
Tidak ada yang lebih rapuh dari hati yang keras dan membengkak karena luka..🥀
Richard dan keluarga tiba di apartemen mewahnya. Semenjak tiba, Richard melihat seisi apartemen sambil berharap dapat mengingat sedikit memori tentang dirinya di apartemen itu. Namun lagi-lagi Richard tidak dapat mengingatnya. Dia berjalan menuju kamarnya, pakaiannya masih tertata rapih dengan beberapa buku dan dokumen di atas nakas dekat ranjangnya. Ketika membuka sebuah buku, Richard mengerutkan keningnya karena disitu terdapat jadwal mengajarnya di kampus. Richard juga bingung dengan dirinya sendiri dan memikirkan alasan apa sehingga dia menjadi dosen. Dia berusaha memaksakan otaknya untuk berpikir namun tidak bisa mengingatnya, seperti kabut tebal dan gelap yang menutupi pikirannya.
"Bang, sudah saatnya kita ke rumah sakit," ucap Della dari depan pintu kamar.
Richard menaruh kembali buku di atas nakas lalu berjalan menuju ruang santai di mana orang tuanya berada. Sesampainya di ruangan santai, nampak Julian dan Joana sudah menunggunya.
"Sudah siap, Richard?" tanya Julian.
"Sudah, Pa," jawab Richard.
Julian dan Joana berjalan sambil bercerita, terlihat bahagia melihat keduanya. Richard dan Della mengikuti kedua orang tuanya dari belakang. Mereka langsung turun ke basement apartemen dan masuk ke dalam mobil lalu menuju Rumah Sakit B. Richard bersama dengan Della satu mobil yang dikendarai oleh Richard sedangkan Julian dan Joana bersama sopir yang menggantikan Fabian.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Mereka menuju ruangan Melati dimana Fabian dirawat.
"Richard..." Richard mengehentikan langkahnya. Julian dan Joana juga ikut berhenti. Della menatap orang yang menghampiri mereka seperti sedang menahan tangis.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Joana yang baru melihat wajah orang itu.
"Saya ibunya Siska. Apakah kamu sudah melupakan ibu dari kekasihmu, Richard?" Rini bertanya pada Richard dengan tatapan sedih.
Joana dan Julian nampak kaget. Mereka tidak mengira akan bertemu calon besan mereka di rumah sakit. Richard hanya mengerutkan keningnya tidak menjawab atau menyangkal ucapan Rini.
"Maaf, Bu. Anak saya baru-baru mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan, termasuk dengan putri Anda juga." Joana menjelaskan pada Rini karena Richard hanya diam saja.
"Jadi begitu, saya pikir hubungan kalian sudah berakhir karena kamu sudah tidak mengunjungi rumah kami dan meminta izin untuk mengajak Siska jalan. Dan itu juga yang membuat putri saya terlihat sedih belakangan ini." Rini terlihat kaget dan sedih.
__ADS_1
"Maafkan anak saya, Bu. Tapi setelah dari rumah sakit ini kami berniat untuk membicarakan hubungan antara anak kami dan putri Ibu." Joana terlihat ramah, sifat keibuan dan sangat wibawa layak menjadi nyonya besar Pratomo.
"Saya sudah mendengarnya dari suami saya, Bu. Tapi.." Rini menjeda kalimatnya, wajahnya terlihat sedih.
"Ada apa, Bu?" tanya Joana yang melihat raut kesedihan di wajah Rini. Julian juga ikut khawatir dengan apa yang akan dikatakan oleh Rini. Richard hanya melihat sejenak namun kembali dengan pikirannya sendiri.
"Papanya Siska kecelakaan, Bu. Jadi kemungkinan kita untuk membicarakan hal ini jadi tertunda." Rini terlihat sedih.
Joana dan Julian nampak kaget. Hanya Richard saja yang merasa biasa-biasa saja, diapun merasa aneh dengan dirinya ketika mendengar calon mertuanya kecelakaan namun hatinya tidak merasa iba sedikitpun.
"Yang sabar dan semoga pak Julius cepat sembuh yah, Bu," ucap Joana lembut.
