
Seperti pagi-pagi sebelumnya, sudah menjadi rutinitas Karel sejak tiga bulan yang lalu. Sejak Karel mulai mendekati murid kelas sebelah. Karel tau nama cewek itu dari Dita, sahabat dari orok Karel. Yang kebetulan satu kelas dengan Nadia. Cewek yang Karel taksir, sekaligus Karel incar belakangan ini. Dan dengan kebetulannya lagi, Dita satu meja, bahkan juga berteman dekat dengan Nadia. Memang jodoh tidak kemana
Karel mempunyai dua teman sesama bobrok. Namanya Arman dan Dito. Kita bertiga berteman sejak kelas sepuluh. Ketika berada di ruang BK, dengan masalah yang sama. Membolos saat jam pelajaran berlangsung. Mulai saat itulah kita bertiga mulai mengobrol dan dekat seperti sekarang. Arman dan Dito tahu Karel mengincar cewek kelas sebelah. Malah mereka yang tidak pernah absen untuk memberikan ide-ide unik untuk membantu Karel mendekati Nadia.
Seperti minggu kemarin, mereka menyarankan Karel untuk mengirim barang kepada Nadia. Yang membuat Karel shock, mereka nyarankan Karel untuk mengirim satu paket pembalut. PEMBALUT. Gila nggak tuh. Kata mereka, setiap bulan wanita pasti mempunyai siklus khusus. Karel juga tau mengenai fakta itu. Dan mereka yakin, jika ide mereka akan membuat Nadin sedikit luluh. Yang menjadi permasalahan disini adalah, Karel tidak tau menahu mengenai bentuk pembalut itu seperti apa. Mereka menyarankan Karel untuk searching. Dan begonya lagi, Karel nurutin ide mereka. Saat Karel membaca informasi didalamnya, bentuk pembalut itu ada yang bersayap dan yang tidak. Karel langsung berfikir 'emang pembalut bisa terbang ya?'
Dan setelah berfikir cukup lama, mempertimbangkan saran dari dua temannya itu, akhirnya Karel memutuskan akan mencoba cara itu. Ia memesan pembalut satu kardus di aplikasi online shop, lalu memasukkan alamat rumah Nadin. Agar paketan itu langsung sampai dirumah Nadin.
Dan setelah beberapa minggu, barang yang Karel beli sudah sampai di tangan Nadin. Sengaja ia meminta tolong kepada Dita, agar memberi tahu jika yang memberi paket kiriman pembalut itu adalah dirinya. Dita mengiyakan ucapan Karel. Sebelumnya, Dita tertawa terpingkal menyadari tingkah konyol bin ajaib sahabatnya ini.
Besoknya, Karel sengaja berangkat lebih awal untuk menunggu Nadia di koridor seorang diri. Tanpa dua sahabat ajaibnya, Arman dan Dito. Karel ingin tahu bagaimana reaksi Nadia. Dan saat Nadia berpapasan dengan Karel, Nadia hanya melihat sepersekian detik, itupun tanpa ekspresi lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas
'Duh kayaknya itu ide salah besar deh' batin Karel
Karel berdecak bingung "au ah. bodoamat" ucapya, lalu berjalan pergi mencari Arman dan Dito yang mungkin sudah ada dikelas
\\
Gue nggak nyerah gitu aja. Setelah kejadian kiriman paket pembalut itu nggak direspon sama Nadia, Karel masih menjalankan kebiasaan 'nunggu' Nadia di koridor sekolah. Seperti hari senin ini. Karel, Arman dan Dito sudah stay di koridor cuma untuk menyapa Nadia.
Yaa, meskipun tidak ada respon dan obrolan yang tercipta setiap kali Karel mengajak Nadia mengobrol. Dan selalu berakhir dengan Nadia yang dengan santainya berjalan lurus tanpa gangguan. Seperti tidak melihat Karel, Arman dan Dito yang berada disekitar koridor.
Dan kalian tahu reaksi dari dua sahabatnya yang hanya duduk di kursi yang tersedia di koridor? mereka ngakak MAN!! ngakak loh. Emang gak ada akhlak mereka. Arman dan Dito yang selalu melihat pemandangan yang sama setiap pagi yang dialami salah satu temannya itu. Dan nggak ada niatan buat ngebantu ngomong ataupun ngebantu buat meyakinkan Nadia.
