
Karel tersenyum kemenangan kearah Nadia yang sekarang menatapnya dengan pandangan terkejut
"Halo my partner" sapa Karel kepada Nadia dengan senyuman jahilnya
'Kenapa dimana-mana ada dia sih' batin Nadia
Nadia diam. Tidak menimpali sapaan Karel. Nadia kembali menghadap pak Andi yang sibuk membolak-balik berkas. Setelahnya, Pak Andi menyerahkan beberapa berkas itu kepada Nadia
"Ini kamu isi data dulu. Setelah itu, besok kamu bawa beberapa persyaratan" ujar Pak Andi menjelaskan
Nadia menerima berkas itu, lalu membacanya sekilas "pak, dia partner saya?" tanya Nadia
Karel yang berada disebelahnya melirik tidak suka dengan apa yang ditanyakan Nadia. "Iya. Karel yang akan menjadi partner kamu"
"Nggak ada kandidat lain, pak?"
Pak Andi menggeleng "Karel satu satunya murid yang saya ajukan di olimpiade sains ini"
"Ya meskipun reputasi Karel di sekolah ini kurang baik, tapi otak Karel tidak bisa di remehkan. Dia bisa mengimbangi nakalnya dia dan prestasi dia" lanjut pak Andi memperkuat opininya
Karel yang mendengarkan ucapan pak Andi mendengarkan dengan seksama. Meskipun pak Andi kadang memujinya, dan terkadang menjatuhkannya. Tapi sepertinya Karel harus berterima kasih kepada pak Andi untuk kali ini.
Dia bisa mengukuti olimpiade ini dengan Nadia yang akan menjadi partnernya. Yang memungkinkan mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk bersama
"Bapak muji apa nyindir saya sih pak" kesal Karel yang membuat pak Andi terkekeh
"Dua duanya" jawab pak Andi sambil terkekeh pelan
"Silahkan di isi dulu datanya, Nadia" ujar pak Andi pada Nadia yang sedari tadi diam
Nadia mengangguk "iya pak" ujarnya lalu mulai mengisi data
"Besok, setelah kalian mengumpulkan persyaratannya, sepulang sekolah kalian kesini lagi untuk menerima materi yang harus kalian pelajari"
Pak Andi menjelaskan dengan singakat, apa-apa yang harus Nadia dan Karel bawa besok.
Nadia menyerahkan berkas yang telah diisi kepada Pak Andi "ini sudah pak"
Pak Andi menerima berkas itu, lalu mengecek-nya lagi. Mengangguk, lalu mempersilahkan Nadia dan Karel untuk kembali ke kelas masing-masing
Karel dan Nadia berjalan beriringan keluar dari ruangan Pak Andi. Nadia yang berjalan dengan wajah kesal sekaligus sebal, berbanding terbalik dengan Karel, cowok itu terlihat sangat senang. Terbukti dengan dia yang senyum-senyum tidak jelas.
"Lo nggak suka jadi partner gue ya, Nad?" tanya Karel
Nadia hanya berdehem menanggapi. "Jangan liat orang cuma dari covernya doang, Nad" ujar Karel
"Lo nggak denger apa yang pak Andi bilang? Jangan remehin otak gue"
__ADS_1
"Gini-gini gue juga pinter"
Karel terus berceloteh. Dia berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung. Nadia yang selalu diam, lalu siapa lagi yang akan mencairkan suasana sekaku itu selain Karel?
Pasalnya koridor sudah sepi. Jam istirahat sudah berakhir. Semakin kikuk saja suasana yang melingkupi keduanya yang berjalan beriringan menuju kelas masing-masing
"Woyy, Rel"
Karel dan Nadia berhenti dan melihat ke arah belakang. Dari arah belakang mereka terlihat Arman dan Dito yang sedang berlari kearah Karel dan Nadia.
