
Yuni berjalan memasuki ruangan yang ditempatinya tadi. Setelah mengamati seisi ruangan untuk mencari keberadaan ponselnya, Yuni merasa sedih sekaligus sesak di hatinya. Dia berusaha mengabaikan segala macam perkataan yang diucapkan Aty agar dapat kembali dengan Richard. Namun, Yuni juga harus mempertimbangkan segala kemungkinan mengenai papanya dan Fabian. Siska dan Rini tidak akan segan-segan membunuh dan mencelakai orang terdekatnya. Yuni memutuskan membiarkan Richard kembali padanya tanpa harus ia mendatanginya lebih dulu. Jika itu butuh waktu, Yuni mampu menunggunya.
Rindu di hatinya menjadi tak karuan. Yuni menggenggam tangannya erat.
Aku bisa menahan lapar, aku bisa menahan haus, lalu kenapa rindu ini tak bisa ku tahan? Batin Yuni sedih.
Ternyata merelakan tak semudah yang dia pikirkan. Rindu yang diharapkan akan kunjung temu namun berakhir kerelaan dari segala rasa yang menumpuk untuk dituntaskan, rindu.
Tangan yang semula dikepal perlahan merenggang. Hatinya sedikit lega seiring dengan air mata yang mengalir di pipinya. Lagi-lagi air mata menjadi penawar terampuh untuk meringankan segala beban dan melegakan hati. Yuni menghapus air matanya dan berjalan menuju tempat tidur lalu mengambil ponselnya. Setelah memastikan tidak ada bekas tetesan air mata di pipinya, Yuni menarik napas panjang lalu dihembuskannya perlahan.
Yuni berjalan keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruangan Julius dirawat. Lagi-lagi Yuni harus melihat seseorang yang dirindukannya dalam diam. Richard berdiri di depan ruangan Julius dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Yuni sendiri. Yuni ingin sekali mendekati Richard dan bercengkrama dengannya, menanyakan kabar dan memastikan keadaannya. Namun Yuni tidak mampu melangkahkan kakinya, seolah-olah ditahan dan berat untuk melangkah. Mengingat Siska dan Rini membuat Yuni mengurungkan niatnya. Dilihatnya Richard dari kejauhan, berusaha menuntaskan rindu lewat mata yang diam-diam menatap lelaki yang telah bertahta dihatinya itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Richard kembali berjalan ke ruangan Fabian. Dalam hatinya kembali berpikir dan merasa aneh dengan dirinya. Richard menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Abang..." Terdengar panggilan dari arah belakang Richard. Seketika Richard menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah sumber suara yang ternyata itu adalah adiknya, Della.
"Iya, Del," jawab Richard sambil melangkah ke arah Della berdiri.
"Aku mau ngomong sesuatu sama Abang." Della melipat kedua tangannya di dada dan menatap Richard dengan saksama.
"Mau ngomong apa, Del?" tanya Richard seraya mengusap kepala adiknya itu. Senyum jahil terukir di bibirnya.
Richard terdiam sejenak. Tangannya yang semula sibuk memberantakan rambut Della kini berhenti. "Ya, begitulah," jawab Richard yang membuat Della mengerutkan keningnya.
"Aku lihat Abang sepertinya kurang nyaman dengan perempuan itu," ucap Della.
__ADS_1
"Kamu sekarang jadi peramal, Del?" tanya Richard tanpa menjawab pertanyaan Della.
"Ih, Abang.. aku nanya serius," ucap Della kesal.
"Itu urusan abang. Kamu harus rajin belajar biar pintar jangan hanya ngeramal orang. Hm?" ucap Richard kembali memberantakan rambut Della. Della terlihat kesal dengan jawaban Richard dan juga rambutnya yang diberantan oleh abangnya itu.
"Bang Richard.. berhenti ngga. Kalau ngga aku bakal teriak nih." Della mencoba mengancam Richard, namun Richard malah menggunakan kedua tangannya untuk meremas kepala adiknya itu.
"Nih abang tambah pijit kepalanya biar makin pintar." Richard tersenyum senang menjahili adiknya.
"Pak Richard.." Terdengar seseorang memanggil Richard yang membuat Richard berhenti menjahili adiknya.
"Tuh dipanggil kekasih.." ucap Della sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
🍁🍁🍁
To Be Continue ♥️