Stuck On You

Stuck On You
Aty "Speaker Aktif"


__ADS_3

Semoga kisah cinta yang kita jalani sekarang adalah cinta yang membawa surgaNya.🥀


_S.O.Y_


Cinta merupakan semangat dan kekuatan bagi mereka yang memilikinya. Cinta mampu merubah seseorang bahkan menenangkan amarah.


Drt..drt..


Ponsel Yuni berbunyi di saku jumpsuitnya membuat Richard meregangkan pelukannya. Yuni menatap ke arah Richard dan tersenyum, setelah melihat nama penelepon Yuni pun mengangkatnya. Richard yang juga sekilas melihat nama penelepon di layar ponsel memberi ruang pada Yuni untuk mengobrol dengan sahabatnya.


"Halo, Aty," sapa Yuni.


"Yun, Lo dimana? Lo ngga apa-apa kan?" Terdengar nada khawatir dari seberang.


"Gue ngga apa-apa, Ty," jawab Yuni tanpa memberitahu keberadaannya.


"Syukurlah, sekarang Lo dimana? Gue dari apartemen Lo. Tapi keadaan apartemen Lo seperti di amuk massa Yun. Gue khawatir banget tahu ngga," ucap Aty masih dengan nada khawatir.


"Gue juga ngga tahu apa yang terjadi sama apartemen gue. Tapi sudah ada yang membereskannya. Nanti gue cerita semuanya ke Lo," jelas Yuni.


"Nah Lo dimana sekarang? Gue mau memastikan keadaan Lo benar baik-baik saja atau ngga." tanya Aty lagi.


"Hmm.. gue di..," Yuni ragu-ragu menjawabnya. Dilihatnya Richard yang duduk di kursi meja makan. Richard yang juga mendengar percakapan Yuni dan sahabatnya, lalu berjalan mendekati Yuni dan memberi tanda agar dapat mengobrol dengan Aty. Yuni pun tidak ada pilihan lain. Jika tidak menjawab maka sahabatnya itu akan ngotot sampai Yuni menjawabnya. Belum lagi dengan volume suaranya yang memekakkan telinga.


"Halo, Yun. Lo dengar gue ngga sih," ucap Aty dengan volume suara yang sedikit dinaikkan. Richard yang mendengar suaranya segera menjauhkan ponsel dari telinganya. Yuni hanya tertawa lucu sambil menutup mulutnya.


"Yuni aman sekarang. Kamu bisa datang sekarang di apartemen Royal Pratomo lantai tiga puluh lima," ucap Richard lalu mematikan sambungan telepon tersebut. Dikoreknya telinga setelah mendengar suara sahabat Yuni tadi.


"Maaf yah, suaranya emang gitu," ucap Yuni yang masih tertawa.


"Memang yah banyak yang memanggilnya speaker aktif. Suaranya luar biasa.." ucap Richard yang kembali duduk di kursi meja makan.


"Kamu tahu juga sebutan speaker aktif. Darimana?" Yuni heran dosen sekaligus kekasihnya sekarang mengetahui panggilan untuk Aty.


"Semua yang berhubungan dengan kamu pasti aku tahu semuanya, Yun," ucap Richard menggoda Yuni.


"Gitu yah," ucap Yuni malu-malu.


"Kamu ngga apa-apa sahabat kamu tahu hubungan kita kan?" tanya Richard lagi.


Yuni yang membawa gelas kopi untuk Richard hanya terdiam. Hubungan dengan dosennya baru dalam hitungan jam. Ditambah dengan masalah apartemennya.


"Ngga apa-apa. Aty sudah aku anggap saudariku sendiri," ucap Yuni seraya meletakkan gelas kopi dihadapan Richard.

__ADS_1


Richard mengangguk-anggukan kepalanya. "Makasih. Hm kopi buatan kamu enak sekali. Rasanya pas." Puji Richard setelah meminum kopi buatan Yuni.


"Sama-sama. Aku kan kerja di kafe," ucap Yuni yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Tapi ini beda," ucap Richard lagi.


"Apanya yang beda, Richard?" tanya Yuni ingin tahu.


"Ada bubuk cintanya..." Gombal Richard yang sontak membuat wajah Yuni kembali memerah.


"Kamu bisa menggombal juga," ucap Yuni lagi seraya membersihkan sayuran.


"Bisa, Yun. Mau versi apa gombalannya? Hm?" ucap Richard bangga.


"Selama ini yang aku kenal, kamu itu orangnya dingin loh. Ngga bicara banyak selain menjelaskan materi kuliah," ucap Yuni membuat niat Richard untuk menggodanya jadi hilang.