Arman dan Dito ngos-ngosan setelah berhenti di hadapan Karel dan Nadia. "Kantin cepet. Jangan PHP lo" ujar Dito to the point
"Tau lo. Gue tuh udah kenyang di PHP in mulu tau nggak" curhat Arman mendramatisir suasana
Karel memutar matanya malas "curcol mulu"
"Biasa lah. Jones dari lahir" ledek Dito
"Dih kayak lo nggak aja"
"Sorry aja lah ya, gue senyum dikit aja, banyak cewek yang minta jadi doi gue" ujar Dito songong
Arman menampol kepala Dito "sombong amat lu"
Nadia yang sedari tadi berdiri memperhatikan ketiganya, akhirnya membalikkan badan dan berjalan menjauh dari ketiganya 'tidak penting' pikirnya
Nadia menengok ke arah Dito dengan muka datarnya "basi"
Arman dan Karel tertawa terbahak mendengar jawaban Nadia
"****. Mamam noh salam" Arman tertawa terbahak mengejek Dito yang masih melihat kepergian Nadia dengan mulut menganga
Karel merangkul bahu Dito. Dia masih terbahak "bro bro. Gue aja yang deketin dia udah lama masih mikir-mikir kalo mau ngomong"
"Aduh *****. Perut gue sakit" Arman memegang perutnya yang mulai kram karena terlalu lama tertawa
"Si Nadia cuma ngomong gitu doang bisa buat orang bahagia ya" lanjut Arman yang berusaha menghentika tawanya
Taakk
Dito menjitak kepala Arman keras "lo yang bahagia. Tertawa diatas penderitaan temen lo sendiri" kesal Dito
"Apaan. Noh Karel juga ngakak" Arman mengelus kepalanya yang di jitak Dito
"Udah udah. Kantin aja lah. Capek gue ketawa" ujar Karel menengahi. Merangkul baru kedua sahabatnya menuju kantin.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
"Permisi, bu" ucap Nadia di pintu kelas. Di depan papan tulis sudah ada guru yang mengajar
"Langsung duduk saja, Nadia" jawab guru itu mempersilahkan Nadia untuk masuk
Nadia menuju bangkunya. Melihat ke arah Dita yang juga sedang melihatnya. Nadia tersenyum tipis. Yang juga dibalas senyum oleh Dita
"Sstt, Dit" bisik Nadia
Dita melihat ke arah Nadia "udah lama masuk?" tanya Nadia tanpa suara
Dita mengangguk "sejam yang lalu" jawab Dita tanpa suara juga
"Bentar lagi juga selesai. Dua jam doang soalnya" bisik Dita memberi tahu
Nadia mengangguk "oh oke"
Nadia, Dita, dan teman-teman yang lain kembali fokus ke arah guru yang sedang menjelaskan di depan. Sesekali mereka mencatat hal-hal yang menurut mereka penting
\*\*\*\*\*\*
Dua jam pelajaran sudah berlalu. Tinggal dua jam pelajaran lagi untuk istirahat ke dua. Bian, selaku ketua kelas memberi tahu, jika pak Bondan, guru yang selanjutnya akan mengajar dikelas tidak bisa masuk kelas. Karena ada hal lain yang mendadak.
Pak Bondan hanya memberikan tugas dan menyuruh mereka untuk mengumpulkan tugas itu di mejanya. Tak ayal, kabar itu membuat seisi kelas bersorak gembira.
Ada yang langsung menutup pintu kelas rapat-rapat, menyeret beberapa meja, memepetkannya, menjadikannya seperti panggung kecil. Mereka sepertinya akan mengadakan konser dadakan yang selalu mereka buat ketika jam kosong seperti ini.
Sapu kelas digunakan seolah-olah sebagai gitar, kemoceng menjadi microphone, meja menjadi tempat untuk dram. Dan masih banyak lagi.
Ada juga yang sibuk bergosip, mengerjakan tugas yang diberikan, tidur, bermain game online, dan masih banyak lagi. Sama dengan yang lainnya. Nadia memutuskan untuk mengobrol dengan Dita. Mengeluarkan bekal yang dibuat oleh mamanya. Dua potong sandwich. Satu ia berikan kepada Dita, satu lagi untuk dirinya.
"Disuruh apa sama pak Andi?" tanya dita disela kunyahannya
Nadia menghabiskan kunyahan dimulutnya "disuruh ikut olimpiade sains"
"Olimpiade?"
"Iya. Dan lo pasti kaget kalo tau partner gue"
"Siapa emang?"
"Karel"
Uhukk
"Nahkan kaget" ujar Nadia. Menyodorkan botol minum miliknya
Dita menerimanya dan langsung menegak "jodoh emang nggak kemana" kekeh Dita
__ADS_1
Nadia melotot mendengar celetukkan temannya itu. Apa sahabatnya itu sedang balas dendam karena Nadia tinggalkan di kantin? Huh dasar Dita