
Sering aku bersujud di sepertiga malamku.. Menyebut namamu dalam doaku, namun engkau menyebut nama yang lainnya dalam doamu. Siapakah yang akan memenangkan pertarungan doa ini, Tuhan?🥀
Sebuah rumah dengan tembok menggunakan perpaduan batu alam terlihat indah dan elegan. Warna putih dan cokelat tua menambah kesan mewah pada rumah ini. Selain itu terdapat taman dengan rumput hijau yang tertata rapi. Dari kejauhan tampak rumah ini seperti istana besar.
Di rumah itulah Richard dan Della dibesarkan oleh Julian dan Joana.
Setelah mendengar Richard kecelakaan dan mengalami kritis, Julian memutuskan untuk merawat Richard di Jakarta. Setelah mendapat persetujuan dari dokter dan memastikan keadaan Richard sudah siap untuk transportable, Richard kemudian dipindahkan ke Jakarta dan dirawat di rumah sakit terbaik di sana.
Richard sadar seminggu kemudian. Namun, Richard belum sadar sepenuhnya, dia mengalami kejang-kejang karena trauma akibat pendarahan otak dan terdapat bekuan darah yang menekan otaknya. Dokter yang menanganinya, memberikan obat bius dan membiarkan Richard tertidur untuk beberapa waktu.
Dua minggu kemudian Richard sudah sadar sepenuhnya dan tidak mengalami kejang lagi.
"Richard, kamu sudah sadar?" tanya Joana ibu Richard. Julian dan Della yang juga menjaga Richard berjalan mendekati ranjang dimana Richard berbaring.
Mata sayup-sayup Richard memandang Joana. Dilihatnya wajah ibunya sebentar lalu melihat Julian dan Della bergantian.
"Maura.. Maura.." ucap Richard pelan namun masih bisa didengar oleh Joana.
"Richard.. Pa panggilin dokter.." teriak Joana dengan nada khawatir. Julian dengan cepat menekan bel pemanggil yang ada di ruangan itu. Karena dirasanya dokter tidak juga datang, Julian pergi memanggil dokter. Namun ketika pintu dibuka tampak dokter dan seorang suster memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
"Richard sudah sadar, Dok.." ucap Julian semangat.
"Baik, Pak. Saya periksa dia dulu," ucap dokter lalu berjalan ke arah Richard dan memeriksanya. Joana langsung memberikan ruang untuk dokter memeriksa Richard.
"Pa, Richard kenapa memanggil nama perempuan itu?" tanya Joana sedih.
"Kita tanya dokter setelah pemeriksaannya selesai, Ma.." jawab Julian.
Dokter memeriksa Richard dan bertanya beberapa pertanyaan. Dokter berbalik dan melangkah ke arah Julian dan Joana. "Siapakah Maura dan Raka? Richard terus menyebut nama dua orang itu." Tanya dokter yang sudah berusia 54 tahun dan bernama Anton itu.
"Raka adalah anak saya, Dok. Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu. Dan Maura adalah mantan kekasihnya dan sudah berpisah dua tahun lalu juga," jelas Julian.
"Richard kehilangan memori jangka pendeknya akibat benturan ketika kecelakaan itu," ucap Anton.
"Bisa, Bu. Tapi butuh waktu. Dan juga jangan memaksanya untuk kembali mengingat karena itu akan bermasalah pada saraf di otaknya. Biarkan ingatannya kembali dengan sendirinya," jelas Anton.
"Makasih banyak, Dok.." jawab Joana lalu berjalan menghampiri Richard.
"Richard..." panggil Joana lembut.
"Raka mana, Ma?" tanya Richard pelan.
__ADS_1
Joana tidak bisa menahan tangisnya. Julian yang melihat istrinya menahan tangis, berjalan ke arah Richard dan memeluk istrinya dari samping.
"Abang, Raka-nya ngga ada. Ngomong sama Della aja yah." Della yang dari tadi hanya menjadi pendengar dan penonton dalam ruangan tersebut mengambil inisiatif untuk berbicara dengan Richard. Meskipun dia juga merasa sedih namun dia berusaha menahannya.
"Della, adik abang yang cantik.." panggil Richard sambil tersenyum.
Della tersenyum senang mendengar Richard mengingat dirinya. Della menghampiri Richard, "Bang, udah baikan? Ngga rasa sakit lagi kan?"
Richard menatap Della, sebuah senyum terlihat dari balik alat bantu pernapasan yang masih berada di mulut dan hidungnya, "Udah ngga sakit lagi. Tapi dimana Raka? Kok ngga keliatan? Abangnya lagi sakit malah ditinggalin.."
🍁🍁🍁
Halo hayy
Kira-kira Della bakalan jawab apa yah 🤔
Hehehe..
Vote, Like dan Rate dulu dong biar aku semangat nulisnya.
__ADS_1
I Love You ♥️