
Sepulang sekolah, Pak Andi menyuruh Nadia dan Karel untuk datang ke ruangannya. Setibanya Nadia di ruangan Pak Andi, terlihat Karel sedang berbincang dengan Pak Andi
"Permisi pak" ujar Nadia yang berada di depan pintu, membuat kedua orang yang tengah berbincang mengalihkan oandangan ke arahnya
"Masuk, Nadia" Pak Andi mempersilahkan
Pak Andi berdehem, memulai pembicaraan "saya meminta kalian kesini untuk membicarakan perihal olimpiade itu"
"Ini modul, berisi kisi-kisi, materi, dan pembahasan soal-soal yang diprediksi akan keluar pada saat olimpiade nanti" ujar Pak Andi sembari menyerahkan dua modul, satu untuk Nadia, dan satu untuk Karel
Karel dan Nadia membuka dan membaca sekilas modul yang diberikan Pak Andi "saya ingin, kalian bisa bekerja sama dengan baik"
"Pasti pak" ucap Karel yakin
"Kalian bisa mulai mempelajari materi di modul itu. Saya sarankan, agar kalian belajar bersama. Agar bisa saling membantu jika ada soal yang sulit" Pak Andi memberi nasehat
Nadia hanya diam mendengarkan setiap arahan yang diberikan Pak Andi 'tambah sering sama dia ini mah' batin Nadia. Ia menggaruk alisnya, pusing
Baru saja kemarin dia sudah bebas tanpa gangguan Karel, tapi sekarang, Nadia harus menghabiskan waktu belajar bersama dengan Karel, dalam kurun waktu yang terbilang lama
Setelah urusan dengan Pak Andi selesai, dan membuahkan hasil jika Pak Andi akan membahas materi dua hari sekali. Itupun juga untuk mengevaluasi jawaban untuk latihan soal yang dikerjakan oleh Karel dan Nadia.
Karel berjalan beriringan dengan Nadia menuju gerbang sekolah. Sekolah sudah terlihat sepi. Pasalnya bel sekolah sudah berbunyi 15 menit yang lalu
"Gimana kalo gue kerumah lo buat belajar setelah maghrib nanti?" ujar Karel
"Harus sore ini?" tanya Nadia, pandangannya masih kearah depan
Karel mengangguk "lo nggak denger apa kata Pak Andi tadi?"
"Terserah lo" Nadia memutar matanya malas
Karel tersenyum lebar "oke gue nanti kerumah lo"
"Lama banget sih. Lumutan nih gue" cetus Dito
Dito, Arman, dan Dita ternyata menunggu Karel dan Nadia di gerbang sekolah. Dita duduk di jok belakang motor Dito. Sedangkan Arman duduk di motor miliknya
"Lebay lo" tonyor Karel di kepala Dito
"Gimana? Udah selesai urusannya?" Arman mengganti topik pembicaraan
Karel dan Nadia mengangguk mengiyakan. "Terus gimana?" tanya Dita mengarah pada Karel dan Nadia
Nadia melirik Karel dengan wajah malasnya "Rel?" Dita mengangkat sebelah alisnya meminta jawaban
"Dapet modul tadi, terus di dibagi jadwal buat jam tambahan" jawab Karel dengan tersenyum bahagia
Takk
Satu jitakan mulus diberikan di kepala Karel dari Arman "biasa aja tuh muka. Gurang banget"
Karel tercengir kearah Arman "iya dong. Kan ada Nadia" jawab Karel sembari merangkul bahu Nadia disebelahnya
Kreekk
"Aduuhhh" teriak Karel sembari memegangi kakinya
Secara reflek, tangan yang merangkul bahu Nadia terlepas "rasain lo" maki Nadia
__ADS_1
Dito, Arman, dan Dita tertawa terbahak mendengar makian Nadia yang terlontar untuk Karel. Nadia yang tadi menginjak dengan keras kaki Karel. Membuat Karel mengaduh kesakitan sembari memegangi kakinya yang terasa ngilu
"Mangkanya, jangan sok deket" ujar Dito yang masih terbahak keras
"Mamam noh"
"******. Sok akrab banget"
Makian itu bertambah untuk Karel dari ketiga temannya itu. Membuat Karel berdecak sebal 'nggak ada yang bantuin gue gitu' batinnya kesal
"Aduh aduh sakit perut gue *****" Arman memegang perutnya yang terasa kram akibat terlalu lama tertawa
Dito ikut menceletuk "Nadia kalo ngelawak nggak kira-kira"
Dita mengangguk menyetujui "harusnya tadi lo sekalian jambak, Nad"
Arman, Dita, dan Dito memprovokatori Nadia. Membuat Karel makin memberengutkan wajahnya
"Gue pulang duluan" ujar Nadia, lalu berjalan kearah Mang Yudi yang sudah menunggu dimobil "hati-hati, Nad" ucap Dita agak teriak, yang dijawab Nadia dengan acungan jempol
Dito merangkul bahu Karel "bro-bro, kasian gue liat lo" lalu Dito terkekeh
"Kalem aja, Rel. Namanya juga perjuangan" Arman menepuk Bahu Karel
"Gue yakin lo bisa bikin Nadia suka sama lo, Rel" Ujar Dita memberi dukungan
"Nggak papa lah kaki gue keinjek kayak tadi. Yang terpenting sekarang, gue bisa lebih deket sama Nadia berkat olimpiade itu" Karel tersenyum kemenangan
Dita mengernyitkan dahinya bingung "maksudnya?"
