Stuck On You

Stuck On You
Mencarinya


__ADS_3

Pada kata yang pernah saling se-ia..


Se-ia bersama, namun diam-diam meninggalkan.🥀


Tercium aroma karbol yang menyengat. Samar-samar dilihatnya ruangan yang didominasi warna putih. Rasa sakit di dadanya tidak tertahankan. Yuni mencoba memegang dadanya yang sakit itu, namun tangannya terasa berat. Mencoba perlahan-lahan membuka mata walaupun pusing di kepalanya tidak tertahankan. Didengarnya suara sahabatnya Aty memanggil namanya.


"Yuni.. Kamu sudah sadar?" panggil Aty dengan nada senang. Dipegangnya tangan sahabatnya itu dengan mata berbinar.


"Gue panggil dokter dulu," ucap Rangga lalu berjalan keluar ruangan itu.


"Syukurlah Lo udah sadar, Yun.." ucap Gio senang. Rizal di sampingnya juga ikut senang.


"Hubungi om Fabian kalau Yuni udah sadar," ucap Viki melihat ke arah Gio.


"Gue ngga punya nomornya," jawab Gio. Rizal dan Viki hanya saling pandang, ketiganya belum mengetahui hubungan antara Yuni dan Richard maupun dengan Fabian.


"A..aku dimana?" tanya Yuni lemah. Kesadarannya belum utuh sepenuhnya.


"Lo di rumah sakit, Yun. Lo udah ngga apa-apa," kata Aty dengan nada lembut membuat Viki mengerutkan dahi.


"Kenapa dada gue sakit sekali." Yuni menahan sakit sambil menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremas tangan Aty dengan kuat.


"Tahan, Yun.. sebentar lagi dokternya datang," ucap Aty khawatir.


Setelah beberapa saat menahan sakit, Yuni terlihat kembali tenang. Remasan tangannya di tangan Aty tidak sekuat sebelumnya.


"Udah ngga sakit lagi?" tanya Viki.


Yuni menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa Yuni.


"Silahkan menunggu di luar dulu.." ucap dokter. Aty yang memegang tangan Yuni melepaskan genggamannya.


"Gue tunggu di luar yah.." ucap Aty dengan senyum manis menenangkan Yuni. Gio, Rizal dan Viki melambaikan tangan ke arah Yuni lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut.


"Aty, apakah Pak Richard dan Yuni memiliki hubungan khusus?" tanya Viki ketika mereka sudah duduk di bangku di luar ruangan rawat Yuni.


"Iya, Pak Richard dan Yuni jadian kemarin," jawab Aty.


"Apa?!" Rizal tampak kaget.


"Yang benar?" Gio tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kok bisa?" tanya Viki lalu duduk di samping Aty ingin mendengar penjelasan selanjutnya.


'Jadi yang gue lihat tadi...' Batin Rangga mengingat Richard memasang cincin di jari Yuni.


"Benar.. Gue aja ngga percaya." Sambil melipat tangan di dadanya Aty melihat ekspresi wajah teman-temannya yang tidak percaya.

__ADS_1


"Ga, Lo ngga apa-apa kan?" tanya Gio melihat ekspresi Rangga yang diam dengan wajah muram.


"Gue ngga apa-apa," jawab Rangga sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"Muka Lo muram gitu?" tanya Rizal lagi.


"Gue ngga nyangka aja. Setelah Pak Richard dan Yuni jadian kok tiba-tiba Yuni langsung ngalamin kejadian ini. Ditembak pula," ucap Rangga yang berlainan dengan isi hatinya.


"Iya juga yah." Gio juga merasa aneh dengan kejadian yang menimpa Yuni.


"Apakah pelakunya udah ditangkap?" tanya Viki.


"Semuanya diurus oleh Pak Richard dan asistennya. Entah udah ditangkap apa belum gue juga ngga tahu," jawab Aty.


"Katanya sih yang nembak Yuni itu penembak jitu loh. Pasti sulit di tangkap," ucap Viki lagi.


"Yang bikin gue heran, Yuni ngga punya musuh yang berani main tembak gitu. Palingan si Siska saudara tirinya. Tapi dia mana mungkin sampai sewa penembak buat bunuh Yuni." Jiwa detektif Gio mulai muncul.


"Kayanya psikopat yang bisa ngelakuin itu. Ngga punya nurani dan akal sehat," ucap Rizal.


