
Jam alarm berbunyi kencang. Membuat Nadia yang tengah bergelung dengan selimutnya mengeliat berusaha menjangkau jam alarm yang berada di meja nakas. Setelah berhasil menjangkaunya, Nadia hanya mematikan alarm itu. Lalu kembali berbaring. Matanya kembali terpejam
"Nadia"
"Nad, bangun" Mama menepuk pelan bahu Nadia.
Nadia menggeliatkan badannya. Matanya menyipit silau karena mamanya membuka tirai jendela "Egghh"
"Cepet bangun. Udah siang ini" ujar mama memberi tahu. Lalu pergi dari kamar Nadia
Nadia menyingkap selimut yang dipakainya, lalu berjalan kearah kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama, Nadia sudah siap dengan setelan seragam sekolahnya. Menuruni anak tangga sembari menenteng tas. Terlihat buru-buru setelah melihat jam tangannya.
"Suruh siapa alarm bunyi cuma di matiin doang. Telat kan" celetuk mama ketika Nadia sudah sampai di tangga terakhir
Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu mendekati mamanya yang sedang melahap sandwich. Ada satu sandwich berada di salah satu piring. Yang Nadia yakini itu untuknya.
Nadia mengambil sandwich itu, lalu melahapnya. Menegak susu hangat, lalu meletakkan gelasnya. Dan Nadia melakukannya dalam keadaan berdiri. Membuat mamanya memperhatikan tanpa berbicara.
"Nadia berangkat dulu" pamit Nadia dengan mulut yang penuh dengan sandwich. Tangannya terulur untuk mencium punggung tangan mamanya
Mama menyodorkan tangannya lalu mencium pipi anak perempuannya itu "hati-hati dijalan. Ini mama buat sandwich buat makan siang kamu" mama memberikan kotak bekal kepada Nadia
Nadia menatap kotak bekal yang diberikan mamanya. Sebenarnya ia masih ingin berbicara banyak dengan mamanya. Tapi waktunya tidak sempat. Nadia hanya tersenyum kearah mamanya. Lalu berlalu dengan terburu-buru keluar rumah. Menghampiri supir pribadi keluarganya yang sudah duduk di kursi pengemudi.
"Eh eh eh, kepimen kie" (eh eh eh kenapa ini) ucap Yudi dengan logat ngapaknya
Mobil yang dijalankan mang Yudi berjalan lambat. Lalu mang Yudi mematika mesin mobil. Dia melihat kearah Nadia yang menunjukan wajah bingung
"Non, saya cek dulu sebentar ya" izin mang Yudi
Nadia mengangguk mengizinkan "jangan lama-lama ya, Mang" ujarnya yang bolak-balik melihat ke arah jam tangannya
Mang Yudi keluar dari mobil. Dan terlihat mengeluh. Memberi tahu pada Nadia jika ban mobilnya bocor. Sedangkan bengkel tidak ada yang berada di dekat mereka. Nadia makin mengeluh.
"Saya ganti ban mobilnya dulu ya, non. Cuma sebentar kok" ujar mang Yudi
"Janji sebentar ya, mang. Saya sudah kesiangan ini"
"Iya non. Saya usahakan" jawab mang Yudi
Mang Yudi sudah berkutat dengan alat untuk mengganti ban mobil yang bocor itu. Sedangkan Nadia semakin gelisah. Bel masuk sebentar lagi. Disaat Nadia sedang bingung dengan apa yang akan dilakukannya, seorang lelaki pengendara sepeda motor berhenti di samping mobilnya. Berpakaian putih abu-abu dan kepalanya memakai helm full face
__ADS_1
"Mobilnya kenapa, Pak?" tanya orang itu turun dari motornya dan membuka kaca helmnya
Mang Yudi melihat ke arah lelaki itu "ban mobilnya bocor mas. Mana udah siang lagi"
Nadia membuka pintu mobil, menghampiri mang Yudi "mang, masih lama ya?"
