Stuck On You

Stuck On You
4. Hukuman


__ADS_3

Karel, Arman dan Dito mengikuti langkah pak Jumari, setelah sedikit drama yang Dito alami ketika masih di rooftop tempat yang rencananya menjadi tempat membolos jam upacara bendera. Rencana itu gatot. Gagal Total karena pak Jumari mengetahui tempat persembunyian kami. Sudah satu masalah yang muncul pagi ini


Ternyata pak Jumari mengarahkan kami bertiga kearah lapangan. Biasanya jika kami ketahuan membolos, akan dibariskan terpisah dan paling belakang. Sehingga tidak membuat keributan dan akan mengganggu upacara yang berlangsung


Bedanya kali ini, Karel, Arman dan Dito sekarang berdiri di sebelah kepala sekolah yang sedang memberikan himbauan untuk siswa-siswi lain.


Setelah mendengar sindiran yang sepertinya tertuju kepada Karel, Arman dan Dito, kepala sekolah memutuskan untuk berbicara secara pribadi dengan ketiganya seusai upacara bendera ini.


                        ******


Sekarang, masih di tengah lapangan, Karel, Arman dan Dito sedang berhadapan dengan kepala sekolah. Menunggu keputusan sanksi yang akan diberikan untuk ketiganya.


"Saya sudah sering mendengar keluhan guru-guru yang mengajar kalian" ujar Kepala sekolah memulai pembicaraan


"Apa kalian tidak lelah terus-terusan berurusan dengan pak Jumari dan guru BK lainnya?" tanya kepala sekolah


Yang diberi pertanyaan hanya diam saja. Karel, Arman dan Dito merasa sangat deg-degan karena berhadapan langsung dengan kepala sekolah


"Sebagai sanksi, kalian saya hukum untuk membersihkan area taman, lapangan indoor dan outdoor untuk seminggu kedepan. Dan setelah ini, kalian lari keliling lapangan 3 kali"


Skakmat. Sudah dua masalah yang mereka alami hari ini. Di tambah sanksi untuk membersihkan area sekolah. Lengkap sudah penderitaan mereka


Ucapan kepala sekolah membuat Dito yang sedari tadi menunduk, tiba-tiba mendongak menatap kepala sekolah. Mulutnya sudah berniat mengeluarkan sebuah protes


Sebuah cubitan diterima oleh Dito di pinggangnya. Membuat Dito kembali mengantupkan mulutnya.


"Siap pak. Kami akan menjalankan hukuman itu" jawab Arman sopan


Dito dan Karel secara serempak menengok ke arah Arman. Lihatlah, dengan percaya dirinya Arman meng-iyakan ucapan kepala sekolah tanpa meminta pendapat dari dua sahabatnya yang lain.


Jawaban Arman membuat kepala sekolah tersenyum. Lalu kepala sekolah meninggalkan ketiganya


"Eh oncom, kok lo nerima gitu aja sih" cercah Karel kesal dengan keputusan Arman


"Tau lo. Udah gitu pake nyubit gue kenceng banget lagi" lanjut Dito yang ikut tersulut emosi


Arman berkacak pinggang dan menghembuskan nafas kasar "heh, lo pada nggak mikir apa kalo kita nolak tuh hukuman"


Karel berdecak "masalahnya tuh sekarang lagi panas-panasnya, Ar"

__ADS_1


"Yaelah, Rel, kek cewek aja lo" ledek Arman menjawab protes dari Karel


Taakk


Satu jitakan diberikan Dito dikepala Arman "tiga putaran, Ar. TIGA" ucapnya dengan mengacungkan ketiga jarinya


Arman mengelus bekas jitakan Dito dikepalanya "gini nih kalo orang nggak berpikir dua langkah kedepan kalo ngambil keputusan"


"Itu lo!!" jawab Karel dan Dito berbarengan


Arman terkekeh melihat muka sebal dua sahabatnya itu. Ia berusaha memberikan perngertian mengenai keputusan yang diambilnya


"Nih ya, kalo kita nolak itu hukuman, bisa jadi hukuman yang bakal kita dapet itu bakalan lebih susah lagi. Kalo orang tua kita dipanggil kesini lebih berabe kan" jelas Arman. Menyampaikan alasannya menerima hukuman itu


Karel menggaruk kepalanya yang tidak gatal "iyaa sih"


Memang dari ketiganya, Arman lah yang paling dewasa dan kalem. Yang paling sering berfikir cepat tapi tepat. Memisahkan Karel dan Dito yang seringkali ribut karena hal sepele.