"Iya, gue bakalan banyak ngehabisin waktu bareng Nadia"
"Halunya tingkat dewa lagi" Arman menambahi
Karel mengusap wajahnya kasar "gue nggak halu. Orang gue sama Nadia disuruh belajar bareng"
"What the--" secara serempak, Dito, Dita, dan Arman tercengang mendengar penuturan Karel
"Mingkem. Ntar ada laler masuk" Karel terbahak melihat wajah konyol teman-temannya itu
"Asli. Lo kudu traktir kita sepuasnya" celetuk Dita
Dito mengangguk semangat "Nah. Bagus itu. Harus"
"Harus, Kudu Wajib" tambah Arman
Karel menaik-turunkan alisnya "gampang lah. Yaudah lah. Pulang yuk"
Keempatnya meninggalkan area sekolah dengan motor masing-masing. Dita membongceng motor Dito
******
"Nadia" teriak mama dari lantai bawah
"Nadia, ada temen kamu ini. Bangun cepet" mama kembali berteriak nyaring"
Yang dipanggil tidak sama sekali bergerak dari tidurnya. Ya, Nadia sekarang sedang tidur. Sepulang sekolah tadi Nadia langsung tidur
"Nanti ya, tante bangunin Nadia dulu. Kamu duduk dulu aja ya" ujar mama pada seseorang yang baru saja datang itu
__ADS_1
Mama menarik selimut yang membalut tubuh Nadia "ya ampun, anak perawan udah sore belum bangun"
Nadia mengeliatkan tubuhnya sembari bergumam "Nghhh"
"Cepet bangun. Ada temen kamu itu dibawah" sekarang mama menarik tangan Nadia agar bangun
"Ah mama mah. Nadia masih ngantuk"
"Kasian itu temen kamu"
"Disuruh pulang aja lah ma"
Nadia sudah duduk menyandar pada sandaran ranjang, masih memejamkan matanya. "Ck. Kamu itu. Jangan kayak gitu. Cepet bangun"
Mama menarik tangan Nadia agar berdiri, lalu mendorong pelan badan Nadia memasuki kamar mandi. Memerintahkan Nadia untuk membasuh wajahnya agar matanya terbuka
"Ganti baju sekalian. Terus turun, temuin temen kamu. Kasian udah nunggu kamu lama" omel mama pada Nadia, lalu mama meninggalkan kamar putrinya itu
Nadia memberhentikan langkahnya di ujung tangga, melihat cowok yang selama ini mengganggunya sedang terduduk manis di ruang tamu
"Samperin sana. Malah bengong disini"
Tiba-tiba mama muncul dari arah dapur. Diikuti bi Inah dibelakangnya yang sedang membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan
Mau tidak mau Nadia berjalan mendekati Karel yang sibuk dengan ponselnya. Mama berjalan dibelakang Nadia
"Diminum dulu, den" ujar bi Inah meletakan minuman dan makanan ringan itu
Karel tersenyum kearah bi Inah sembari mengangguk "iya, bi. Makasih lho"
Bi Inah kembali menuju dapur. Mama dan Nadia sudah duduk di salah satu sofa dekat Karel
"Kamu kok nggak pernah cerita kalo kamu jadi partner Karel di olimpiade nanti?" tanya mama pada Nadia
"Nggak penting ma" jawab Nadia singkat
"Lho ya penting dong. Mama jadi nggak khawatir"
"Iya deh iya" ujar Nadia mengalah
Mama tersenyum kearah Karel "Nadianya udah ada. Mulai aja belajarnya, Karel"
Karek mengangguk sembari tersenyum "iya tante"
"Yaudah, tante tinggal ya" mama sudah berdiri dari duduknya
"Iya tante"
"Nadia, belajar yang bener" omel mama
Nadia menjawab dengan malas "iya mamaa"
Mama sudah meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Terdengar Kar yang terkekeh pelan. Membuat Nadia memandang tak suka
"Kenapa lo" sungut Nadia
"Nggak. Lucu aja liat lo diomelin terus" kekeh Karel sembari mengeluarkan beberapa buku
Nadia berdecak. Lalu ikut membuka modul yang diberikan Pak Andi. "Lo ngerjain latihan soal KD.1, gue ngerjain KD.2. Oke" ujar Karel membagi tugas
__ADS_1
"Hmm" Nadia hanya bergumam sebagai jawaban. Keduanya sudah sibuk dengan bukunya masing-masing. Bergelut dengan rumus-rumus memusingkan