Terdengar pintu ruangan Yuni dibuka, "Pasien sudah baik-baik saja, hanya menunggu waktu pemulihan dan istirahat yang cukup untuk menyembuhkan lukanya. Luka pasien jangan kena air dan jangan banyak gerak dulu. Pasien akan dipindahkan ke ruangan rawat yang sudah direkomendasikan oleh pak Richard sendiri. Silahkan masuk.." ucap dokter.


"Makasih ya, Dok.." ucap Rangga tulus.


"Sama-sama.." jawab dokter lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Aty dengan cepat membuka pintu ruangan Yuni dirawat, "Yuni...."


Aty tidak mempedulikan perkataan Rizal. Dengan langkah cepat digapainya tangan Yuni dan menggenggamnya erat.


"Gimana perasaan Lo. Udah mendingan sakitnya?" tanya Aty.


"Udah mendingan," jawab Yuni dengan tatapan mata seolah-olah sedang mencari seseorang.


Aty mengernyitkan keningnya. "Pak Richard ada urusan penting, sebentar lagi datang kok."


Wajah Yuni merona dan menahan malu, "Gue ngga cari dia.."


"Jadi gini yah, gue khawatir dengan keadaan Lo semenjak dari apartemen dan sampai di rumah sakit ini, dan pas Lo bangun yang Lo cari adalah Pak Richard. Hati gue hancur banget." Aty dengan nada khasnya yang membuat Viki di sampingnya menutup telinga.


"Aty sayang.. Jangan kaya gitu yah. Maaf kalau buat kamu khawatir," ucap Yuni memaksakan senyumnya.


"Ngga perlu paksa senyum kaya gitu. Iya gue ngga marah tapi lain kali jangan buat gue khawatir lagi," jawab Aty memeluk sahabatnya.


"Aduh, Ty.." ucap Yuni menahan sakit. Karena Aty menindih lukanya.


"Oppss.. Sorry, Yun. Gue belum terbiasa dengan luka Lo." Aty dengan cepat melepaskan pelukannya dan mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Gue ngga percaya kalau Lo bisa jaga Yuni, Ty." Rizal sambil menggelengkan kepalanya.


"Apaan sih ngomong kaya gitu, Zal. Gue bisa jaga Yuni tahu," ucap Aty kesal.


"Lo bilang belum terbiasa dengan luka Yuni. Kalau Lo lupa terus gimana?" jawab Rizal kembali mengganggu Aty. Rangga dan Gio hanya ikut tersenyum.


"Sudah jangan gangguin Aty mulu," ucap Viki membela Aty.


"Sudah ada tameng nih..." goda Gio.


"Apaan sih, Lo.." ucap Viki sambil menyenggol lengan Gio.


"Malam ini gue sama Aty yang nemenin Yuni disini. Kita gantian setiap hari untuk jaga Yuni. Gimna?" tanya Rangga.


"Gue setuju.." jawab Gio, Viki dan Rizal. Aty dan Yuni ikut tersenyum melihat keempat lelaki yang selalu ada di dekat mereka.


🍁🍁🍁


Fabian dengan wajah muram dan khawatir menunggu di depan ruangan UGD dimana Richard sedang ditangani oleh tim medis.


Drt..drtt


Ponselnya di saku celananya berdering. Dengan cepat diambilnya ponsel dari saku celananya dan melihat nama penelepon. Jantungnya kembali berdetak kencang, rasa gugup dan enggan untuk mengangkat telepon tersebut. Namun setelah menguatkan hati dan mengumpulkan keberanian Fabian mengangkat telepon tersebut.


"Halo, Pak Julian.." sapa Fabian.


"Bagaimana keadaan Richard sekarang?" Julian dengan nada sedih serta terdengar suara isak tangis samar-samar yang Fabian tahu itu adalah suaranya Della dan ibunya Richard.


"Masih ditangani dokter, Pak.." jawab Fabian menahan pedih.


"Dua jam lagi kita sampai di kota A. Tetaplah menjaga Richard. Urusan Joe Dexunta serahkan pada Bryan yang mengurusnya," ucap Julian lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Fabian dengan tangan terkepal erat memukul tembok di sampingnya. Dia menyesal karena membiarkan Richard mengendarai mobilnya sendiri dan tidak melarangnya untuk bertemu dengan Joe Dexunta.


Ceklek..


Pintu UGD terbuka. Seorang dokter dengan jubah operasinya dan masker yang masih menutup mulutnya.


Fabian dengan cepat menghampiri dokter tersebut, "Bagaimana keadaan Richard dok?"


🍁🍁🍁


Halo hayy..


Tap jempol dan vote dong..


Biar aku semangat nulisnya 🤗

__ADS_1


Salam hangat dari Richard dan Yuni 💐



__ADS_2