
Lantai Dua Rumah Anindya
"Ma, papa mana?" tanya Siska pada mamanya.
Rini yang sedang murung di dalam ruang kerja Julius menatap ke arah putrinya, "Menemui tamunya di bawah."
"Ma, kenapa mukanya muram gitu?" tanya Siska.
"Perusahaan papa kamu sebentar lagi bangkrut," jawab Rini seraya melipat tangannya dan menatap ke luar jendela.
"Kenapa bisa begitu, Ma?"
"Mama juga ngga tahu."
"Aku kan masih kuliah, Ma. Kalau papa bangkrut gimana dong nasib kita?"
"Kamu tenang aja. Mama akan minta papa kamu untuk mewariskan semua yang ada pada kamu."
"Mewariskan apa, Ma? Perusahaan saja udah bangkrut kaya gitu, aku mau dapat apaan?"
"Properti lainnya, Sayang." Rini mendekati Siska dan membelai rambutnya.
"Sedikit amat tu, Ma. Gimana aku mau shopping dan perawatan kulit aku?"
"Mudah-mudahan papa kamu bisa mengatasi masalah perusahaan dan kita tidak perlu khawatir lagi."
"Iya deh, Ma. Aku ke bawah lihat papa dulu." Rini menghentikan belaian pada rambut putrinya.
Siska hendak menuruni tangga, langkahnya terhenti karena mendengar suara yang tidak asing. Mempercepat langkah dan menajamkan pendengarannya, Siska terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Kenapa Pak Richard bisa ada di rumah ini?" tanya Siska pelan. Niat untuk bertemu Papanya lenyap karena rasa penasaran pada Richard yang datang ke rumahnya hari ini.
"Jadi demi ja**ng itu dia datang memohon pada papa. Dasar ngga tahu malu kamu Yuni, kenapa ngga mati aja sekalian," ucap Siska lagi.
Siska mengernyitkan dahinya karena papanya tampak takut ketika Richard menyebutkan namanya. Julius yang biasa nampak wibawa kini seperti seorang yang sedang membutuhkan belas kasihan. Yang semula marah-marah sekarang berubah ramah.
Beberapa menit kemudian Richard pergi meninggalkan Julius dan keluar dari rumah itu. Siska berlari kecil menuju balkon kamarnya yang langsung menghadap ke arah depan rumah. Hatinya terenyuh melihat Richard melangkah dengan gagahnya menuju mobil yang diparkirkan dengan asal.
"Ternyata Pak Richard bukan hanya seorang dosen. Gue harus mengambil hatinya, agar bisa jadi nyonya Pratomo," ucap Siska tersenyum sinis.
Setelah mobil Richard dan Rangga meninggalkan rumahnya, Siska segera meninggalkan balkon tersebut dan mencari Julius.
__ADS_1
"Pa.. Papa..," panggil Siska sambil menuruni tangga.
"Kenapa, Siska?" tanya Julius yang juga sedang menaiki tangga menuju kamar.
"Papa, mau kemana? Yuni dirawat di rumah sakit mana, Pa?" tanya Siska mengikuti Julius dari belakang.
"Di rumah sakit X. Kamu mau menjenguknya juga?" tanya Julius ragu.
"Iya, Pa. Bagaimanapun Yuni juga saudara aku, Pa.." ucap Siska pura-pura.
"Memang kamu putri terbaik papa. Kita hanya punya waktu lima belas menit, jadi kita berangkat sekarang," ucap Julius lalu memasuki kamarnya.
Dengan berlari kecil menuju kamar, Siska memikirkan alasan ketika bertemu Richard di rumah sakit nanti. Senyum manis terukir di bibirnya.
Siska hanya mengambil tas dan ponselnya. Beberapa saat melihat ke arah cermin dan memastikan penampilannya.
"Bersyukur tadi gue udah dandan untuk bertemu Juna," ucap Siska lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan teks pada Juna untuk membatalkan kencannya hari ini.
Setelah mengirim pesan, Siska melangkah keluar kamar dan menuju Julius yang sudah menunggu di bawah tangga.
"Ayo, Pa," ucap Siska menggandeng tangan Julius.
Setelah sampai di rumah sakit, Siska berjalan menghampiri Julius, "Papa duluan aja, aku mau beli sesuatu di minimarket itu dulu.