"Lalu di mana Siska?" tanya Richard yang sejak tadi hanya diam saja.
Sepertinya rencanaku akan berjalan mulus, batin Rini senang.
Siska menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah jadi sedih. Ditatapnya wajah Richard, lalu berlari menghampiri Richard dan memeluknya erat. Tangisnya pecah di pelukan Richard.
"Kenapa kamu baru datang? Selama ini kamu kemana aja? Aku pikir kamu sudah melupakanku? Aku sangat khawatir.." Siska menangis di pelukan Richard.
Richard tidak membalas pelukan Siska. Dia juga tidak menjawab, diam seperti patung yang memiliki napas.
Jika dia kekasihku, lantas mengapa jantungku tidak bereaksi terhadapnya? Aku hanya lupa ingatan bukan mengganti jantung. Richard merasa tidak nyaman dengan pelukan Siska. Dia melepaskan pelukan Siska dan merapikan kemeja yang dikenakannya.
"Maafkan saya..." Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Richard, dia merasa aneh dengan dirinya. Melihat wajah Siska, timbul rasa benci dalam hatinya. Della yang di samping Richard mengamati reaksi abangnya itu. Dia hanya mengerutkan keningnya dan akan bertanya setelah pulang nanti.
"Richard lupa ingatan. Maafkan dia, Siska.." Joana lagi-lagi mengambil alih untuk berbicara karena Richard terlihat diam dan tidak nyaman.
__ADS_1
Siska tidak menjawab, dia hanya menangis di samping Richard dan sekali-kali mencuri pandang pada Richard.
"Richard, biar papa, Mama dan Della yang menjenguk Fabian, kamu tenangkan Siska dulu. Kalian kan baru bertemu," ucap Julian.
"Kalian ke ruangan papanya Siska aja, sekalian menjenguk dan Siska bisa istirahat di sana," ucap Joana.
Richard hanya menganggukkan kepala lalu menuntun Siska menuju ruangan rawat Julius. Siska melihat sekilas ke arah Rini, sebuah senyum kemenangan terukir di bibir keduanya.
"Kamu udah ngga sakit lagi, kan?" tanya Siska.
Mendengar pertanyaan Siska, Richard merasa kesal. Dia merasa aneh dengan hatinya sendiri. Dia melepaskan tangannya di bahu Siska lalu memasukkan tangannya di saku celananya. "Sudah sehat," jawabnya singkat.
Siska seperti melihat Richard yang dulu, dingin dan datar. Namun dia tidak peduli itu. Siska melingkarkan tangannya di lengan Richard dan kembali berjalan menuju ruangan rawat Julius.
"Itu ruangan papa," ucap Siska sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan ruang Sakura.
Richard tidak menjawab lalu kembali melangkah dan membuka pintu ruangan itu. Ketika pintu dibuka, di dalam ruangan itu terlihat dua orang gadis duduk di samping ranjang Julius. Siska bergelayut manja di lengan Richard. Hal itu membuat Richard menatapnya sekilas lalu melangkah menuju ranjang Julius.
Dua gadis yang melihat kedatangan Richard terlihat kaget. Seorang gadis dengan mata memelotot, Richard dapat melihat sebuah tatapan kebencian dari wajah gadis itu. Namun Richard lebih tertarik dengan wajah sendu dari gadis manis di sebelah gadis yang memelototinya. Jantung Richard berdetak kencang, rasanya seperti ingin melompat keluar. Ketika tatapan keduanya bertemu, jantung Richard tidak bisa dikontrol lagi, Richard ingin memeluk gadis itu,ingin memenuhi rasa rindu yang dirasakannya. Dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya. Richard dapat melihat bahwa gadis itu sedang terpuruk. Dia juga melihat bahwa gadis itu sedang menahan tangis dan sakit. Namun tidak lama kemudian gadis itu menutup matanya dan kepalanya jatuh di atas ranjang Julius. Dia pingsan, tidak sadarkan diri dengan air mata yang mengalir di pipinya.
🍁🍁🍁
Maaf Telat Up 🙏
Ada Kesibukan di Dunia Nyata
I Love You ♥️
__ADS_1