__ADS_1
Setiap Karel berujar "bantuin gue buat deketin Nadia kek malah ngakak gitu"
Mereka cuma menjawab "kita mah cuma jadi supporter. Yaa gak Ar" jawab Dito santai sembari merangkul bahu Arman yang duduk disebelahnya
"Yoi. Lagian lo nggak capek apa, pdkt udah tiga bulan nggak ada kemajuan" celetuk Arman
Dito menganggukan kepalanya "lo deketinnya si Nadia sih Bro. Cewek jutek gitu lo perjuangin"
Karel menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangannya bersekap dada sambil memandang kedua temannya yang duduk didepannya "maka dari itu. Tipe cewek kek gitu yang harus kita luluhin hatinya"
Dito mencibir ucapan Karel "percuma berjuang, kalo nggak dihargai"
"sialan lo" dengus Karel sebal
Arman berdiri dari duduknya "udahlah. Bentar lagi upacara. Rooftop aja lah nyok"
Mengingat pagi ini hari Senin, membuat ketiganya memutuskan untuk tidak mau ikut berdiri berpanas-panasan di lapangan mengikuti upacara bendera. Mereka berniat nenghabiskan waktu membolosnya kali ini ke rooftop sekolah. Tempat yang jarang sekali didatangi oleh murid SMA Bhineka.
Bukan kali ini saja mereka menghabiskan waktu membolos dengan kabur ke rooftop. Selama hampir tiga tahun ini, semenjak mereka akrab, dan kemana-mana bertiga, kantin, perpustakaan, dan rooftop menjadi tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu membolos mereka. Entah untuk tidur, ataupun bermain game di ponsel masing-masing.
Seperti saat ini. Mereka sedang duduk di kursi reot sembari memainkan ponselnya masing-masing. Ada beberapa cemilan tergeletak di lantai rooftop. Terkadang mereka menyumpah serapahi game yang dimainkan.
"enak ya, murid yang lain upacara, kalian enak-enakan duduk sambil main handpone"
"enak lah" celetuk Dito santai menjawab ucapan seseorang yang baru saja datang dan belum menyadari siapa yang datang
Beberapa detik kemudian, Dito membelalakan matanya, melihat dua sahabatnya yang sekarang menunjukan ekspresi yang sama sepertinya. melihat kearah belakang Dito, tepatnya kearah pintu masuk
__ADS_1
"ikut saya sekarang" ucap tegas pak Jumari. Salah satu guru BK. Tangannya menjewer telinga Dito yang meringis kesakitan
"aduh aduh pak. Telinga saya sakit pak, duh. Lepasin lah pak" ucap Dito, wajahnya memelas
"kata kamu enak" jawab pak Jumari santai. Tangannya belum lepas dari telinga Dito
Karel dan Arman hanya menahan tawa melihat penderitaan Dito
"heh kalian berdua. Jangan ketawa ketiwi gitu. Mau saya jewer juga kalian" ujar pak Jumari sembari melotot kearah Karel dan Arman
"jewer lah pak. Masa cuma saya yang dijewer, mereka nggak sih pak" sengut Dito tidak terima
Pak Jumari tidak menanggapi ucapan Dito "kalian ini, nggak ada kapok-kapoknya masuk BK"
"di ruang BK kan adem pak" celetuk Dito lagi
Pak Jumari semakin menarik telinga Dito "aduh pak aduh" ringis Dito
"kamu lagi, diomongin orang tua jawab terus" ucap pak Jumari melihat Dito lalu melepaskan jewerannya
Dito mengusap telinganya yang terasa panas akibat jeweran pak Jumari "si bapak giman sih, kalo kita nggak jawab, kita di marahin, kalo kita jawab juga kena marah. Saya tuh nggak bisa di giniin pak" ujar Dito mendramatisir suasana
Taakk
Satu jitakan diberikan Arman ke kepala Dito "stress lo kadang nggak inget tempat ya, Dit"
Karel hanya tertawa melihat kelakuan kedua sahabatnya. Padahal didepannya masih ada Pak Jumari, bisa-bisanya mereka berdebat seperti itu
__ADS_1
"sudah. Cepat ikut saya" perintah pak Jumari kepada ketiga siswanya ini. Dan diikuti oleh ketiganya dengan langkah malas