"Iya, hati-hati," jawab Julius kembali melangkah menuju ruang UGD. Siska menyeberangi jalan dan mulai membeli roti dan minuman kaleng. Setelah merasa cukup, Siska menuju kasir dan membayarnya.
Dengan semangat, Siska berjalan menuju UGD. Sambil menenteng paper bag dan memikirkan cara untuk bisa mengobrol dengan Richard. Namun seketika dia mendengar ada yang memanggil namanya. Dilihatnya ke kiri dan ke kanan mencari sumber suara.
"Ngapain Lo kesini?" Suara seseorang terdengar dari belakang. Siska membalikkan badannya dan melihat Aty dan Viki.
Dengan senyum sinis, Siska maju satu langkah, "Gue mau lihat saudara tiri yang lagi sekarat."
"Apa Lo bilang?" Aty menggenggam tangannya dan menahan emosi.
"Ngga denger? Atau Lo tuli," ucap Siska dengan tatapan sinis.
"Kehadiran Lo ngga diharapkan disini. Mending Lo pulang sana," ucap Aty dengan suara yang mulai meninggi.
"Gue nemenin bokap kesini, ngga sudi juga buat jenguk ja**ng itu. Waktu gue buang sia-sia tahu ngga." Siska menatap kesal ke arah Aty.
"Sudah, Ty. Lo kan mesti diperiksa dulu. Ngga usah ladenin dia." Viki yang dari tadi melihat keduanya beradu mulut membujuk Aty, mengingat kondisinya karena wajahnya nampak pucat.
__ADS_1
"Berani Lo macam-macam atau Lo terlibat dengan apa yang dialami Yuni, lo bakalan tahu akibatnya." Ancam Aty lalu pergi meninggalkan Siska yang bingung dengan perkataan Aty.
"Tu ja**ng yang celaka kenapa disangkutpautkan ke gue," Siska tidak melanjutkan perkataannya. Bulu badannya berdiri mengingat sosok Maura. Sudah dipastikan bahwa yang mencelakai Yuni adalah Maura. Siska menjadi gugup karena dirinya juga terlibat dalam rencana Maura. Memberikan alamat Yuni dan turut membantu Maura mengantarnya ke rumah Yuni.
"Mampos gue," ucap Siska khawatir.
Siska menenangkan dirinya. Ditariknya napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Sambil memaksakan senyum, dia kembali melangkah menuju ruang UGD. Tampak dari kejauhan, Richard dan Fabian sedang menunggu di depan ruangan tersebut.
Siska menghampiri Richard, raut mukanya berubah menjadi sedih, "Pak Richard..," panggilnya "bagaimana keadaan Yuni? Aku dengar dari papa kalau Yuni kecelakaan. Dia tidak apa-apa kan, Pak?"
Richard menatap tajam ke arah Siska, "Kamu pasti sudah mengetahuinya dari Maura perihal keadaan Yuni."
Deg
Siska terkejut bahwa Richard mengetahui hubungannya dengan Maura. Namun dia berusaha mengelak, "Maksud Pak Richard apa?"
"Tidak ada maksud. Buat apa kamu kesini?" Richard tahu bahwa dalam insiden penembakan Yuni, Siska tidak terlibat di dalamnya.
"Pasti Pak Richard belum makan. Ni aku bawain roti buat Bapak," ucap Siska lalu memberikan paper bag itu pada Richard.
"Saya sudah kenyang. Berikan saja pada asisten saya," ucap Richard seraya melirik ke arah Fabian. Fabian yang mengerti dengan tatapan Richard langsung menerima paper bag tersebut.
Siska menghembuskan napas kesal. Dilihatnya kursi di sebelah Richard kosong lalu dengan cepat duduk disampingnya. Richard yang melihat tingkah Siska merasa kesal. Fabian hanya mengerutkan dahinya.
"Pak Richard pakai parfum apa kok wangi banget?" tanya Siska membuat Richard menatapnya tajam.
"Berhenti berbicara. Ini rumah sakit," ucap Richard kesal. Siska langsung diam merasa takut dengan bentakan Richard.
Terdengar pintu ruangan UGD terbuka. Dengan cepat Richard beranjak menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana hasilnya, Dok?"
🍁🍁🍁
Hallo Hayyyy
Semuanya semoga sehat selalu yah 😊
Jangan lupa like vote dan fav yah
I Love You ♥️
__ADS_1