Karel yang punya sifat pecicilan, gegabah, dan tidak mau kalah. Dito yang selalu berbicara frontal tanpa filter, sama pecicilannya dengan Karel. Sifat keduanya yang memang berbanding terbalik dengan Arman. Perbedaan itulah yang membuat mereka saling mengisi kekurangan dari ketiganya


"Yaudahlah ayo lari" Arman mendorong punggung Dito yang sedari tadi diam sembari memasang wajah kesalnya


Diikuti oleh Karel dibelakangnya yang mulai berlari mengelilingi lapangan


Setelah mengisi perut di kantin, Nadia dan Dita berniat langsung kembali ke kelas. Di tangan keduanya memegang minuman botol yang juga dibeli di kantin tadi. Mereka berjalan beriringan sembari mengobrol ringan.


Saat melewati area lapangan, Dita tiba-tiba berhenti dan memekik pelan, membuat Nadia mengernyitkan alisnya bingung ke arah Dita


"Nadia Nadia astaga... Itu Dito" pekik Dita sembari menunjuk ke arah lapangan


Nadia mengikuti arah tangan yang ditunjuk Dita. Ia menghembuskan nafasnya kasar 'makin lama sampai kelas ini mah' batin Nadia


Tangan Nadia ditarik Dita menuju kearah lapangan. Ke arah tiga cowok yang sepertinya sudah selesai menyelesaikan hukuman yang diberikan. Dan sekarang, mereka bertiga sedang duduk berselonjor ditepi lapangan dengan nafas tak beraturan serta keringat bercucuran membasahi seragam mereka


"Dito" panggil Dita setelah sampai di sebelah Dito yang tengah terduduk


Dito mendongakkan kepala. Terlihat masih berusaha mengatur nafasnya yang terlihat ngos-ngosan


Dita menyodorkan botol air mineral miliknya yang masih tersegel kepada Dito "Ini minum dulu. Pasti lo haus"

__ADS_1


Dito menerima dengan senang hati dan langsung menegaknya hingga setengah. Lalu memberikan botolnya kepada Arman


"Haahh. Alhamdulillah. Thanks ya" ucap Dito sembari menyeka keringatnya didahinya


"Eh, jangan diabisin kampret" Karel menepuk bahu Arman yang sedang menegak air mineral yang tinggal separuh


Arman tetap diam dan menghabiskan sisa air tersebut tanpa memperdulikan Karel "nih" Arman menyodorkan botol kepada Karel


"Ngapain lo ngasih ke gue?" tanya Karel sebal


"Kata lo jangan diabisin. Yaudah ini"


"Itu udah abis, oncom"


"Masih. Setetes mah ada"


"Nggak setetes juga, ARMANN" Karel menunjukan wajah kesalnya kearah Arman yang sekarang sedang tertawa


Nadia dan Dita masih berdiri dan memperhatikan perdebatan dua cowok didepannya. Botol air yang dipegang Nadia direbut begitu saja. Membuat Nadia melihat kearah seseorang yang telah mengambilnya


"Tau banget kalo gue juga haus" ujar Karel dengan tampang tak berdosa setelah mengambil begitu saja air mineral yang di genggam oleh Nadia


"Gue nggak nyangka loh, ternyata dibalik sifat cuek lo, terselip rasa perhatian yang besar" dengan percaya dirinya Karel berucap seperti itu


Dito, Arman, dan Dita memandang jijik gombalan receh yang dilontarkan Karel kepada Nadia


Nadia mengangkat kedua alisnya "sorry, tapi itu bukan punya gue"


"Iya. Itu titipan temen kelas gue, Rel" lanjut Dita menambahi


"What the --"


"Tolong ganti yang baru" ujar Nadia singkat


Karel cenggo mendengar fakta itu. Kedua temannya yang masih duduk tertawa keras menyadari tingkah salah satu temannya itu


"******" ledek Dito sembari tertawa


"Mamam noh perhatian" tambah Arman

__ADS_1


Lihatlah sekarang, bagaimana wajah malu Karel. Baru akan membalas ucapan Nadia, cewek itu sudah berjalan menjauhi area lapangan. Meninggalkan tiga orang yang sedang tertawa terbahak dan satu orang yang menahan malu


Dita menepuk-nepuk bahu Karel pelan "asli, kalo gue mah balik kerumah, terus tutupin muka pake panci" tawa Dita meledak lalu berlari menyusul Nadia kearah kelasnya


__ADS_2