Stuck On You

Stuck On You
No One Will Stay by Your Side


__ADS_3

Ada waktunya pohon-pohon menggugurkan daunnya untuk tetap hidup, begitu pula ada waktunya kita merasakan sakit hati agar mampu bertahan hidup untuk saat ini dan yang akan datang. 🥀


🍁🍁🍁


'No One Will Stay by Your Side', itulah kalimat yang Yuni yakini semenjak kepergian ibunya. Kalimat yang menyadarkannya betapa ironinya kehidupan yang di alaminya.


Sudah dua minggu Yuni dirawat di rumah sakit, sudah dua minggu pula tanpa ada kabar dari Richard. Lukanya perlahan sembuh, namun tidak dengan hatinya. Luka yang kembali menganga karena belum sembuh sepenuhnya dari kisahnya bersama Adrian, mantannya. Hari-harinya ditemani Aty, Rangga, Viki, Gio dan Rizal. Ayahnya, Julius tidak pernah datang lagi setelah mendonorkan darah untuk Yuni.


"Yun, lagi mikirin apa?" tanya Rangga yang sejak tadi memperhatikan Yuni.


"Ngga mikirin apa-apa, Ga.." jawab Yuni.


"Jangan terlalu banyak pikiran. Masih ada kita yang selalu ada di samping Lo.." ucap Rangga tulus.


"Iya, Yun. Kita akan selalu ada buat Lo. Lupakan yang hilang dan telah pergi," kata Rizal yang semula duduk di sofa kini bangkit dan berjalan ke arah Yuni.


Aty dan Viki yang sedang makan keripik menghentikan aktivitasnya karena melihat Yuni yang tertunduk sedih. Aty berjalan dan memeluk Yuni, "Gue tahu Lo sedih dan gue tahu juga kalau Lo orang terkuat yang pernah gue kenal."


Air mata berlinang di mata Yuni. Berusaha ditahannya agar tidak menetes, "Gue ke kamar mandi dulu.." kata Yuni pelan lalu pergi ke kamar mandi setelah Aty melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Aty hanya menghembuskan napas kasar, Rangga yang dihadapannya nampak diam dan muram. Viki, Rizal dan Gio hanya saling pandang.


Ketika di dalam kamar mandi, air mata yang tidak bisa terbendung lagi akhirnya menetes di pipi Yuni. Hatinya sesak, napasnya tersengal. Mengingat kisah hidupnya yang senantiasa dilanda kepedihan.


"Ma, Yuni ngga kuat.. Pinjamkan Yuni hati Mama yang kuat itu.." Ucap Yuni lirih.


"Orang lain punya sandaran hidupnya. Punya orang tua, punya kasih sayang. Sedangkan aku...?" Yuni kembali menangis dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Sepuluh menit lamanya Yuni menangis dengan posisi itu.


Tok..tok..


"Yun..." Terdengar suara memanggil.


"Yun.." Aty kembali mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil namanya.


Yuni merasa bersalah karena telah membuat teman-temannya khawatir, "Lupain dia, Yun.. hidupmu masih panjang.." ucap Yuni pada dirinya sendiri di depan cermin.


Setelah merasa lega dan menguatkan dirinya sendiri, Yuni berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dilihatnya Aty dengan tatapan khawatir memeluk lengannya.


"Lo ngga apa-apa kan?" tanya Aty membimbing Yuni ke tempat tidur.

__ADS_1


"Gue ngga apa-apa. Maaf sudah buat kalian khawatir.." jawab Yuni dengan wajah yang tidak semuram tadi.


Aty merasa lega, "Syukurlah.. Jangan muram kaya gitu lagi. Rugi tahu punya wajah cantik tapi muram terus," goda Aty yang merasa senang melihat Yuni kembali tersenyum.


"Gitu dong.. Ruangannya kembali adem kalau Lo tersenyum kaya gitu," ucap Gio yang juga merasa senang. Viki dan Rizal juga ikut tersenyum.


Di dalam ruangan itu hanya Rangga satu-satunya yang diam tanpa suara.



Diamatinya wajah Yuni dengan seksama, rasa itu kembali tumbuh untuk membuat Yuni selalu tersenyum. Membuat Yuni merasa bahwa ada orang yang selalu di sampingnya, menemaninya dalam menggapai impiannya dan bersedia menjadi bahu untuk Yuni ketika sedih dan putus asa. Itulah impian Rangga semenjak mengenal Yuni, rasa itu disimpan dan lebih memilih untuk menjadi teman serta menunggu sampai waktunya tiba.


🍁🍁🍁


Haloo hayyy😁😁


Mana nih tim Yuni dan Richard? Atau tim Yuni dan Rangga?


Silahkan tulis di kolom komentar...

__ADS_1


__ADS_2