
Aku tak lagi mengejar dan aku juga tak lagi memirkannya. Hari-hari ku bukan untuk di tangisi dan ratap setiap waktu.
Sebab riuh rindu bukan lagi ukuran. Aku masih harus berjalan sampai waktu yang ditentukan.🥀
Hidup adalah perjuangan. Hidup juga serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan tolak mereka yang datang dan menyakitimu karena itu hanya akan berakhir luka dan penyesalan. Biarkan realita menjadi realita. Biarkan semua mengalir dengan alami dengan sendirinya. Itulah kenapa sering kali kita mengucapkan "tidak apa-apa" padahal kenyataanya adalah sebaliknya. Ya, karena menceritakan pada orang lain juga tidak akan merubah apapun.
Jika dia bukan untukmu, relakanlah. Sebab ketidakrelaanmu melepasnya, hanya akan menghambat dan menggerogoti kebahagiaan yang sudah seharusnya engkau terima. Berhentilah berlarut dalam kesedihan, Tuhan punya cara lain perihal kebahagiaan.
Julian melihat Yuni yang seketika berhenti dan sedang memikirkan sesuatu, "Ada apa, Yun?"
Yuni tampak kaget karena berkutat dengan pikirannya sendiri, "Ngga apa-apa, Pa," jawab Yuni lalu kembali menyantap makanannya.
"Makan daging ini, rasanya enak." Julius memberikan potongan daging ayam yang sudah dipisahkan daging dari tulangnya pada Yuni.
Yuni merasa tersentuh. Karena ayahnya sudah kembali seperti dulu, "Makasih, Pa."
Ma, seandainya Mama disini juga... Bahagia di sana, Ma, batin Yuni merasa lega dan bahagia lebih dari sebelumnya.
Viki dan Gio sudah selesai makan dari tadi. Mereka pergi mengambil barang-barang Yuni di mobil Rangga yang di bawa dari rumah sakit.
"Mereka berdua makannya cepet amat," ucap Fabian yang masih menikmati puding cokelat.
"Cara makan mereka seperti lari om. Ngga lari maraton tetapi sprint," ucap Rangga sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Ada-ada saja kalian," ucap Fabian terkekeh lucu.
"Iya Om. Itu baru sebagian kelakuan mereka aja yang baru Om tahu, belum lagi yang lainnya," ucap Rangga lagi. Fabian hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo kaya lagi promosi barang aja. Lo juga mereknya sama kaya Viki dan Gio," ucap Aty yang menikmati puding cokelatnya.
"Beda lah, Ty," sergah Rizal.
"Apa coba?" tanya Aty.
"Gue lebih ganteng dari mereka," jawab Rizal diiringi senyum menggoda ke arah Aty.
"Ngaku aja Lo. Gimana Yun, gue ganteng ngga?" tanya Rizal pada Yuni.
"Ganteng kok," jawab Yuni.
"Aty, itulah jawaban jujur dari mata seorang perempuan," ucap Rizal puitis.
"Terus maksud Lo, gue bukan perempuan gitu?" Aty dengan suara khasnya dan mata menatap Rizal.
__ADS_1
"Bagi gue, Lo bukan perempuan. Tapi melebihi perempuan sehingga suara dan mata Lo ngga bekerja layaknya seorang perempuan," ucap Rizal yang langsung mendapat tawa dari Yuni, Fabian dan juga Julius. Aty tidak merespon dan kembali memakan pudingnya.
"Aty seorang sahabat terbaik gue. Pandangannya berbeda dari yang lain, tapi itu justru yang membuatnya unik. Gue bersyukur punya sahabat kaya dia," ucap Yuni tulus.
Aty yang mendengar itu nampak sumringah, "Dengar tu, Zal. Perempuan cantik belum tentu sebaik gue," ucap Aty bangga.
"Inner beauty yang dicari oleh para lelaki sekarang ini. Percuma cantik tapi akhlaknya buruk," ucap Gio yang baru masuk sambil membawa tas milik Yuni.
"Karena kecantikan tidak mampu menggoda malaikat di pintu neraka nanti," tambah Viki yang sudah duduk di samping Aty.
Aty dan Yuni yang mendengar perkataan Gio dan Viki tersenyum ceria. Terutama Aty yang merasa dibela oleh mereka.
"Benar apa yang dikatakan oleh nak Gio dan nak Viki. Carilah, seleksilah... jangan terlena dengan rupa. Karena itu tidak akan menjamin kebahagiaan kelak. Om sudah merasakannya, penyesalan selalu datang terlambat," ucap Julius lirih. Yuni yang melihat papanya, meraih tangan dan tersenyum tulus. Memberikan kekuatan pada papanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
🍁🍁🍁
Terima Kasih kepada Pembaca Setiaku..
Jangan lupa Vote, Like dan Rate yah
Kritik dan Saran bisa di kolom komentar
I Love You❤
__ADS_1