
"Jodoh pala lo gepeng!!" Nadia melempar potongan kecil sandwich miliknya
Dita kembali mengunyah makanannya sambil melihat teman-temannya itu yang sedang mengadakan konser dadakan
"Nangis batinku nggrentes uripku. Teles klebes netes eluh cendol dawet"
"Cendol dawet seger. Cendol cendol, dawet dawet, cendol cendol dawet dawet"
"Cendol dawet seger. Piro.. Lima ngatusan, teruss.. Nggak pake ketan. Ji ro lu pat limo emem pitu wolu"
"Tak itak itak"
"Lolololo yaaa"
Semua serempak bernyayi lagu milik penyanyi Didi Kempot. Termasuk Dita yang ikut berdiri sembari ikut bernyanyi keras
Nadia menepuk jidatnya pelan "ambyar dah"
"Ayo sobat ambyar mana suaranyaaa" suara Bian melengking. Dia berperan sebagai vokalis di konser dadakan ini
"Woooaahhhh" jawab anak-anak kelas
Keadaan kelas saat ini sangat riuh dengan acara dadakan ini. Hampir separuh anak dikelas ini ikut menikmati.
"Heh. Duduk" Nadia menarik baju Dita agar sahabatnya itu kembali duduk
Dita kembali duduk, sesekali masih bernyanyi mengikuti teman-temannya
"Keluar yuk" ajak Nadia dengan suara agak keras kepada Dita
"Ngapain"
"Budek gue disini"
"Ck. Ganggu orang seneng aja lo" Dita berdecak sebal kepada Nadia
Nadia menarik tangan Dita agar berdiri dari duduknya. Menarik keluar kelas, menuju ke perpustakaan. Dita mengikuti Nadia dengan langkah malas.
"Ngapain ke perpustakaan sih Nad? Kayak nggak ada tempat lain aja" tanya Dita yang tangannya masih digandeng oleh Nadia
Nadia hanya diam. Baru setelah dia dan Dita sudah duduk di pojok dekat rak buku, Nadia menjawab pertanyaan Dita "gue mau curhat sama lo"
Dita langsung membelalakan matanya terkejut "curhat? Lo kesambet dimana"
Nadia memutar matanya malas "gue serius"
"Lo lagi nggak demam kan" Dita menaruh telapak tangannya ke dahi Nadia memastikan
"Ditaaa gue serius ini"
Dita menurunkan tangannya lalu menopang dagunya menatap Nadia yang duduk di hadapannya "passwordnya dulu"
Nadia mengernyitkan dahinya bingung. "Lo tinggal bilang ' curhat dong mahh' gitu"
Nadia menyentil dahi Dita keras "itu mamah dedeh!"
Dita terkekeh pelan. Takut mengganggu siswa-siswi lain yang berada di ruangan ini "yaudah apaan"
__ADS_1
"Gue kan udah cerita kalo partner olimpiade gue si Karel kan" Nadia mulai menceritakan keluh kesalnya
"Hooh. Pokok permasalahannya dimana?" tanya Dita
"Ya di partner gue lah"
"Karel?"
"Iyaaa"
"Karel kenapa emang?"
Nadia menyangga dagunya "lo tau kan, reputasi dia gimana disini?"
"Lo nggak yakin sama otak dia?"
Nadia mengangguk mengiyakan. "Gini ya, selama gue satu kelas sama dia, dari TK, SD, sampai SMP, dia itu salah satu saingan gue"
"Saingan?"
Dita yang mengangguk kali ini. Ia membenarkan duduknya "dia saingan gue dikelas waktu itu. Lo pasti nggak percaya kalo dia pinter. Tapi faktanya dia itu pinter. Jadi murid kesayangan guru-guru malah"
Nadia terkejut mendengarkan penuturan Dita. 'Masa iya sih' batin Nadia meragukan
"Dia itu jadi agak nakal kayak sekarang itu gara-gara dia sering dimanfaatin sama temen-temennya"
"Dimanfaatin?"
Dita mengiyakan "temen-temen Karel dateng cuma kalo ada butuhnya doang. Karel dulu nggak se-nakal sekarang"
"Cuma gara-gara dimanfaatin?"
Dita mengernyitkan dahinya "lah kok jadi gue yang cerita sih"
Nadia terkekeh "kayaknya lo seneng banget kalo cerita masa kecil lo sama Karel"
Dita tersenyum. Pikirannya seperti melihat ke masa lalu. Disaat dirinya dan Karel masih bermain bersama. Karel yang ia anggap sebagai kakak lelakinya
"Karel udah kayak kakak gue. Dia yang selalu ada kalo gue butuh bantuan. Dia yang nolongin gue kalo gue jatoh dari sepeda, beliin gue ice cream kalo gue nangis. Dia udah jadi rumah gue" Dita bercerita panjang lebar
Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal "jadi, menurut lo, gue terima gitu aja kalo Karel jadi partner olimpiade gue?"
