Stuck On You

Stuck On You
16. Di Comblangin?!


__ADS_3

"Nad, nomer 12 punya gue rumusnya apaan dah. Pusing gue" ketus Karel menyodorkan buku miliknya kepada Nadia


Nadia berdecak, kemudian mengambil buku Karel, melihat dan memperhatikan soal yang dimaksud oleh Karel


"Pake rumus kuat arus halaman 10" ujar Nadia menyodorkan kembali buku milik Karel


"Bokap lo belum pulang, Nad?" tanya Karel sembari tangannya yang memegang pensil mengetuk-ketuk kepalanya


Nadia menggeleng "belum". Karel mengangguk mengerti, lalu kembali mengerjakan soal-soal di hadapannya


Keduanya sudah satu jam berkutat dengan buku masing-masing. Tanpa adanya obrolan lagi, hanya sesekali terdengar decakan sebal dan suara kertas yang dibalik


Karel menutup bukunya kasar, membuat Nadia terjengit kaget " huaah, mendidih dah otak gue"


Nadia berdiri dari duduknya, melenggang meninggalkan Karel yang menunduk memegangi kepalanya


"Eh" Karel berjengit kaget merasakan pipinya dingin


Nadia sudah kembali dengan membawa dua kaleng minuman dingin bersoda. Menempelkan minuman itu di pipi Karel yang masih duduk menunduk memegangi kepalanya


"Buat ngademin otak lo" Nadia menyodorkan minuman bersoda kepada Karel


Karel mendongakkan kepalanya menatap Nadia yang berdiri disebelahnya. Menerima dengan senang hati sembari tersenyum "thanks. Tau aja"


"Otak lo mendidih"


Karel terkekeh mendengar ujaran Nadia. Singkat, tapi bisa membuat senyum Karel terbit.


Nadia kembali duduk sembari menyesap minuman kaleng bersoda yang dipegangnya. Lalu meletakkan kaleng minuman itu tak jauh dari buku modul miliknya, ia kembali berkutat dengan soal-soal miliknya


"Lo nggak pusing apa, Nad. Gue aja mendem mikir jawabannya" celetuk Karel yang menyandarkan punggungnya di sofa


Nadia diam, tidak membalas ucapan Karel. "Assalamualaikum"


Nadia dan Karel mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara "waalaikumsalam" jawab Karel dan Nadia serempak


Karel berdiri dari duduknya, menghampiri papa Nadia yang baru saja datang. Menyalimi tangan papa Nadia "malam om"


"Kok kamu ada disini, Rel" bukannya menjawab, papa Nadia malah balik bertanya


"Karel jadi temen olimpiade Nadia nanti, Pa" entah dari mana, mama sudah berdiri tak jauh dari ruang tamu mengambil tas yang dibawa papa


Nadia berdiri dari duduknya, lalu menyalimi papanya "bener, sayang?" tanya papa, yang dijawab anggukan oleh Nadia


"Sekarang lagi belajar bareng?" Papa memandang Karel dengan tatapan bertanya


"Iya om"


"Yasudah, lanjutkan belajarnya, om masuk dulu" ujar papa kepada Karel, tangannya mengelus rambut putrinya

__ADS_1


Papa sudah berjalan meninggalkan ruang tamu "Kok buku kamu udah ditutup gitu, Rel?" tanya mama ketika melihat buku-buku Karel sudah tertutup rapi


Karel cengengesan sembari menggaruk kepalanya "iya tante. Udah pusing"


"Ada-ada aja kamu"


"Soalnya bikin otak Karel mendidih, tan"


"Hiperbola kamu itu"


Lagi-lagi Karel terkekeh "beneran tante, Nadia sampai ngasih minuman dingin" ujar Karel sembari melihat Nadia yang duduk santai melihat obrolan Karel dan mamanya sembari menyesap minuman kalengnya


Merasa diperhatikan oleh dua orang dihadapannya, Nadia mengangkat kedua alisnya bertanya


"Udah-udah. Kalo udah selesai belajarnya, kalian ke ruang makan ya. Sekalian kita makan malem bareng-bareng" ujar mama, lalu melangkah meninggalkan Nadia dan Karel


"Lho lho, Nad, kok buku lo diberesin semua?" Karel heran melihat Nadia yang membereskan buku-buku miliknya


"Laper. Makan" jawab Nadia yang masih sibuk membereskan bukunya


Karel berdecak "kurang singkat mbak"


"Diem lo"


"Nad, jangan jutek-jutek sama gue dong"


"Batu yang keras juga akan lapuk, mengikis, dan akhirnya hancur. Apalagi Es yang ada di diri lo. Dinding es yang lo bangun selama ini akan mencair seiring berjalannya waktu. Dan gue sendiri yang bakalan ngehancurin dinding es itu" Ucap Karel dengan yakin. Membuat Nadia terdiam.