"Gitu yah," jawab Richard singkat membuat Yuni kurang nyaman dengan pernyataannya tadi. Yuni hanya mengernyitkan dahi lalu kembali melanjutkan menyiapkan sarapan.


Richard tidak marah, namun mood-nya berubah karena Yuni berhasil mengalihkan acara gombalannya. Keduanya kembali terdiam, hanya terdengar suara semburan minyak dari tacu penggorengan.


"Apakah pernyataanku membuatmu tidak nyaman?" tanya Yuni memecah kebisuan diantara mereka berdua.


"Ngga kok. Hanya kamu pintar mengalihkan pembicaraan," jawab Richard tanpa memandang ke arah Yuni.


"Kamu jadi senyum-senyum sendiri?" tanya Richard heran.


"Kamu lucu kalau lagi bete. Pengen aku kasih permen," ucap Yuni senang.


"Senang lihat aku bete?"


"Iya. Soalnya mukanya jadi imut gitu," ucap Yuni yang tanpa sadar dengan ucapannya lalu menutup mulutnya.


"Aku imut? Beneran?" tanya Richard menjahili Yuni.


"Aku salah ucap tadi. Di delete aja," jawab Yuni lagi.


"Aku undo loh kata-katanya."Richard berjalan mendekati Yuni lalu menatapnya lekat.


"Iya Kamu imut," jawab Yuni yang sudah tidak tahan dengan tatapan Richard yang menggodanya.


"Kamu tahu ngga?" tanya Richard lagi dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana santainya.


"Apa?" jawab Yuni berusaha melihat ke arah lain tidak pada wajah tampan yang membuat jantungnya tidak berdetak normal sejak tadi.

__ADS_1


"Hatiku ter-update otomatis setelah mengenalmu." Gombal Richard sambil tersenyum ke arah Yuni.


Wajah Yuni kembali memerah, namun dia berusaha tetap tenang. Tenang menahan hatinya yang berantakan.


"Ayo makan. Aku panggilkan Pak Fabian yah." Richard yang melihatnya nampak kecewa.Lagi-lagi gombalannya tidak dihiraukan oleh Yuni. Dengan kecewa dilihatnya Yuni meninggalkan ruang makan tersebut. Yuni tersenyum senang merasa lucu melihat Richard kembali bete.


Terdengar bunyi bel pintu tanda ada tamu yang datang. Yuni mempercepat langkahnya. Setelah membuka pintu tampak Fabian di depan pintu.


"Maaf Nona. Apakah sahabat Nona ada yang bernama Aty?" tanya Fabian sopan.


"Iya Pak, dia sahabat dekat saya," jawab Yuni sambil melihat ke kiri dan ke kanan namun tidak melihat keberadaan Aty di depan apartemen tersebut.


"Persilahkan dia masuk langsung ke lantai tiga puluh lima," ucap Fabian dengan earbud di telinganya yang dihubungkan ke penjaga di lantai satu. Yuni hanya mengernyitkan dahinya.


Penjagaan di apartemen ini seperti di gedung putih saja, batin Yuni.


"Pak kalau tidak sibuk mari kita sarapan bersama," ajak Yuni ramah.


"Tidak perlu Nona..," jawab Fabian merasa tidak nyaman. Karena selama ini tidak pernah di ajak makan di ruang makan Richard.


"Ngga apa-apa kok, Pak. Daripada mubasir masakan saya," ajak Yuni lagi.


"Kalau begitu dengan senang hati saya menerimanya Nona. Tapi kita harus menunggu kedatangan teman Nona," ucap Fabian lagi.


"Yuni.." Teriak seseorang dari arah lift.


"Aty," jawab Yuni senang melihat kedatangan sahabatnya. Fabian yang melihat keduanya hanya tersenyum dan memberi kesempatan pada dua gadis tersebut.


"Syukurlah Lo ngga apa-apa." Aty memeluk Yuni dan merasa lega, "Makasih ya om sudah menjaga sahabatku." Lanjutnya lagi.


"Sama-sama nona." Jawab Fabian mantap.


"Ayo kita ke dalam. Gue udah masak. Pak Fabian ayo," ajak Yuni pada Fabian dan Aty.


"Tunggu, tunggu ini apartemen siapa?" Tanya Aty membuat Yuni dan Fabian saling bertatapan.


🍁🍁🍁


Heal the world from Covid-19 🙏


Vote,Like & coment..


Biar aku semangat lanjutin ceritanya

__ADS_1


I Love You ♥️


__ADS_2