
Kita tidak mempu mengubah sesuatu yang sudah terjadi. Entah itu kesedihan, kekecewaan dan kemalangan. Karena yang selalu kita harapkan adalah kebahagiaan. Tidak selamanya sebuah perjalanan yang ditempuh berjalan mulus. Selalu ada hambatan dan batu penghalang.
Yuni sudah bahagia akan bertemu dengan Richard namun berbagai kejadian menimpa kedua orang yang menjadi penentu dalam pertemuan itu. Papanya dan Fabian kini sama-sama terbaring di rumah sakit. Banyak yang bilang hidup itu seperti roda berputar, kadang kita di atas namun juga di bawah. Sungguh roda kehidupan yang dialami Yuni sedang rusak, sehingga dia senantiasa berada di bawah, menderita dan terluka. Kapan roda itu perlahan merangkak ke atas? Yuni hanya berusaha kuat untuk berdiri dan melangkah melanjutkan hidup.
"Kamu ngga apa-apa, kan?" Dokter itu bertanya karena Yuni terlihat pucat dan kaget.
"Apakah saya bisa melihat Papa?" tanya Yuni pada dokter tanpa menjawab pertanyaannya.
Belum sempat dokter itu menjawab lengan Yuni sudah di tarik oleh Rini. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Julian sudah tidak mau bertemu kamu lagi." Rini terlihat emosi dengan mata memelotot.
"Saya anak kandungnya. Saya berhak melihat Papa saya sendiri..." ucap Yuni lirih. Aty yang di samping Yuni terlihat kesal dengan sikap Rini.
"Anak kandung? Apa kamu lupa kalau papa kamu yang ngusir kamu dari rumah?" Rini melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Yuni dengan angkuhnya.
"Saya tidak membutuhkan persetujuan, Tante. Saya dan papa saya sudah berbaikan," ucap Yuni yang mulai tersulut emosi.
"Tapi saya istri sahnya sekarang. Saya tidak mengijinkan kamu masuk. Jika kamu ingin menemui Julian, kita harus berbicara sesuatu hal yang penting terlebih dahulu. Setelah itu kamu bisa bersamanya kapan saja kamu mau," ucap Rini.
__ADS_1
Yuni melihat Rini secara saksama berusaha mengetahui rencana apa lagi yang akan dilakukannya. "Baiklah.."
"Yun, jangan ikuti kemauannya. Pasti dia sudah merencanakan sesuatu untuk mengambil sesuatu dari lo." Aty menahan lengan Yuni yang hendak melangkah mengikuti Rini.
"Ngga apa-apa, Ty. Demi papa gue harus ngomong sama dia." Yuni melepaskan genggaman tangan Aty di lengannya dan kembali melangkah mengikuti Rini.
Setelah menelusuri lorong rumah sakit, Rini menghentikan langkahnya di kantin. Setelah melihat ada tempat duduk kosong, mereka berjalan dan duduk di sana.
"Apa yang mau Tante bicarakan?" tanya Yuni tanpa basa-basi.
"Hidup papa kamu sudah ngga lama lagi dan kondisinya sekarang kritis." Rini mulai pembicaraannya.
"Tidak perlu buru-buru. Papa kamu tidak akan mati jika tanpa seizinku." Rini tersenyum licik. Yuni menghempaskan tangan Rini.
"Apa maksud, Tante?" tanya Yuni sambil berharap Rini tidak melakukan sesuatu pada papanya.
"Di dalam ruangan ada anak buah saya. Jika kamu tidak menuruti perkataan saya maka detik ini juga kamu akan kehilangan papa kamu," ucap Rini licik.
__ADS_1
Yuni terperanjat kaget, tangannya terkepal erat dan dadanya naik turun menahan amarah. "Papaku sudah baik sama kalian, tapi balasan dari kalian sungguh kejam," ucap Yuni menahan amarah.
"Hidup ini kejam, maka harus lebih kejam dalam menjalaninya, Yuni. Apakah kamu tidak kasihan pada Julian? Atau kamu juga mau kalau papa kamu mati sekarang?" Rini berbicara tanpa beban dan malah tersenyum licik. Nampak Rini mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Putrinya tidak menginginkan papanya hidup jadi lakukan seka---"
"JANGAN!" teriak Yuni menghentikan pembicaraan Rini dengan seseorang di teleponnya.
Rini tersenyum senang dan mematikan sambungan teleponnya. "Baiklah," ucapnya.
"Apa yang mau Tante bicarakan?" tanya Yuni. Dalam hatinya Yuni menerka bahwa Rini akan membicarakan mengenai warisan dari papanya.
"Kamu harus berubah peran dengan Siska," ucap Rini.
"Maksud, Tante?" tanya Yuni bingung.
"Serahkan Richard pada Siska. Jika tidak bukan hanya papa kamu yang jadi korban tapi Fabian juga." Ancam Rini.
Lagi-lagi Yuni harus menahan amarah dan pedihnya sekaligus. Amarah karena Fabian juga dicelakai oleh Rini dan pedih karena harus menyerahkan Richard pada saudara tirinya. Hatinya seperti dicabik-cabik, air mata mulai menetes di pipinya. Merelakan atau mempertahankan...
__ADS_1
****
To Be Continue