Kegiatannya yang sedang membereskan buku terhenti seketika mendengar apa yang diucapkan Karel. Tanpa Karel sadari, jantung Nadia berdegup kencang. Sebisa mungkin Nadia menetralkan ekspresinya


Nadia berdiri, lalu melihat ke arah Karel yang sedang menatapnya "cepet. Udah ditunggu"


Karel ikut berdiri menyusul Nadia yang sudah berjalan didepannya. Karel tersenyum, karena berhasil membuat wajah Nadia memerah. Meskipun cewek itu masih bersikeras dengan sifat masa bodonya


Tapi Karel tidak akan berhenti mendekati Nadia. Sampai kapanpun, Karel akan selalu berusaha untuk membuat Nadia menjadi sosok yang ceria, dan murah senyum


"Sini duduk, kita makan bareng" ajak papa yang sudah duduk dan berpakaian santai


"Jadi nggak enak, om, tante. Karel jadi ngerepotin" ujar Karel yang menarik kursi disebelah Nadia


"Nggak ngerepotin kok. Anggep aja rumah sendiri" sekarang mama yang menimpali


Bi Inah meletakkan beberapa makanan yang baru saja matang di atas meja makan "Permisi Nyonya, ini makanannya sudah siap semua"


Mama membantu menata makanan diatas meja "makasih, Bi"


Bi Inah kembali ke dapur, sedangkab mama mulai mengambilkan nasi beserta lauk untuk papa


"Nadia, kamu ambilin makanan buat Karel dong" ujar mama

__ADS_1


Nadia mengernyitkan alisnya bingung kearah mamanya "dia bisa sendiri ma"


"Iya tente, Karel bisa ambil sendiri"


Mama menggeleng "Nad, jangan gitu"


Nadia memberengutkan wajahnya. Tapi tetap mengambilkan makanan untuk Karel, baru setelahnya ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri


"Kalian olimpiade kapan?" tanya papa disela acara makan malam


"Kurang dari sebulan ini om" jawab Karel


"Om seneng bisa lihat kalian dekat. Jadi Nadia temennya nambah"


"Iya, yang tante tau, Nadia cuma punya temen deket si Dita itu lho"


Celetukkan mama membuat Nadia makin memberengutkan wajahnya sebal


"Nggak papa punya temen satu. Yang penting selalu ada kapanpun. Daripada punya temen banyak tapi munafik" jawab sarkatis Nadia. Membuat semua yang ada di ruang makan tertawa


"Kayaknya dalem banget, Nad" ledek Karel


"Diem lo"


"Itu sih karena mereka males berteman sama lo, Nad"


Nadia hanya diam tidak menimpali ucapan Karel "jangan jutek-jutek mangkanya. Biar nggak pada takut deketin lo"


Mama dan papa terkekeh melihat perdebatan dua anak muda dihadapan mereka "kalian itu mengingatkan kita sama masa muda" ujar papa


"Masa iya om?"


Papa mengangguk semangat "iya, dulu mamanya Nadia juga sama. Jutek, irit ngomong, bodo amatan, pokoknya duplikat dari Nadia deh"


"Tapi kelihatannya tante nggak jutek kok om"


"Iya, dulu waktu kita masih sekolah, kita sama seperti kalian berdua. Nadia yang jutek, kamu yang bawel. Nadia yang sering diem, kamu yang aktif. Mama Nadia juga gitu dulu"


"Terus gimana om? Kok om bisa buat tante jadi sosok yang friendly kayak sekarang?" tanya Karel penasaran


"Om deketin terus, pepet terus. Dan ya lama-kelamaan mamanya Nadia jadi terbiasa sama kehadiran om, mulailah kita ngobrol, terus deket, sampai sekarang jadi suami istri" Papa menceritakan dengan singkat


Mama menepuk tangan papa. Wajahnya sudah memerah malu "Papa. Udah ah. Mama malu"


"Waah seru ya om. Sekarang aja, Karel udah pdkt sama Nadia udah 3 bulanan om. Tetep aja Nadia jutek" adu Karel. Membuat Nadia mendelik kearah Karel


"Tuh kan om. Liat sendiri kan" kekeh Karel


Mama dan papa terkekeh "kita comblangin kalian mau?"

__ADS_1


__ADS_2