Ucapan Nadia membuat lelaki itu menoleh kearah Nadia "aduh, sepertinya masih lama, non" ujar mang Yudi memberi tau
Nadia mengaduh sembari mengusap mukanya kasar "ikut gue aja, Nad" celetukan lelaki itu membuat Nadia mengalihkan pandangan Nadia kearah lelaki itu
Lelaki itu melepas helmnya, membuat Nadia menautkan alisnya "lo"
"Gimana? Mau nggak?" tanya Karel
Ya, lelaki itu Karel. Yang sering menunggu Nadia di koridor sekolah
Nadia diam. Menimang-nimang tawaran Karel "udah siang juga" lanjut Karel
"Yaudah deh kalo lo nggak mau. Gue duluan" ucap Karel final. Karena tidak mendapat jawaban dari gadis dihadapannya itu
Karel memakai lagi helmnya, lalu menaiki motor gedenya. Sebuah tarikan di ranselnya, membuat Karel menoleh. Dibalik helm yang dipakainya, Karel tersenyum kemenangan
"Gue ikut" ujar Nadia setelah lama berpikir
Nadia diam lagi. Melihat ke arah bawah. Kearah rok yang dipakainya. Paham dengan pandangan Nadia, Karel turun dari motornya dan melepaskan jaket yang dipakainya, menyodorkan ke Nadia
"Ini pake. Buat nutupin"
"Thanks" Nadia menerima jaket Karel.
Nadia naik ke jok belakang. Bertumpu pada pundak Karel yang sudah menyalakan motornya. Setelah sudah duduk di jok, Nadia menutup pahanya yang agak terlihat dengan jaket milik Karel. Lalu Karel mulai menjalankan motornya. Menjalankan dengan kecepatan yang lumayan kencang
"Nad, pegangan. Gue mau ngebut. Udah telat kita" ucap Karel agak teriak
'Dih modus' batin Nadia. Ia tidak menjawab ucapan Karel. Tapi Nadia memegang ransel yang digendong oleh Karel
Tiiinnnn
Karel menelakson satpam yang akan menutup gerbang. Motor Karel sudah memasuki area parkir sekolah. Di parkiran sudah ada Arman dan Dito yang duduk di atas motornya masing-masing. Memandang terkejut ke arah Karel yang baru saja datang
"Lah, mereka kok bisa barengan berangkatnya" tanya Dito kepada Arman yang juga dibuat bingung
__ADS_1
Arman mengedikkan bahunya "masa iya, cewek es itu udah cair"
"Tau. Kesambet apa tuh cewe"
"Apa si Karel ngelakuin aneh-aneh sama si Nadia ya?" Arman mengungkapkan apa yang ada di pikirannya
"Mana ada" jawab Dito
Disaat Arman dan Dito sibuk dengan perdebatan keduanya, Karel datang kearah mereka dengan wajah berseri. Lalu merangkul bahu Arman dan Dito
"Istirahat nanti, lo berdua, gue traktir"
Mendengar kalimat sakral itu, Arman dan Dito memandang Karel dengan wajah berseri juga. "Sepuasnya ya" tawar Dito
"Sepuasnya" jawab Karel. Membuat Arman dan Dito bertos ria. Uang jajan mereka akan utuh hari ini
Arman berdiri dari duduknya "Lo utang cerita sama kita"
Karel berdecak "gampang. Gue ceritain di kantin pas istirahat"
"Lo tau nggak, si Arman mikirnya lo aneh-aneh ke dia" turur Dito kepada Karel
Karel terkekeh mendengarnya. Arman sekarang sudah menempeleng pelan kepala Dito "jangan bilang juga ke orangnya dodol"
"Yee, gue mah jujur orangnya" jawab Dito santai
"Nggak gitu juga, bangke"
"Ah, seba salah aing teh, kek Raisa" Dito seolah-olah mengibaskan rambut seperti perempuan
"Jiji gue liatnya" sekarang gantian Karel yang menempeleng kepala Dito
Arman terbahak "anjiir geli gue bayangin Dito ngondek"
Karel ikut terbahak membayangkan apa yang Arman katakan. Keduanya terbahak bersama sembari berjalan menuju kelas. Meninggalkan Dito di yang duduk dengan muka sebal
"Astaghfirullah. Maapin Baim ya Allah" ujar Dito mendramatisir suasana. Lalu menyusul kedua temannya itu yang sudah berjalan meninggalkannya
"Dasar temen nggak ada akhlak ya gitu. Main tinggal aja"
"Udah tau gue jomblo, masih aja suka ditinggal sendirian"
__ADS_1
Dito menggerutu saat berjalan. Memang sudah nasib Dito yang kurang beruntung.