Dita mengangguk dengan semangat "iyalah. Gue dukung malah. Gue yakin, kalo kalian berdua jadi partner nanti, kalian bakalan menang"
Nadia seolah berpikir "masih nggak percaya gue"
Dita berdecak "udah deh. Lo percaya sama gue. Dibalik sosok pecicilannya Karel, dia itu cowok yang bisa diandelin"
Nadia meletakkan kepalanya di atas meja disebelahnya "iyadeh gue coba percaya sama omongan lo yang satu ini"
"Eh, Nad" ujar Dita memegang lengan Nadia
Nadia mengangkat kedua alisnya seolah bertanya 'apaan?'
Wajah dita berseri menatap Nadia "kita disini aja sampe pulang sekolah ya"
Nadia langsung menegakkan tubuhnya "bolos maksud lo?"
__ADS_1
Dita mengangguk semangat. "Yaudahlah. Gue males pelajarannya bu Endang" ujar Nadia. Lalu meletakkan kepalanya lagi di meja
Mata Dita berbinar senang "serius? Yess!!"
"Sttt berisik. Gue mau tidur"
Dita meghormat ke Nadia "siap"
Dita ikut meletakkan kepalanya di atas meja. Menyusul Nadia yang sepertinya sudah tertidur. Sisa pelajaran berikutnya akan mereka habiskan dengan tidur di perpustakaan.
\*\*\*\*\*
Bel pulang berbunyi. Membangunkan dua cewek yang sedari tadi tidur beralaskan lengan mereka. Mereka menegakkan tubuhnya, sesekali mengucek matanya. Dan dengan langkah masih sempoyongan, mereka keluar dari perpustakaan menuju kelas
"Gue duluan ya, Nad. Mama gue minta dianterin ke mall" ujar Dita setelah menenteng tas miliknya. Dita berjalan dengan tergesa-gesa keluar kelas
"Eh, ini jaket Karel gimana?" tanya Nadia agak keras karena Dita sudah jauh
"Kapan-kapan aja" jawab Dita dengan teriakannya
Nadia berdecak sebal "yaelah" ujarnya. Lalu keluar kelas. Sekolah sudah lumayan sepi. Nadia menunggu mang Yudi di depan gerbang. Tidak seperti biasanya mang Yudi belum sampai sekolah Nadia
"Angkat dong, Mang" Nadia bolak balik menelpon mang Yudi. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada satupun teleponnya yang diangkat
Nadia akhirnya duduk di dekat pos satpam. Memainkan ponselnya, sambil menunggu mang Yudi.
Suara motor terdengar di telinga Nadia. Awalnya Nadia tidak menghiraukan. Tapi setelahnya, ada sebuah motor yang berhenti di depan Nadia. Mau tidak mau membuat Nadia mengalihkan pandangannya ke arah motor itu
"Loh" Nadia mengernyitkan dahinya. Melihat tiga motor berhenti di hadapannya
"Dit, Ar, kalian duluan aja ke rumah. Ntar gue nyusul" ujar Karel
Ya, Tiga motor yang berhenti itu milik Karel, Dito, dan Arman. Karel yang sudah turun dari motornya, sedangkan dua temannya ia suruh untuk pulang duluan
"Gitu ya, kalo udah ketemu, kita diusir. Ya nggak, Ar" celetuk Dito
Arman mengangguk "nggak mau tau, pokoknya kalo lo pulang, beliin kita pizza titik"
Dito tersenyum kearah Arman seolah berkata 'pinter malaknya'
"Iya. Kita tunggu di rumah Arman. Ghe sama Arman duluan yee" jelas Dito. Menelakson sekali menyapa Nadia. Lalu meninggalkan Karel dan Nadia di pos satpam. Disusul Arman dibelakangnya
"Sopir lo belum dateng, Nad?" tanya Karel yang sudah duduk di sebelah Nadia
Nadia mengalihkan pandangannya ke segala arah "belum" jawabnya singkat
"Lo tau? Batu sekeras apapun akan terkikis seiring berjalannya waktu"
"Kayak lo. Lo sedingin es. Tapi lama-kelamaan, es dalam diri lo akan mencair. Seiring berjalannya waktu juga. Dan itu karena gue"
Karel berucap dengan santainya. Dilihatnya Nadia hanya diam mendengarkan. Lalu Nadia membuka tas miliknya, menyerahkan jaket milik Karel
"Thanks" ucap Nadia
"Makasih udah nolongin gue tadi pagi"
Karel menerima jaket itu dengan tersenyum memandang Nadia. Nadia sudah berdiri dari duduknya masuk kedalam mobil jemputannya yang sudah datang
__ADS_1
"Sama-sama" jawab Karel pelan