
Richard menatap Siska yang berjalan menghampirinya. Ia berusaha menekan rasa bencinya ketika menatap wanita yang kian menghampirinya. Mengingat perkataan Siska tentang sejauh mana hubungan mereka membuat Richard lagi-lagi harus mengontrol emosinya.
"Ada apa?" tanya Richard dingin dengan tatapan tidak menyukai pada Siska. Della yang di sampingnya hanya mengerutkan kening dan tersenyum kecut.
"Ngga, aku hanya cari Pak Richard aja." Dengan kedua tangan bergelayut manja di lengan Richard. Della yang melihat hal tersebut lagi-lagi mengernyitkan keningnya.
Richard menarik napas panjang berusaha menahan rasa kesalnya. Tatapannya kosong ke depan tanpa berniat menatap Siska di sampingnya. "Apakah ada hal penting yang perlu dibicarakan kepada saya?" tanya Richard formal dan dingin. Dibiarkan lengannya menjadi mainan Siska sebentar walaupun sangat menggangu hati dan pikirannya.
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan, berdua. Tapi nanti pas makan malam aja." Siska cengar-cengir manja di samping Richard dengan tangan yang memeluk erat lengan yang kokoh itu.
__ADS_1
"Baik.." jawab Richard dingin lalu perlahan melepaskan genggaman tangan Siska dilengannya, "ayo, Del," ajak Richard tanpa melihat ke arah Siska sedikitpun.
"Ayo.." jawab Della dengan senyum semangatnya.
Siska menahan amarahnya. Tangannya dikepal erat dengan tatapan yang mampu membunuh siapa saja yang menatap matanya. Lagi-lagi Richard tidak memedulikan dirinya. Menatapnya pun enggan. Napasnya memburu menahan emosi yang siap meluap. "Gue akan bikin pak Richard nggak akan bisa berpaling sedikitpun dari gue," ucapnya dengan nada emosi. Siska menghentakkan kakinya kesal dan beranjak pergi menenangkan dirinya.
🍁🍁🍁
"Eh Yun, sudah diambil ponselnya?" tanya Aty ketika melihat Yuni memasuki ruangan Julius.
__ADS_1
"Iya, Ty. Ngomong-ngomong, lo udah makan belum?" tanya Yuni seraya menyimpan ponselnya ke dalam tasnya.
"Belum, Yun. Gue juga belum lapar kok. Lo duluan aja. Nanti kita gantian jaga Papa lo." Aty tersenyum manis sambil menatap mata sahabatnya yang sedang menyimpan segala beban dan kesedihan.
"Gue juga belum lapar, Ty. Kita jaga Papa dulu. Sedikit lagi Rangga dan yang lainnya sampai." Yuni mengambil duduk di samping ranjang Julius yang belum juga sadar dari pingsannya. Ditatapnya wajah yang sudah mulai keriput dan pucat itu. Ditahannya tangis dan berusaha kuat. Dalam hatinya berdoa untuk kesembuhan lelaki yang menjadi motivasi dan panutan dalam hidupnya sejak kecil.
"Oke, Yun. Yang sabar yah. Gue selalu ada buat lo. Ada Rangga dan yang lainnya bakal selalu ada di sisi lo, siap bantuin lo, yah," ucap Aty menghibur sahabatnya itu. Aty tahu bahwa Yuni memendam segala beban dan kesedihan.
"Iya, Ty. Makasih banyak selalu ada buat gue." Sebuah senyum ketulusan terukir di bibir yang berwarna pink alami itu. Aty nampak lega, sahabatnya masih terlihat kuat dan tegar.
__ADS_1
"Tuhan ngga akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita, Yun. So, be strong.. We'll fight together. Okay." Aty mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Melihat semangat Aty, Yuni melebarkan senyumnya. Diangkatnya tangan kanannya, mengikuti gerakan sahabatnya itu.
🍁🍁🍁