
Narendra tersenyum puas , Karena akhirnya Wira bertekuk lutut padanya .
Narendra menoleh kearah Lux , dia kemudian memberikan perintah " Lux ,awasi keluarganya , jika dia berani macam - macam aku akan menghubungimu langsung untuk menghabisi keluarganya !" Narendra melemparkan dompet Wira untuk melacak keberadaan anak dan istrinya.
" Baik Tuan !" setelah menerima dompet tersebut, Lux langsung pergi menjalankan tugas.
" Jony ,bawa beberapa orang , Bantu Wira dan lindungi dia sampai misi kalian berhasil untuk menangkap Felix dan komplotannya !" Ucap Narendra tegas.
" Siap Tuan !!" Jony langsung menjalankan perintah juga , dia menghubungi beberapa orang yang biasa bekerja sama dengannya.
Narendra berjongkok kembali menatap Wira " kuberikan kamu satu kesempatan untuk menebus kesalahanmu , Bawa orang yang telah menyuruhmu di hadapanku , jika kamu berhasil aku berjanji akan melepaskan kamu dan keluarga kamu !" Narendra berkata dengan tegas.
Wira menatap Narendra " apa aku bisa memegang omonganmu ?" Tanya Wira ragu.
Narendra tersenyum " kamu tenang saja , aku bukan tipe orang yang suka menarik kata - kataku , tapi itu terserah kamu kalau tidak percaya , Karena mau bagaimanapun nyawa istri dan anakmu ada di tanganku " Ucap Narendra santai.
Wira marah , tapi dia sadar jika ucapan Narendra ada benarnya , untuk itulah Wira akhirnya setuju dengan rencana Narendra.
Narendra kemudian menyuruh Jony untuk melepaskan borgol Wira , Narendra menyuruh Wira duduk di sofa untuk membahas Rencanya.
Wiradi dan Jony mendengarkan dengan seksama , Mereka sedikit terkejut saat mendengar jika Felix dan Roger bersembunyi di ruang rahasia di bawah tanah.
" Pantas saja kami mencari mereka kemanapun tidak ada jejak sama sekali " Ucap Wiradi mengangguk mengerti.
Jony kemudian buka suara " jika mereka bersembunyi di bawah tanah, Lantas bagaimana kita masuk kesana tanpa ketahuan ?"
__ADS_1
" Boleh saya meminta Bolpoin dan Kertas kosong " Ucap Wira sopan.
Narendra menganggukan kepalanya, dia memanggil Bi Edah untuk menyiapkan Bolpoin dan Kertas kosong untuk Wira.
Tak berselang lama , Bi Edah datang dengan Tari , Bi Edah mendorong kursi roda yang di duduki Tari , sementara kertas dan Bolpoin yang memegang Tari.
" Ini pih, ngomong - ngomong mau buat apa yah ?" tanya Tari penasaran, sambil menyerahkan kertas kosong dan Bolpoin.
Narendra tersenyum " Mamih lihat saja , nanti uga mengerti "
Wira yang melihat Tari duduk di kursi roda , entah kenapa dia merasa bersalah , dia berpikir jika itu istrinya bagaimana dia akan menanggapi ,apakah dia mampu seperti Narendra memaafkan dia begitu saja.
Wira menatap Narendra dan Tari , keduanya terlihat masih memiliki bekas luka di bagian wajah akibat goresan kecelakaan Mobil waktu itu.
Hati Wira sedikit bergetar , pasalnya dia melihat jika Narendra begitu menyayangi Tari , tapi mengapa Narendra mampu memaafkannya , pertanyaan tersebut terus berputar di benak Wira.
Wira tersedar, dia tersenyum kecut kemudian mengambil *** poin dan Menggambar peta ruang bawah tanah milik Roger, Walaupun dia baru sekali masuk kesana , tapi kurang lebih dia sudah sedikit mengetahui denah lokasi pasti ruangan bawah Tanah Roger.
Sambil menggambar Peta tersebut, Wira berbicara dengan sopan " Tuan Narendra apa saya boleh bertanya ?"
Narendra mengerutkan keningnya " bertanya apa ?" jawab Narendra datar.
" Kenapa anda membuat pilihan untuk saya , padahal anda bisa saja melakukan apapun yang anda mau tanpa memberikan kesempatan untuk saya yang sudah melukai keluarga anda " Wira berhenti menggambar dan menatap Narendra ,dia ingin memastikan ekspresi wajah Narendra saat memberinya jawaban.
Narendra menghela napas " tidak ada alasan kusus , aku hanya tidak suka memiliki musuh , karena bagiku memiliki banyak teman lebih bagus daripada harus memiliki seorang musuh , iya kan mih ?" Narendra Menatap istrinya dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Tari balas tersenyum pada suaminya " yah seperti itulah hidup kita dari dulu , walaupun sering di hina tapi kamu selalu mencoba untuk tidak mencari musuh dan menghindari masalah "
Wira melihat kesungguhan pada nada bicara pasangan suami istri tersebut , dia tersentuh dengan ketulusan mereka , walaupun mereka telah di celakan oleh dia tapi tidak tersirat sedikit kebencian padanya dan ingin membalas dendam.
Wira tersenyum " Maaf... " hanya satu kata yang di ucapkan Wira dia kemudian melanjutkan Menggambar denah lokasi tampat Roger dan antek - anteknya berada.
Wiradi yang sudah sedikit mengenali gamabaran Wira, dia buka suara " apakah itu Tower Ligth kota Weston ?" tanya Wiradi pada Wira.
Wira mengangguk " anda benar , di bawah Tower Ligth markas mereka berada , merrka keluar masuk dari Hutan Huarias ,disana ada sebuah gua pintu masuk , tapi harusnya dari Tower ligth kita bisa mencari jalur pembuangan untuk memasuki Markas bawah tanah mereka "
Jony buka suara " apa kamu tidak mencoba untuk menipu kami ?" tanya Jony sinis.
Wira menggeleng kemudian tersenyum " Aku tahu kalian pasti belum percaya sepenuhnya denganku , Tapi tenang saja saya tidak akan membohongi kalian , jika kalian tidak percaya , kalian bisa menyelidikinya lebih dulu "
" tidak perlu , aku percaya padamu " ucap Narendra tegas.
Jony tidak setuju " tapi Tuan.. bukankah kita lebih baik mengecek kepastiannya terlebih dahulu "
Narendra menggeleng " untuk apa dia berbohong jika nyawa keluarganya ada di tangan kita ?" Narendra memperlihatkan Foto terbaru Lux yang sudah ada di tempat anak dan istri Wira.
Wira sedikit terkejut , pasalnya hanya setengah jam saja anak buah Narendra sudah menemukan tempat Anak istrinya .
Narendra menatap Wira " apa aku bisa memegang ucapan Kamu Wira ?!" tanya Narendra tegas.
Wira mengangguk Mantap " Tentu saja Tuan , saya tidak ada maksud untuk membohongi anda sama sekali " jawab Wira percaya diri.
__ADS_1
Narendra mengangguk mengerti , dia kemudian menyuruh Wira untuk memberitahu rencananya , Wira dengan senang hati memberikan beberapa rencananya , Wiradi dan Jony mulai sedikit percaya , pasalnya Rencana Wira semuanya sangat masuk akal , mereka pun akhirnya mau bekerja sama dengan Wira untuk menangkap Roger dan antek - anteknya..
...