa lihat dan memberikan penilaian."
"Gue malu coba di sini. Gimana kalau di rumah Lo aja?" tanya Yuni.
Aty mengerti dengan Yuni yang selama ini jarang membeli pakaian apalagi sampai masuk di ruang ganti, "Baiklah, kita pulang sekarang atau ada yang mau dibelikan lagi?" tanya Aty.
"Gue mau ubah gaya rambut dulu. Biar terlihat lebih dewasa gitu," ucap Yuni sambil membelai poni rambutnya.
"Kalau gitu kita ke salon. Ayo.." ajak Aty semangat. Hari ini dia bersedia melakukan apa saja, selama ini Yunilah yang senantiasa mengikuti kemauannya ketika ke mall untuk membelikan berbagai macam perlengkapannya.
Mereka berjalan ke salon di mall itu. Aty yang menenteng paper bag terlihat sangat senang menemani sahabatnya itu. Butuh waktu setengah jam untuk Yuni mendapatkan hasil rambut yang sesuai keinginannya.
"Lo cantik banget.. ngga nyangka gue Lo bisa secantik ini." Aty terlihat kaget dengan penampilan Yuni. Rambut gelombang panjangnya sudah berganti menjadi pendek dan lurus tanpa poni.
"Gimana kalau kita ke rumah Lo? Gue mau coba gaunnya," ucap Yuni yang sudah tidak sabar melihat penampilannya sendiri.
"Berangkat...,"
Yuni dan Aty dengan wajah ceria berjalan menuju lift. Aty merasa senang karena Yuni tidak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sudah ada Julius yang sudah berbaikan dengan Yuni. Sedangkan Yuni merasa senang karena sebentar lagi akan bertemu Richard.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Aty. Setelah memarkirkan mobil di bagasi, Aty dan Yuni berjalan menuju kamar.
"Cepetan Lo coba, pasti akan cantik banget, Yun," ucap Aty yang sudah tidak sabar.
Yuni yang juga tidak sabar, mengambil paper bag dan berjalan ke walk in closet milik Aty dan mencoba gaunnya. Lima menit kemudian Yuni pun keluar.
"Gimana, Ty?" tanya Yuni.
"For God sake, you look so beautiful, Yuni Andita Anindya." Aty menatap sahabatnya kagum.
Yuni tersenyum senang, "Kalau gitu fotoin gue, di samping rumah Lo yang ada kolam kecilnya itu," ucap Yuni semangat.
__ADS_1
Aty mengangguk setuju dan mengambil ponsel milik Yuni, lalu berjalan mengikuti Yuni yang sudah terlebih dahulu berjalan ke samping rumahnya.
"Oke.. satu, dua, tiga action," ucap Aty yang berlagak seperti fotografer handal.
"Mana gue lihat hasilnya," ucap Yuni mengahampiri Aty.
"Gue saranin Lo jadi model aja, Yun," ujar Aty.
Yuni juga merasa puas dengan penampilannya. Senyum lagi-lagi terukir di wajahnya.
Setelah itu dia kembali menukar gaunnya dengan pakaiannya tadi. Waktu yang tersisa Yuni habiskan bersama Aty. Keduanya asik bercerita sambil menyantap donat yang merupakan makanan kesukaan Yuni.
Drt..drt..
Ponsel Yuni berdering, sebuah panggilan dari nomor yang tidak diketahui. Yuni mengernyitkan dahinya lalu mengangkat telepon tersebut.
"Halo..,"
"Apakah ini dengan keluarganya Pak Fabian Adijaya?" terdengar suara seorang wanita.
Yuni hanya mengenal nama Fabian sedangkan nama belakangnya, dia tidak mengetahuinya. Tapi Yuni ingin memastikan apa yang terjadi dengan orang tersebut.
"Iya benar," jawab Yuni.
"Pak Fabian mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit B." Yuni terlihat kaget sehingga donat yang dipegangnya jatuh ke lantai. Aty yang melihat raut wajah Yuni bertanya dengan isyarat tangannya.
"Makasih atas informasinya," jawab Yuni.
"Ada apa, Yun?" tanya Aty bingung.
"Telepon dari rumah sakit. Katanya Pak Fabian Adijaya mengalami kecelakaan," jawab Yuni.
"Jangan-jangan Om Fabian, Yun? Lebih baik kita ke sana." Yuni mengangguk setuju. Aty mengambil kunci mobilnya, merapikan rambutnya sebentar kemudian mereka berangkat ke rumah sakit yang di maksud.
🍁🍁🍁
Hallo Hayyyyy
Vote dan Like yah
I Love You ♥️
__ADS_1